Asa Bocah Makassar Korban Trauma Kekerasan Rumah Tangga di Pohon Harapan

Oleh Muhammad Ali pada 04 Okt 2019, 16:53 WIB
Diperbarui 04 Okt 2019, 23:18 WIB
Pohon Harapan

Liputan6.com, Jakarta - Gambar pohon terlukis indah di sudut dinding ruangan pertemuan Kelompok Wanita Nelayan (KWN) Fatimah Azzahra di Pattinggaloang, Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Warnanya yang menyerupai batang, pohon itu sekolah kering tanpa dedaunan.

Sebagai pengganti daun di ranting pohon yang menjalar, tertempel kertas berwarna warni yang sudah sedikit lecak dan kusam.

Di atas kertas, tertuliskan ragam harapan atau cita-cita anak-anak. Mereka ada yang ingin menjadi dokter atau berharap agar orangtuanya kembali akur dalam rumah tangga.

"Aku tidak mau melihat bertengkar orangtuaku," tulis anak berinisial I.

"Harapan Saya, suatu saat nanti saya ingin diajak orangtua bermain. Saya ingin membahagiakan orangtua saya," tulis ANF di atas kertas hijau.

Tulisan tulisan tangan ini merupakan suara hati mereka. Anak-anak yang merasakan kerasnya kehidupan. Ditambah ketidakharmonisan dalam keluarganya, membuat kondisi ini sangat membekas dalam hati.

Menurut Ketua KWN Fatimah Azzahra, Nuraeni, anak-anak yang mengalami kondisi tersebut berdampak terhadap rasa percaya diri. Mereka merasa minder lantaran kondisi keluarganya yang karut marut.

"Ada disini anak yang diam saja. Susah bicara. Dia malu karena ayah ibunya berantem terus," kata dia saat berbincang dengan wartawan di KWN Fatimah Azzahra, Makassar, Kamis (3/10/2019).

Untuk memulihkan psikologis mereka, Ia menyelenggarakan program Sekolah Anak Percaya Diri. Di tempat ini, sang anak yang merupakan korban trauma kekeraan rumah tangga diberikan pelajaran tentang bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri. Mereka belajar setiap hari Jumat dan Minggu.

Di sekolah ini, ada sekitar 70 orang yang mengikuti kegiatan. Bocah-bocah itu diajarkan tentang etika, cara berbicara yang baik, bahkan diberikan keterampilan yang mereka minati.

"Mereka diberikan pendampingan. Ada psikolog. Juga diajarkan tentang ketrampilan sesuai bakat mereka," kata Nuraeni.

Kegiatan ini, ungkap dia, tak lepas dari dukungan Pertamina yang memberikan program CSR ke tempat binaannya. Atas sokongan ini, kegiatan semakin maju dan berkembang.

"Pertamina memberikan support kepada kita. Mendatangkan guru, psikolog juga membuat kurikulum," ujar dia.

Dari program-program yang dihadirkan, kini membuahkan hasil terhadap perkembangan anak. Mereka yang dulunya minder dan takut untuk berbicara, kini percaya diri dan tampil dalam pentas seni di muka umum.

"Sekarang anak mau (bicara), sering tampil. Bahkan kalau lama tidak tampil, mereka tanya, Bu kapan kita tampil," ucap Nuraeni.

 

2 of 2

Program Pertamina

Unit Manager CSR & Communication Pertamina MOR VII, Hatim Ilwan, saat mengajak anak anak tebak tebakan.
Unit Manager CSR & Communication Pertamina MOR VII, Hatim Ilwan, saat mengajak anak anak tebak tebakan.

Sementara itu Unit Manager CSR & Communication Pertamina MOR VII, Hatim Ilwan, menjelaskan, Sekolah Anak Percaya Diri awalnya sebagai wadah bagi anak-anak korban trauma untuk berekspresi dan berkegiatan positif.

"Umumnya anak-anak korban KDRT, eksploitasi anak, kekerasan seksual, hingga korban human trafficking," ujar Hatim di Makassar, Kamis (3/10/2019).

Seiring perkembangan waktu, menurut Hatim, mulailah disusun kurikulum pembelajaran yang komprehensif pada Sekolah Anak Percaya Diri.

"Kurikulum pembelajaran disusun agar pembelajaran lebih efektif dalam upaya mengobati trauma, melatih anak untuk bekerjasama serta menggali minat dan bakat anak, agar anak merasa memiliki kelebihan yang dapat dikembangkan,’” terangnya.

Kurikulum Sekolah Anak Percaya Diri, lanjut Hatim, terdiri tiga bagian yakni sain dan karya wisata sebagai bimbingan kecerdasan kemudian seni, sastra dan permainan untuk menggali potensi dan bakat anak serta materi agama untuk menanamkan nilai-nilai moral.

Menurut Hatim, saat ini Sekolah Anak Percaya Diri telah memiliki 58 siswa aktif yang dibagi dalam dua kelas dengan jadwal belajar setiap hari Jumat dan Minggu.

Untuk mendukung proses belajar mengajar yang efektif, Pertamina menyiapkan tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, pendampingan dari psikolog serta menghadirkan beberapa tokoh dari berbagai profesi untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak.

“Saat ini perkembangan siswa cukup menggembirakan, mereka mulai percaya diri, berani tampil serta mengikuti berbagai kompetisi. Bahkan, hasil evaluasi pembelajaran menunjukkan nilai rata-rata mereka di atas 70,” imbuh Hatim.

Pada tahun ini, Pertamina memperluas cakupan Sekolah Anak Percaya Diri, bukan hanya korban trauma, tetapi juga kepada anak-anak yang berasal dari keluarga kurang harmonis.

Lanjutkan Membaca ↓