Prabowo: Kalau Negara Baik, Tidak Ada Kerusuhan di Mana-mana

Oleh Achmad Sudarno pada 27 Sep 2019, 02:28 WIB
Diperbarui 29 Sep 2019, 02:13 WIB
Tanpa Sandiaga, Prabowo Hadiri Syukuran Kemenangan

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang aksi unjuk rasa yang terus terjadi belakangan ini menandakan bahwa negara Indonesia saat ini dalam kondisi tidak baik.

Demonstrasi elemen mahasiswa terus berlanjut menyusul pengesahan revisi UU KPK, pembahasan RUU KUHP dan RUU lainnya yang menjadi kegelisahan publik.

"Kalau ada yang mengatakan negara baik-baik saja berarti tidak ada kerusuhan di mana-mana?" ucap Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat simposium 'Strategi Dorongan Besar Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Energi dalam Rangka Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Dua Digit' di kediamannya, Desa Bojong Koneng, Bogor, Kamis (26/9/2019).

Menurutnya ancaman terbesar sebuah negara adalah korupsi. Karena itu, Prabowo menyinggung tindakan pemerintah yang menyetujui UU KPK direvisi.

"Ketika bertanya, bagaimana Indonesia, ada korupsi atau tidak? Mungkin saat ini korupsi sudah menurun ya, makanya dilakukanlah revisi undang-undang. Ya Alhamdulillah lah, kalau korupsi menurun, kita semua terima kasih," ujar Prabowo.

Selain penegakan hukum, dia juga mengaku cemas dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Harga pangan terus merangkak naik, pengangguran meningkat dan terjadi radikalisme idelologi.

"Saya merasa cemas, banyak ahli strategi luar negeri mengatakan 'Indonesia not available', 'Indonesia anytime can break up'. Kalau saya bicara itu, saya dibilang pesimis. Makanya diadakan forum ilmiah ini karena bicaranya ilmiah," terang dia.

Ekonomi Indonesia tidak pernah maju karena masih menganut paham neoliberal yang cenderung memberikan keuntungan pada kapitalis.

"Amerika mbah-nya neolib saja sudah meninggalkan paham neolib, kok kita murid-muridnya masih," ujar Prabowo.

 

2 of 3

Bukti Neoliberal

Prabowo Sikapi Penetapan Hasil Pemilu KPU
Capres 02 Prabowo Subianto usai konferensi pers sikapi penetapan hasil pemilu di kediamannya, Kertanegara, Jakarta, Selasa (21/5). Dalam konferensi pers nya, pasangan capres dan cawapres 02 menolak hasil rekapitulasi dari KPU dan akan menggugat ke MK. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Salah satu bukti neoliberal masih mengakar di Indonesia yaitu masih impor produk-produk pangan dan energi. Padahal impor itu menguras anggaran negara cukup besar.

"Anggaran impor mencapai $ 25 miliar per tahunnya. Padahal kita bisa swasembada baik pangan maupun energi," terang Prabowo.

Solusi untuk meningkatkan ekonomi di Indonesia yaitu melalui swasembada pangan dan energi. Swasembada ini telah ia tuangkan dalam strategi yang dibuat bersama para ahli, yang dinamakan strategi pertumbuhan ekonomi dua digit atau sustained double digit growth.

"Saya akan sodorkan strategi ini ke siapa pun yang memimpin, karena ini negara kita semua, jangan kita berlarut dalam permusuhan," kata Prabowo.

3 of 3

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓