Top 3 News: Reaksi Novel Baswedan Dituduh Rekayasa Kasus Penyiraman Air Keras

Oleh Liputan6.comAdy AnugrahadiMaria Flora pada 10 Nov 2019, 07:02 WIB
Diperbarui 10 Nov 2019, 07:02 WIB
Peringatan 500 Hari Penyerangan Novel Baswedan Digelar di KPK
Perbesar
Novel Baswedan bersama Wadah Pegawai (WP) KPK memperingati 500 hari penyerangan terhadap dirinya di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/11). Penyidik senior KPK itu diserang dengan air keras pada 500 hari lalu. (Merdeka.com/Dwi Narwoko)

Liputan6.com, Jakarta - Top 3 news hari ini, kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memasuki babak baru. Politikus PDIP, Dewi Tanjung menyebut, Novel telah merekayasa kasusnya untuk menyita perhatian publik.

Sementara, Novel sebagai pihak terlapor menilai, apa yang dilakukan Dewi sebagai tindakan ngawur dan hanya mempermalukan diri sendiri. 

Karena banyak bukti yang menunjukkan bahwa dirinya menjadi korban penyerangan menggunakan air keras oleh orang tak dikenal. Ditambah lagi adanya rekam medis.

Berita lainnya yang tak kalah menyita perhatian datang dari kawasan parkir Monumen Nasional (Monas). Ada apa di sana? Sebuah mobil BMW berwarna abu-abu teronggok di salah satu pojokan parkiran dan dibiarkan berkarat.

Menurut kabar BMW tersebut telah ada di sana selama 4 tahun dan tidak diketahui siapa pemiliknya. Jika sewaktu-waktu pemilik mobil ingin mengambil kembali, dia tidak akan dikenakan biaya parkir, tapi cukup membayar biaya derek. 

Berikut berita terpopuler di kanal News Liputan6.com, sepanjang Sabtu, 9 November 2019:

2 dari 5 halaman

1. HEADLINE: Teror Air Keras Novel Baswedan Disebut Rekayasa, Opini Lemahkan KPK?

Peringatan 500 Hari Penyerangan Novel Baswedan Digelar di KPK
Perbesar
Wadah Pegawai (WP) KPK saat memperingati 500 hari penyerangan terhadap Novel Baswedan di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/11). WP KPK mendesak Presiden Joko Widodo menyelesaikan kasus-kasus penyerangan terhadap aktivis. (Merdeka.com/Dwi Narwoko)

Novel Baswedan kembali dirundung masalah. Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu dituding merekayasa serangan air keras yang menimpa dirinya pada 11 April 2017 lalu.

Adalah Dewi Ambarwati alias Dewi Tanjung yang melaporkan Novel Baswedan ke Polda Metro Jaya. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menduga, Novel telah merekayasa kasusnya hingga menyita perhatian publik.

Apa yang dikatakan Dewi menurut Ketua Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) merupakan bentuk kriminalisasi dan serangan terhadap Novel Baswedan. Sama seperti yang selama ini dilakukan pendengung atau buzzer, politikus, tokoh, dan orang-orang yang tidak suka dengan KPK.

Lantas, apa tanggapan Novel Baswedan saat dirinya dituding merekayasa serangan air keras oleh Dewi Tanjung?

 

Selengkapnya...

3 dari 5 halaman

2. Mobil BMW Ini Sudah 4 Tahun Terparkir di Kawasan Monas, Pemilik Tak Diketahui

Sejumlah mobil rusak teronggok di pojok kawasan parkir Monas. (Merdeka.com/Tri Yuniwati Lestari)
Perbesar
Sejumlah mobil rusak teronggok di pojok kawasan parkir Monas. (Merdeka.com/Tri Yuniwati Lestari)

Sejumlah mobil rusak teronggok di pojok kawasan parkir Monumen Nasional (Monas), salah satunya mobil buatan Eropa, BMW berwarna abu-abu. Mobil-mobil ini sudah lama tak diambil pemiliknya.

"Yang BMW dan yang warna Biru itu sudah 4 tahun, dari saya masuk sudah ada," ujar anggota Dishub DKI Jakarta, K Wattimena di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (9/11/2019).

Menurut dia, mobil-mobil ini ditinggal pemiliknya begitu saja di lapangan parkir Monas, sehingga menghalangi mobil yang ingin parkir.

Wattimena mengatakan bila pemilik mobil tersebut ingin mengambil kembali mobilnya tidak dikenakan biaya parkir.

 

Selengkapnya...

4 dari 5 halaman

3. Anies Baswedan Tidak Hadiri Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Monas

Majelis Rasulullah SAW memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad di Monas. (Merdeka.com/Tri Yuniwati Lestari)
Perbesar
Majelis Rasulullah SAW memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad di Monas. (Merdeka.com/Tri Yuniwati Lestari)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dijadwalkan menghadiri tabligh akbar itu. Namun, hingga acara selesai, Anies tak muncul.

Dewan Syuro Majelis Rasulullah SAW, Habib Nabiel Almusawa mengatakan, Anies Baswedan tidak bisa hadir dikarenakan memiliki agenda yang tidak bisa ditinggal.

"Jadi Pak Anies Baswedan dan Pak Kapolda hari ini berhalangan. Jadi biasanya kami mengundang Kapolda dan Gubernur, tapi kebetulan Pak Gubernur ada acara yang tidak bisa ditinggal," ujar Nabiel di Monas, Jakarta, Minggu (9/11/2019).

Lantas, apa tujuan diselenggarakannya Maulid Nabi di kawasan Monas?

 

Selengkapnya...

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓