Sedikitnya Titik Panas di Riau Tak Berarti Jumlah Kebakaran Berkurang

Oleh Devira Prastiwi pada 16 Sep 2019, 11:47 WIB

Fokus, Jakarta - Hingga Minggu, 15 September 2019 sore, citra satelit himawari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sedikitnya ada sekitar tujuh hotspot di Riau. Angka ini menurun dan jauh lebih kecil dibandingkan di Kalimantan yang mencapai ratusan titik.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Senin (16/9/2019), namun, faktanya kabut asap di Riau masih tetap tebal.

BMKG menyebutkan alasan tebalnya kabut asap di Riau karena adanya perlambatan gerak angin di kawasan tersebut.

"Ketika ada kabut asap yang cukup tebal, kemudian ketika arah anginnya dan kecepatan anginnya misalnya kalem atau tidak terlalu kencang itu, dia akan sedikit menghalangi si kabut asap akan kemana-mana, jadi si kabut asap akan di situ-situ saja, itu yang bikin kabut asap di Riau akan sedikit lebih pekat daripada wilayah lainnya," ujar Senior Forecaster BMKG Jakarta Rifda Novikarani.

Titik panas yang terdeteksi oleh citra satelit BMKG pun jumlahnya fluktuatif, bergantung pada intensitas awan atau asap yang bisa menghalangi citra satelit.

Sehingga, titik panas di Riau yang jumlahnya sedikit bukan berarti kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut ikut menurun.