Kala Perwira BNN dan Kasatpol PP Riau Nyaris Adu Jotos di Klub Malam

Oleh Liputan6.com pada 23 Agu 2019, 19:51 WIB
Diperbarui 23 Agu 2019, 19:51 WIB
Razia Panti Pijat, Puluhan Wanita Diamankan di Tangsel
Perbesar
Petugas Satpol PP mengintrogasi sejumlah wanita selama razia panti pijat di BSD, Tangerang Selatan, Selasa (25/6/2019). Dalam razia tersebut puluhan wanita diamankan karena tidak bisa menunjukan kartu identitas. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pekanbaru Agus Pramono bersitegang dengan Kabid Penindakan dan Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Riau, Kombes Iwan Eka Putra, Jumat dini hari tadi.

Saat itu, Satpol PP sedang menggelar razia tempat hiburan malam yang melebihi batas waktu operasional di Grand Dragon.

"Awalnya kami menggelar razia di warung remang-remang, kemudian ke lokasi lain dan sampai lah akhirnya di Grand Dragon. Nah, saat itu ada pria yang tiba-tiba datang sambil marah-marah. Saya tidak tahu dia siapa awalnya," kata Agus memulai cerita kepada merdeka.com, Jumat (23/8/2019). 

Pria berkacamata berkaos biru itu adalah Kombes Iwan. Agus menanyakan identitas Iwan karena tidak mengenalnya.

"Dia tanya ke saya. Saya jawab bahwa saya Kasat Pol PP Pekanbaru sedang penertiban di sini (Dragon). Eh dia malah jawab tidak ada gunanya penertiban yang kami lakukan. Loh dia siapa memangnya, apa sebagai beking atau orang lagi mabuk. Makanya saya tanya dia siapa," kata Agus.

Agus melanjutkan, saat ditanya identitasnya, Iwan justru tidak menjawab dan emosi sambil mengeluarkan kalimat tidak pantas. Agus juga mendengar ada kalimat ancaman terhadap dirinya.

"Saya ada dengar, dia mau menembak saya. Wah, itu kan tidak pantas, tembak saja, saya tidak takut. Saya bilang gitu. Dia langsung dibawa sama satpam Dragon ke Hotel Hollywod. Dia tidur di situ," kata Agus.

Saat ditanya agenda penertiban, Agus menyebutkan ada desakan masyarakat yang melakukan demonstrasi karena resah dengan operasional Grand Dragon dan tempat hiburan malam lainnya melebihi batas waktu. Sebab, dalam peraturan, segala aktivitas bisnis di Dragon harus berhenti sampai pukul 22.00 Wib.

"Dalam regulasi, jam 10 harus sudah berhenti dan tutup itu tempat hiburan malam. Bukan Dragon saja, semuanya. Dan saya menggelar penertiban jam 1 dini hari, sudah ada kelonggaran. Eh tiba-tiba Pak Iwan itu datang seolah-olah jadi beking, ngapain dia di situ coba. Kalau undercover, harusnya pergi saja saat kami bertugas, jangan marah-marah. Saya juga pernah tugas di intel," ucap Agus.

Kronologi Percekcokan

Ilustrasi Garis Polisi (AFP)
Perbesar
Ilustrasi Garis Polisi (AFP)

Kombes Iwan saat dihubungi merdeka.com mengakui bahwa yang terlibat cekcok adalah dirinya. Namun, dia menyebutkan ke Dragon bukan dalam rangka hiburan karaoke.

"Begini, pertama masalah saya dengan Pak Agus sudah selesai, hanya salah paham. Awalnya, saya dari atas, turun lewat lift. Kemudian mau keluar, terus saya ditanya siapa dan mau dibawa. Saya tanya kenapa saya mau dibawa, dalam rangka apa. Karena saat itu saya juga sedang bertugas, mau menangkap orang yang akan transaksi narkoba di depan pintu Dragon," kata Iwan.

Saat ditanya kenapa tidak pergi menghindari Satpol PP, Iwan menjawab dirinya mau dibawa dan tidak bersedia. Sebab, kata Iwan, dia sedang mengatur siasat untuk menangkap seseorang yang disinyalir akan transaksi.

"Jadi kami dapat informasi akan ada transaksi narkoba di depan pintu masuk Dragon. Lalu saya atur anggota untuk berpencar di tempat-tempat yang memungkinkan jika pelaku kabur. Pas keluar lift, saya dihentikan (Satpol PP), ditanya ngapain di sini. Tidak mungkin saya jawab lagi penyelidikan, namanya juga undercover," jelas Iwan.

Iwan menyebutkan saat ini persoalan dia dengan Agus sudah beres. "Sudah, sudah selesai, hanya salah paham saja," tandasnya.

 

Repoter: Abdullah Sani

Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓