Kisah Nenek Sapiah, Hidup Sebatang Kara dalam Kemiskinan di Bekas Kandang Ayam

Oleh Rita AyuningtyasYandhi Deslatama pada 08 Nov 2019, 15:27 WIB
Nenek tinggal di bekas kandang ayam

Liputan6.com, Jakarta - Berdiri menopang tubuhnya saja sulit dilakukan Sapiah, nenek 90 tahun yang hidup dalam kemiskinan di bekas kandang ayam di Kampung Cidadap Pasir, RT 01 RW 03 Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok, Kota Serang Banten. Ya, selama bertahun-tahun sudah dia tinggal sendiri di bekas kandang ayam tersebut.

Itupun, bukan miliknya.

'Rumahnya' itu hanya terbuat dari tripleks tipis yang ditutupi spanduk bekas. Tak ada keramik mengkilat sebagai alasnya. Yang ada hanyalah tanah. 

Sementara, selembar seng melindunginya dari teriknya sinar matahari. Namun, atap ini tak mampu melindunginya dari hujan. Bagaimana tidak? Seng tersebut sudah berlubang.

 

Tempatnya berlindung itu hanya berukuran 1,5x1,5 meter dan menempel di rumah milik Rohiyah (52).

Rohiyah menuturkan, nenek Sapiah hidup sebatang kara. Tak ada suami atau anak untuk menemani hidupnya. Selama ini, Rohiyah lah yang mengurus Sapiah.

Untuk buang besar dan kecil, Sapiah harus dibantu oleh Rohiyah. Begitu pula jika dia ingin makan dan minum. Termasuk untuk membersihkan badannya.

Menurut Rohiyah, karena sudah sepuh, pendengaran Sapiah pun sudah berkurang. Karena usia pula, nenek Sapiah meninggalkan pekerjaannya saat masih muda sebagai pemijat. Dia pun hidup dalam kemiskinan.

"Enggak punya suami, enggak punya keluarga, saudara. Kasian enggak ada yang ngurus. Saya kasih makan minum seadanya. Suami saya ngojek," kata Rohiyah, ditemui dikediamannya, Kamis 7 November 2019.

Rohiyah sendiri memiliki penghasilan pas-pasan. Oleh karena itu, dia meminta bantuan lurah setempat.

 

"Terus saya bilang ke Pak Lurah, Pak Lurah ke sini, saya bilang gimana, karena enggak punya siapa-siapa (nenek Sapiah)," ujar Rohiyah.

 

2 of 4

TNI Perbaiki Kediaman Nenek Sapiah

Nenek tinggal di bekas kandang ayam
Sapiah, nenek 90 tahun, tinggal di bekas kandang ayam di Kampung Cidadap Pasir, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok, Kota Serang Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Keluhan Rohiyah itu terdengar oleh Koramil 0227/Cipocok, Kota Serang. Rohiyah menceritakan kondisi Nenek Sapiah ke anggota Koramil yang datang melihat dan meminta dibuatkan kamar yang lebih layak.

"Alhamdulillah di sini, dari Koramil, bapak ABRI datengin ke sini, yang membangun ini dari Koramil. Kalau bisa mah pengen dibantu sama pemerintah, ya terserah pemerintah lah (apa bantuannya)," kata Rohiyah.

 

 

3 of 4

Minta Bantuan Masyarakat

Rumah nenek sapiah yang merupakan bekas kandang ayam
Bekas kandang ayam tempat tinggal Sapiah, nenek 90 tahun, di Kampung Cidadap Pasir, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok, Kota Serang Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Pihak Koramil 0227/Cipocok membenarkan telah membangun kamar yang lebih layak dibandingkan kondisi sebelumnya. Kapten CAJ (K) Ana Dahliana, selaku Danramil menjelaskan pihaknya saat itu tidak memiliki dana untuk membuatnya. Sehingga harus menggandeng dan mengajak toko material untuk bergotong royong membantu nenek Sapiah.

"Saya minta anggota saya keliling ke toko matrial untuk minta bantuan. Malu memang, tapi bagaimana lagi. Anggap saja kita membantu orangtua kita sendiri. Biar yang maha kuasa yang membalas," kata Kapten CAJ (K) Ana Dahliana, ditemui dikantornya, Kamis (07/11/2019).

4 of 4

Diperluas

Rumah nenek sapiah yang merupakan bekas kandang ayam
TNI renovasi bekas kandang ayam tempat tinggal Sapiah, nenek 90 tahun, di Kampung Cidadap Pasir, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok, Kota Serang Banten. (Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Danramil wanita satu-satunya di Banten ini menjelaskan kalau material bahan bangunan berupa semen, pasir, triplek, kayu hingga bajaringan dibantu oleh toko matrial. Kemudian yang membangun kamar nenek Sapiah dilakukan oleh prajuritnya. Bahkan keramik sebagai alas kamar sang nenek, menggunakan sisa keramik yang ada di Koramil 0227/Cipocok.

"Kita bangun ala kadarnya saja, setidaknya lebih layak dari sebelumnya. Luasnya kita tambah jadi 2,5 meter kali 1,75 meter. Karena lahannya terbatas. Kita bangun selama tiga hari," jelasnya.

Lanjutkan Membaca ↓