Survei: Mayoritas Publik Tolak Gerindra Merapat ke Jokowi

Oleh Yopi Makdori pada 17 Okt 2019, 23:20 WIB
Diperbarui 17 Okt 2019, 23:20 WIB
Tawa Jokowi dan Prabowo di Istana Merdeka
Perbesar
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Dalam pertemuan tersebut mereka membahas permasalahan bangsa dan koalisi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga survei Parameter Politik Indonesia menyebutkan, mayoritas publik tidak menghendaki Gerindra merapat ke Koalisi Jokowi-Maruf Amin.

Data survei menunjukkan hanya 32,5 persen masyarakat yang setuju Gerindra gabung koalisi Jokowi.

"Sementara yang tidak setuju 40,5 persen," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno di kawasan Pancoran, Jakarta, Kamis (17/10/2019).

Menurut Adi, penolakan keras di suarakan secara konsisten oleh basis pemilih PDIP, Partai NasDem, Partai Gerindra, dan PKS serta anggota ormas Islam seperti PERSIS, FPI dan PA212. "Sementara basis pemilih partai lain relatif cair dan moderat," lanjut Adi.

Adi menyebutkan, publik yang menyetujui Gerindra untuk bergabung dengan Jokowi-Maruf beranggapan bahwa pilpres sudah usai sehingga tidak perlu melanjutkan perselisihan. Selain itu, bergabungnya Gerindra dapat turut membantu menguatkan pemerintahan Jokowi dalam membangun bangsa.

Sementara mereka yang tidak setuju, kata Adi, dikarenakan belum mampu menerima kekalahan saat pilpres karena menganggap Jokowi curang.

"Publik juga berharap dengan tidak bergabungnya Gerindra akan ada penyeimbang di luar pemerintah. Muncul juga data tentang ketidaksukaan antar pemilih Joko Widodo dan Prabowo," ucapnya.

Temuan tersebut berdasarkan survei yang dilakukan Parameter Politik Indonesia dalam kurun waktu 5 hingga 12 Oktober lalu. Kata Adi, populasi surveinya adalah warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih sesuai undang-undang yang berlaku.

"Sampel sebanyak 1.000 responden. Diambil dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. Dengan margin of error sebesar kurang lebih 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen," paparnya.

Ia menyebutkan bahwa pengumpulan data dilakukan dengan metode face to face interview atau bertatap muka menggunakan kuisioner yang dilakukan oleh surveyor terlatih.

"Quality control dilakukan mulai tahap pemilihan dan pelatihan SDM yang berkualitas hingga Spot Check sebanyak 20 persen data," Adi mengakhiri.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS