Perjuangan Partai Nasdem Tanggapi Industri Seni

Oleh Muhammad Ali pada 03 Sep 2019, 19:39 WIB
Lucky Hakim

Liputan6.com, Jakarta - Dewan Pimpinan Partai (DPP) Partai NasDem menggelar Dialog bertajuk Quo Vadis Perlindungan Pekerja Seni yang digelar di Auditorium DPP NasDem Gondangdia Jakarta Pusat.

Nara sumber yang akan mengisi acara tersebut adalah aktris Christine Hakim, sutradara Nia Dinata, caleg DPR RI NasDem terpilih M.Farhan, kader NasDem yang juga seorang pekerja seni Lucky Hakim, pekerja seni, Pemred Koran Slank, dan Ketua Harian Indonesia Musik Forum (IMF) Setia Budi atau yang akrab disapa Budi Ace, serta  dimeriahkan oleh Mongol Stress dan moderator dari Metro TV Eva Wondo.

Menggeliatnya dunia seni di tanah air menimbulkan berbagai persoalan bagi pekerja seni. Banyaknya seniman yang hidup sangat pas-pasan di hari tua, menjadi salah satu indikator perlindungan pekerja seni masih terabaikan.

Masalah itulah yang mendorong Partai NasDem membuka ruang dialog yang bertujuan memenuhi serta memberikan kebutuhan informasi kepada masyarakat dan menjadi kajian yang akan diperjuangankan Partai NasDem.  

“Tema acara ini berangkat dari kepedulian kader NasDem yang memiliki pengalaman di bidang seni. Begitu banyak hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki dalam sektor tersebut, terutama pelindungan terhadap pekerja seninya itu sendiri. Kami berharap periode parlemen yang baru dapat meloloskan undang-undang yang dapat membantu pekerja seni Indonesia,” jelas Lathifa Al Anshori Wakil Ketua Organizing Committee (OC) Bidang Public Relations Panitia Kongres II Partai NasDem.  

Farhan menilai dalam dunia seni pemerintah masih minim memiliki perhatian terhadap industri seni.

“Pertama, perlindungan sosial (keselamatan kerja dan kesehatan) yang dianggap sudah baik terlindungi. Kedua, soal perlindungan karya atau Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan pemerintah dirasakan belum begitu hadir ke ranah ini,” ujar Farhan.

Sedangkan Lucky Hakim, mantan anggota DPR RI yang juga seorang pekerja seni, menanggapi tentang ketimpangan perkembangan yang tidak merata karena terpusat di Jakarta. Bila regulasi ditegakkan, maka stasiun televisi nasional mau tidak mau harus kerja sama dengan stasiun televisi lokal, bila ingin programnya ditonton oleh orang daerah dan mendapatkan pendapatan dari iklan.

Sementara itu Nia Dinata menuturkan, seni hiburan era industri 4.0 yang dialami Indonesia saat ini juga turut menciptakan roles baru berubah sangat signifikan pada implementasinya.  Digitalisasi menciptakan peralihan serta tantangan yang harus dihadapi seluruh elemen pekerja seni. Materi hiburan maupun kesenian agar dapat menyesuaikan dengan era perkembangan saat ini.

"Pekerja seni tetap harus mengikuti perkembangan zaman. Ranah digital juga harus dipelajari, namun harus tetap menjaga kualitas sehingga penghargaan pada proses persiapan dan proses kreatif layar lebar maupun konten seni lainya tetap ada,” ucap Nia Dinata salah seorang sutradara perempuan Indonesia.

Dengan adanya acara ini, Lathifa Al Anshori berharap hasil dialog kali ini menjadikan poin yang menjadi dasar perjuangan Partai NasDem melalui kursi parlemen, untuk menciptakan siklus industri seni yang lebih baik di Indonesia.

Tag Terkait