Pengamat: Jalur Tikus dan Oknum Petugas Diduga Permudah Narkoba Masuk Kalimantan

Oleh Ratu Annisaa Suryasumirat pada 10 Okt 2019, 06:33 WIB
Diperbarui 10 Okt 2019, 18:15 WIB
Ilustrasi narkoba

Liputan6.com, Tarakan - Badan Narkotika Nasional (BNN) membekuk empat orang pengedar sabu antar provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur bersama barang bukti 38 kg sabu asal Tawau, Malaysia. Salah satu pelaku tercatat sebagai PNS Pemkot Tarakan di Kalimantan Utara.

Dekan Fakultas Hukum Bhayangkara dan Pengamat Hukum, Slamet Pribadi menjelaskan, penyelundupan narkoba masih marak terjadi karena adanya oknum di masyarakat dan pihak petugas.

Meski aparat sudah disiapkan di daerah perbatasan untuk menghalau penyelundupan narkoba, hal itu masih saja terulang.

"Mungkin lengah atau ada kesengajaan dari oknum petugas yang pura-pura tidak tahu," tutur Slamet saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (9/10/2019). 

Mantan Kepala Bagian Humas BNN ini menilai, penyelundup biasanya juga memilih lewat jalur laut atau tikus, bukan udara. Hal ini karena jalur penerbangan udara sangatlah formal dan memiliki penjagaan ketat, sedangkan jalur tikus tak banyak diketahui orang awam. 

Selain itu, garis pantai Indonesia yang juga merupakan kedua terpanjang di dunia membuat penjagaan di perbatasan menjadi lebih sulit dilakukan. Jumlah aparat yang terbatas, serta adanya oknum di kedua pihak, turut menjadi masalah utama.

"Jalur tikus atau pelabuhan tradisional ini adalah pilihan yang paling enak bagi mereka, karena sepi pengawasan aparatur yang jumlahnya terbatas," ungkap Slamet. 

"Petugas tahu, masyarakat juga tahu (adanya jalur tikus). Karena apa, penyelundupan ini melewati jalur-jalur yang hanya masyarakat yang tahu secara faktual. Sementara, petugas itu berdasarkan perkiraan keadaan dan perkiraan situasi," imbuhnya. 

Dia menambahkan, jalur tikus untuk penyelundupan ini sendiri banyak terdapat di seluruh perbatasan di Indonesia, tak hanya di Pulau Kalimantan.

"Dalam kacamata pengalaman operasional dan ilmiah saya, hampir seluruh perbatasan. Termasuk di Papua, di Skow," ucapnya.

 

2 of 3

Solusi Tangani Jalur Tikus

Slamet menyatakan, hal yang bisa dilakukan pihak pemerintah untuk mencegah penyelundupan lewat jalur tikus adalah dengan kerja sama antar pihak. BNN terutama harus bekerja dengan pihak yang mengelola perbatasan. 

"Misalnya dengan Kemendagri, kemudian dengan Bea Cukai, kemudian dengan Imigrasi yang mengelola perbatasan-perbatasan," ucap Slamet.

Penyuluhan kepada masyarakat juga harus dilakukan agar tak ada lagi unsur kesengajaan membiarkan penyelundupan terjadi. Begitu juga dengan kerja sama kepolisian antarnegara guna mencegah masuknya narkoba ke Indonesia. 

Karena, biasanya masyarakat mudah tergoda dengan tawaran uang dari para penyelundup untuk membantu mereka meloloskan barang ilegalnya. 

"Penyelundup-penyelundup ini, narkotika atau barang-barang lain ini menggunakan uang, menggunakan situasi ekonomi ketika penduduk sekitar itu membutuhkan uang," katanya. 

"Oknum-oknum yang ada di masyarakat menerima upah seperti itu, yang oleh mereka dianggap sebagai penghasilan. Dan ini kerap terjadi sehingga oknum masyarakat itu membiarkan hal ini," Slamet mengakhiri.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓