Metro Sepekan: Cinta Majikan dan Sopir Berujung Bui hingga Polwan Diduga Terpapar ISIS

Oleh Maria Flora pada 08 Okt 2019, 07:30 WIB
Rekonstruksi Rencana Pembunuhan Suami oleh Istri dan Selingkuhannya

Liputan6.com, Jakarta - Curhatan YL sang majikan perempuan kepada sopirnya menjadi awal rencana pembunuhan terhadap suaminya, VT. Kepada Bayu, YL bercerita soal rumah tangganya. Dia pun menduga VT telah berselingkuh.

Hal inilah yang kemudian tercetus untuk membunuh korban yang merupakan pengusaha di bidang teknologi informasi. Cinta terlarang YL dan Bayu berawal dari kedekatan mereka dalam sebuah event yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, sekitar akhir 2018.

Kala itu, Bayu menjadi penyelenggara, sementara YL salah satu pesertanya. Jalinan komunikasi yang terbilang intens memunculkan rasa suka di antara keduanya. 

Polisi menyebut pembunuhan berencana di Kelapa Gading, Jakarta Utara itu dengan pelaku YL dan Bayu terinsipirasi pembunuhan di Jakarta Selatan yang melibatkan Aulia Kesuma.

Jika Aulia memilih membakar jasad suami dan anak tirinya, kedua tersangkan memilih membunuh VT dengan sianida.

Sementara itu, dari pelantikan anggota DPR, MPR dan DPD pada Selasa, 1 Oktober 2019 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, hangat dibicarakan soal sikap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang melewati Ketum Nasdem Surya Paloh saat bersalaman.

Dalam video yang viral tersebut, Mega juga melewati Ketua Kogasma, Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Terkait hal ini, Ketua DPP Nasdem Martin Manurung menilai Megawati tidak sengaja melewati Surya Paloh. Dan menurutnya hal tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Lantas, bagaimana tanggapan Surya Paloh?

Surya Paloh menegaskan bahwa hubungan dirinya dengan Megawati yang telah terjalin selama 40 tahun tidak pernah ada masalah. Dia mengaku tidak mengaku tidak masalah personal dengan Megawati.

Lalu, seperti apa tanggapan Polri terkait polisi wanita (polwan) bernama Bripda Nesti Ode Samili yang diduga terafiliasi dengan paham ISIS? 

Berikut ulasan berita-berita metro yang paling banyak dicari pembaca Liputan6.com selama sepekan lalu:

 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 of 5

Cinta Terlarang Majikan dan Sopir Berakhir di Bui

Rekonstruksi Rencana Pembunuhan Suami oleh Istri dan Selingkuhannya
Tersangka YL dan BHS melakukan salah satu adegan saat rekonstruksi rencana pembunuhan VT di Mapolsek Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (3/10/2019). Para tersangka awalnya bermaksud membunuh VT dengan menggunakan sianida. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

YL dan Bayu adalah pasangan majikan dan sopir yang ditangkap atas percobaan pembunuhan terhadap VT, suami YL. Keduanya menyewa dua pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa pengusaha di bidang teknologi informasi tersebut.

Rencana pembunuhan itu tercetus berawal dari YL bercerita ke Bayu tentang kondisi rumah tangganya. Di tengah cerita itulah Bayu yang merupakan selingkuhan YL, memiliki rencana untuk membunuh suami perempuan itu.

Sebelum YL dan Bayu akhirnya menyewa pembunuh bayaran, Kapolres Metro Jakarta Utara Budhi Herdi Susianto menyebutkan, kasus pembunuhan yang terjadi di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dengan pelaku YL dan BHS alias Bayu (33) terinsipirasi pembunuhan di Jakarta Selatan.

Beda dengan Aulia Kesuma, mereka memilih membunuh VT dengan sianida.

"Kemudian caranya baru dia memikirkan awalnya yang pertama dia menggunakan racun sianida," ujar Budhi.

Sianida dibeli dengan online. Sianida tersebut lalu dimasukkan ke dalam air mineral di campur jamu, obat vitamin capsul, dan minum kaleng beralkohol. Di mana, VT memiliki kebiasaan mengonsumsi obat vitamin capsul, jamu dan air tersebut.

"Memang setiap hari minum barang bukti itu," kata Kapolsek Kelapa Gading Kompol Jerrold Hendra Kumontoy.

Setelah diracik, YL yang ketakutan membuat rencana tersebut dibatalkan. Hingga akhirnya keduanya menyewa dua orang pembunuh bayaran berinisial HER dan BK. 

3 of 5

Megawati yang Tak Salami Surya Paloh

Megawati Soekarnoputri mengenakan baju batik
Megawati Soekarnoputri mengenakan baju batik

Video Megawati yang tidak bersalaman dengan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019 kemarin viral.

Tak cuma Surya Paloh, Ketua Umum PDIP ini juga melewati Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat pelantikan anggota DPR 2019-2024 kemarin.  

Menanggapi hal itu, politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menilai hal yang wajar Megawati melewati beberapa orang saat bersalaman. Sebab, saat itu suasana dalam ruang rapat sangat ramai.

"Ketika dalam komunitas yang banyak orangnya ada yang salaman ada yang tidak, itu biasa. Ini kan diframe seakan-akan ada rivalitas antara PDIP dan gitu, kan," kata Hendrawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Dia menegaskan, hubungan Megawati dan Paloh masih baik-baik saja. Bahkan, masih sempat menghubungi satu sama lain.

Sementara itu, Ketua DPP Nasdem Martin Manurung menilai Megawati tidak sengaja melewati Surya Paloh. Kata dia, Nasdem selalu berprasangka baik terhadap apa pun.

4 of 5

Polwan Diduga Jadi Teroris, Ini Kata Polri

Bom Teroris
Ilustrasi Foto Teroris (iStockphoto)

Seorang polisi wanita (polwan) bernama Bripda Nesti Ode Samili menjadi topik hangat yang dibicarakan dalam sepekan terakhir. Dia diduga terafiliasi dengan paham radikalisme, ISIS. 

Pendalaman pun dilakukan pihak kepolisian. Bripda Nesti diduga terpapar paham radikalisme via media sosial.

"Dia terpapar paham ISIS melalui medsos," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo melalui pesan singkat, Kamis 3 Oktober 2019.

Bripda Nesti terindikasi terpapar paham radikal sejak setahun lalu. Berdasarkan catatan Polri, ini kedua kali polwan terduga teroris itu berurusan dengan Densus 88 Antiteror.

Polri bahkan telah merekomendasikan supaya Bripda Nesti disanksi berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) dari Korps Bhayangkara.

Jumat, 27 September 2019, Tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap Bripda Nesti di Solo. Dia diduga terlibat dengan jaringan terorisme Wawan Wicaksono yang ditangkap di Salatiga, Jawa Tengah, pada hari yang sama.

Sebelum ditangkap, Polwan tersebut dilaporkan menghilang sejak awal September 2019. Bripda Nesti meninggalkan tugas tanpa izin atau desersi. Polda Maluku Utara lantas menerbitkan status Daftar Pencarian Orang alias DPO.

Polwan ini sebelumnya pernah ditangkap di Surabaya, Jawa Timur, lantaran meninggalkan tugas. Dia menggunakan identitas palsu dalam penerbangannya dari Ternate ke Surabaya.

5 of 5

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓