Polri Bentuk Tim Investigasi Gabungan Usut Meninggalnya 2 Mahasiswa Kendari

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 27 Sep 2019, 11:31 WIB
Diperbarui 29 Sep 2019, 11:13 WIB
Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal

Liputan6.com, Jakarta - Polri membentuk tim investigasi gabungan untuk mengusut penyebab meninggalnya dua mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara saat mengikuti demo.

"Pak Kapolri sudah membentuk tim investigasi gabungan untuk mencari tahu siapa pelakunya. Apabila pelakunya nanti terbukti secara scientific aparat, kita akan proses hukum pidana sesuai mekanismenya, ingat tindak tegas," ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (27/9/2019).

Iqbal mengatakan, Polri akan membuka penyebab meninggalnya dua mahasiswa Kendari setransparan mungkin.

Menurut dia, sejak kemarin Kapolri mengirim dua tim ke Kendari. Satu tim propam dan satu dari tim pengawasan hukum yang dipimpin polisi berpangkat Brigjen.

"Mereka sedang bekerja memastikan apakah ada kesalahan SOP atau tidak," kata dia.

Iqbal mengimbau seluruh masyarakat dan mahasiswa di manapun berada tidak terpancing isu yang dimainkan pihak lain yang mengambil keuntungan dan menciptakan aksi anarkis semakin besar.

2 dari 3 halaman

2 Mahasiswa Kendari Meninggal

Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Demo Mahasiswa di Depan DPR
Mahasiswa berlarian saat polisi menembakkan gas air mata dalam demonstrasi menolak pengesahan RUU KUHP dan revisi UU KPK di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (24/9/2019). Mahasiswa lari tunggang langgang setelah aparat kepolisian menembakkan gas air mata. (merdeka.com/Arie Basuki)

Seorang mahasiswa Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggari meregang nyawa saat mengikuti demo menolak RUU KUHP di kompleks DPRD Kendari. Mahasiswa tersebut diketahui merupakan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kendari.

"Mahasiswa yang tewas bernama Randy, dia kader terbaik kami di IMM. Alumni perkaderan DAD IMM tahun 2017," ucap Ketua Umum IMM Najib Prasetyo saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (26/2019).

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Golden Hart membenarkan adanya mahasiswa yang tewas tersebut. Demonstran yang tewas tersebut adalah Randi, mahasiswa Haluoleo.

"Benar, kejadiannya sekitar pukul 15.30 Wita. Korban terluka di bagian dada sebelah kanan. Meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Korem," ujarnya kepada Liputan6.com

Korban tewas saat aksi demo mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara bertambah. M Yusuf Kardawi mengembuskan napas terakhirnya setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di RSU Bahteramas, Kendari dini hari tadi.

"Iya, pasien Muh Yusuf Kardawi (19) yang menjalani perawatan intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia Jumat (27/9/2019) sekitar pukul 04.00 Wita," kata Plt Direktur RSU Bahteramas dr Sjarif Subijakto di Kendari, Jumat.

Sjarif menyatakan tim dokter yang menangani korban Yusuf sudah berbuat maksimal.

Dilansir Antara, almarhum Yusuf tercatat sebagai mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Begitu pula korban tewas sebelumnya, Kamis 26 September adalah Randi (21) berstatus mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UHO.

Korban Yusuf adalah pasien rujukan dari RS Ismoyo Korem 143/Haluoleo yang harus menerima tindakan operasi karena cedera serius saat aksi unjuk rasa di gedung DPRD Sulawesi Tenggara, pada Kamis 26 September.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi yang dikorfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

"Silakan konfirmasi ke Polda Sultra," kata Kapolres Jemi melalui saluran telepon.

Kamis malam 26 September, Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Ketua DPRD Sulawesi Tenggara Abdurrahman Shaleh yang didampingi jajaran Forkopimda menjenguk korban Yusuf Kardawi di ruang perawatan RSU Bahtermas.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓