BNPB Sebut Luas Wilayah Terdampak Karhutla Menurun

Oleh Yopi Makdori pada 31 Okt 2019, 20:07 WIB
Diperbarui 31 Okt 2019, 20:07 WIB
Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh per Januari-Agustus mencapai 379 hektare dengan jumlah 110 kali kejadian (Liputan6.com/Aceh)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Data, Infromasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (31/10/1/2019). Menurut dia, wilayah terdampak karhutla pada tahun ini mencapai 847 ribu hektare.

"Ada rankingnya, nomor satu ini ada Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat," katanya.

Agus mengatakan, angka itu jauh lebih rendah jika dibandingkan tahun lalu. Luas wilayah terdampak karhutla pada tahun 2018 mencapai 1 juta hektare.

"Tahun kemarin satu juta, tahun 2015 2,6 juta (hektare). Jadi cukup turun jauh," ungkap Agus.

Kendati wilayah terdampak karhutla menurun, tetapi dampaknya cukup besar. Agus tidak bisa memastikan berapa total kerugian akibat bencana tersebut.

"Kita sedang proses menghitung. Kita bekerja sama dengan World Bank sedang proses menghitung dampak kerugiannya," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Titik Panas

Karhutla Kalteng
Kebakaran hutan dan lahan sempat mengancam Suaka Margasatwa (SM) Lamandau di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. (Foto: BKSDA Kalteng/Liputan6.com/Rajana K)

Luas lahan yang terbakar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 857 ribu hektare, yang teridentifikasi dari Januari hingga September 2019. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak hanya terjadi di lahan gambut, tetapi juga lahan mineral.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo mengatakan, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa luas lahan gambut yang terbakar mencapai 227 ribu hektare.

"Karhutla di lahan gambut paling besar berada di Kalimantan Tengah dengan luasan 76 ribu hektare, sedangkan di lahan mineral terjadi di Nusa Tenggara Timur, seluas 119 ribu hektare. Karhutla di lahan mineral terjadi di seluruh provinsi di Indonesia dengan luasan terdampak yang terkecil di Provinsi Banten dengan 9 hektare," kata Agus dalam keterangannya, Selasa 22 Oktober 2019.

"Data KLHK mencatat luas Karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 hektare dengan rincian lahan mineral 630.451 hektare dan gambut 227.304 hektare. Berikut ini luasan lahan terdampak baik mineral dan gambut di beberapa provinsi yang sering terjadi karhutla setiap tahunnya. Luas lahan terbakar di Provinsi Kalimantan Tengah 134.227 hektare, Kalimanan Barat 127.462 hektare, Kalimantan Selatan 113.454 hektare, Riau 75.871 hektare, Sumatera Selatan 52.716 hektare dan Jambi 39.638 hektare," sambung dia.

Berdasarkan data KLHK, total luas lahan yang terbakar hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luas Karhutla dalam tiga tahun terakhir. Karena, luas Karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu hektare, sedangkan pada 2016 sebesar 438 ribu hektare.

Sementara itu, data BNPB pada Selasa (22/10/2019), pukul 08.00 WIB, mencatat masih terjadi Karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia. Titik panas atau hot spot teridentifikasi di enam provinsi yang menjadi perhatian BNPB yaitu Sumsel 153 titik, Kalteng 44, Kalsel 23, Kalbar 5 dan Jambi 2.

"Data tersebut berdasarkan citra satelit modis-katalog lapan pada 24 jam terakhir. Masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak. Data kualitas yang diukur dengan parameter PM 2,5 mengindikasikan kualitas pada tingkat baik hingga tidak sehat," sebutnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓