Polisi Usut Provokator Kerusuhan di Fakfak Papua Barat

Oleh Ratu Annisaa SuryasumiratAdy Anugrahadi pada 21 Agu 2019, 14:50 WIB
Diperbarui 05 Sep 2019, 08:19 WIB
Kepala Biro Penerangan Msyarkat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Praseyo

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, pihaknya mengindentifikasi adanya kelompok yang ingin memancing kerusuhan di Fakfak, Papua Barat.

Kelompok itu menyusup di antara para pendemo yang sedang melakukan aksi damai pada Rabu (21/8/2019) sekitar pukul 9 waktu setempat.

Demonstrasi itu adalah buntut dari dugaan persekusi yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

"Segelintir orang mencoba memprovokasi. Ya ada sekelompok kecil saja masyarakat yang mengagitasi situasi," kata Dedi di Grandkemang Jakarta Selatan, Rabu (21/8/2019).

Dedi menerangkan, kelompok tersebut mencoba memantik situasi. Beruntung, TNI dan Polri dibantu masyarakat Fakfak, Papua Barat berhasil melokalisir kelompok tersebut.

Saat ini, kelompok tersebut sedang didalami. Apabila nanti ditemukan perbuatan melawan hukum, maka akan ditindak.

"Kami sita beberapa simbol-simbol. Kami bantu sebagian masyarakat yang tidak setuju dengan tindakan sekelompok orang itu menciptakan situasi yang kondusif," ucap dia.

2 of 3

Upaya Jalin Komunikasi dengan Pendemo

Sebelumnya, unjuk rasa di Fakfak, Papua Barat, diwarnai pembakaran dan perusakan sejumlah fasilitas umum. Peristiwa itu terjadi Rabu (21/8/2019) sekitar pukul 9 waktu setempat.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, Tim gabungan TNI-Polri dibantu tokoh agama serta tokoh masyarakat sedang berupaya menjalin komunikasi dengan para pendemo.

"Insyaallah bisa dikendalikan oleh TNI dan Polri, kami mengedepankan upaya-upaya persuasif, untuk menghentikan tindakan-tindakan yang merugikan di Papua sana," kata dia di Mabes Polri, Rabu (21/8/2019).

"Toh seluruh anak bangsa sudah menyerukan, bahwa kita bersaudara," imbuhnya.

Diakui Iqbal, saat ini personil yang menjaga situasi di Papua Barat juga ditambah. Setidaknya terdapat 12 Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari berbagai Polda seperti Polda Sulsel, Sulteng, Maluku, NTB, dan Kaltim.

"Mereka disebar di wilayah Sorong dan Manokwari, dan Fakfak. Kami tegaskan bahwa mereka tidak dibekali peluru tajam. Kami ingin mengedepankan upaya komunikasi dengan saudara-saudara kita," ujar Iqbal.

Namun menurutnya, secara umum Papua Barat sudah bisa dikendalikan. Tinggal di wilayah Fakfak, Papua Barat.

"Saya kira aksi silahkan, sudah diatur Undang-Undang. Tapi harus mengikuti aturan hukum, norma berlaku," ucap dia.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓