Romo Benny: Pasukan TNI-Polri di Papua untuk Ciptakan Rasa Aman

Oleh Yopi Makdori pada 31 Agu 2019, 18:17 WIB
Diperbarui 12 Sep 2019, 17:10 WIB
20151217- Koalisi Masyarakat Berantas Mafia Parlemen Menyikapi Perkembangan Sidang MKD-Jakarta-FRS

Liputan6.com, Jakarta - TNI dan Polri menambah jumlah personel untuk mengamankan Papua. Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIB) Romo Benny S menyampaikan, adanya pasukan yang terdiri dari TNI dan Polri di Papua, bertujuan untuk menciptakan rasa aman.

"Tentara itu garda untuk membuat rasa aman. Fungsi tentara di situ melindungi warga dari para perusahaan supaya tidak memprovokasi dan menimbulkan korban jiwa," kata Romo Benny di Hotel Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (31/8/2019).

Dia mengatakan, sekarang ini yang penting adalah bagaiman negara memberikan rasa aman kepada masyarakat Papua. "Dan fasilitas umum tidak boleh dirusak," ucap dia.

Romo Benny menginginkan supaya pemerintah membentuk sebuah roadmap atau peta rancangan untuk membangun tanah Papua damai. Roadmap ini juga mesti memuat solusi-solusi terhadap berbagai permasalahan warga Papua.

"Solusi-solusi terhadap persoalan misalanya, kesehatan, bagaimana cara mengatasinya. Itu harus semua instansi terkait menyelesaikannya," kata Romo Benny.

 

2 of 3

Pendekatan Kultural

Kerusuhan Pecah di Manokwari
Massa turun ke jalan dalam unjuk rasa yang berujung kerusuhan di kota Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019). Aksi masyarakat Papua ini merupakan buntut dari kemarahan mereka atas peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, serta Semarang beberapa hari lalu. (STR / AFP)

Romo Benny Susetyo sebelumnya menginginkan pendekatan kultural dikedepankan dalam menyelesaikan kerusuhan yang sempat terjadi di Papua. 

"Kalau ada konflik-konflik yang melibatkan mereka, harusnya jangan libatkan ormas-ormas lain. Harusnya dibangun persuasif," ujar Romo Benny kala dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Senin 20 Agustus 2019.

Romo Benny juga meminta kepada tokoh asal Papua yang ada di sejumlah daerah juga membuka ruang dialog untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tak hanya itu, mereka juga harus meluruskan berita-berita yang tidak benar yang beredar di media sosial.

"Jangan seperti kemarin itu seolah dipertontonkan. Sekarang ini kan gampang diviralkan, semua orang punya HP," katanya.

Menurut Romo Benny, pendekatan kultural juga bisa dilakukan dengan cara membangun dialog bersama pihak-pihak terkait. Ia berpendapat, kerusuhan yang sempat terjadi di Papua, salah satunya dipicu oleh trauma sejarah.

"Papua itu harus mendapatkan perhatian khusus dalam berbagai bidang. Terus menampilkan di ruang publik orang Papua yang berprestasi," kata Romo.

Jika hal itu dijalankan, Romo Benny percaya, bisa mencegah konflik antara sesama anak bangsa.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓