Gunung Merapi Semburkan Awan Panas Sejauh 1 Kilometer

Oleh Wisnu Wardhana pada 20 Agu 2019, 10:52 WIB
Diperbarui 19 Sep 2019, 10:09 WIB
Gunung Merapi

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran, Selasa (20/8/2019) pukul 07.38 WIB. Awan panas gunung berapi yang ada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta itu meluncur sejauh 1.000 meter atau 1 kilometer ke arah hulu Kali Gendol.

Jarak luncuran dengan amplitude maksimal 65 mm dan durasi kurang lebih 100 detik ini masih di bawah rekomendasi jarak aman yang diberikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi Kementerian ESDM sejauh 3 kilometer dari puncak.

Selama Agustus 2019, telah terjadi delapan kali luncuran awan panas guguran Gunung Merapi dengan jarak luncuran dari 950 meter hingga 1.200 meter. Sementara kegempaan yang terjadi masih terdata fluktuatif.

Dari tanggal 1 hingga 18 Agustus 2019, terjadi 10 kali kegempaan hembusan (DG), 3 kali kegempaan vulkanik dalam (VTA), 10 kali kegempaan dangkal (VTB) dan 53 kali kegempaan fase banyak (MP).

Sedangkan kegempaan guguran (RF) tercatat 292 kali, kegempaan frekuensi rendah (LF) tercatat 40 kali, dan kegempaan tektonik (TT) tercatat 46 kali.

Sementara untuk deformasi Gunung Merapi sendiri tercatat belum begitu signifikan. Meski demikian, dari adanya guguran lava yang terpantau serta kegempaan yang tercatat, memang terjadi supply magma dari dalam perut Gunung Merapi.

“Adanya guguran lava memberikan bukti adanya sifat magmatik dari aktivitas Merapi. Namun aktifitas Merapi sejak ditetapkan pada level II Waspada masih sangat fluktuatif,” ujar Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso.

 

2 of 3

Jarak Aman 3 Kilometer

Berstatus Waspada, Begini Penampakan Gunung Merapi
Pemandangan saat Gunung Merapi mengeluarkan asap terlihat dari Kaliadem, Sleman, DIY, Minggu (24/2). Menurut BPPTKG, telah terjadi sembilan kali gempa dan guguran lava ke Sungai Gendol dengan jarak luncuran 200-800 meter. (Liputan6.com/Gholib)

Agus justru mengemukakan bahwa fase Merapi seperti saat ini memberikan kesempatan masyarakat untuk menambah ketangguhan dalam menghadapi erupsi Merapi yang mungkin terjadi di masa depan. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan edukasi dan wisata di wilayah Merapi.

“Dulu sebelum erupsi tahun 2006, angka kegempaan yang lebih besar daripada sekarang, masyarakat seringkali sengaja mengunjungi Stasiun Pengamatan Gunung Api Merapi untuk menyaksikan luncuran lava,” kenang Agus.

“Namun tentu saja dilakukan sembari sadar akan mitigasi dan mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh petugas pemantau,” dia menambahkan.

Guguran lava yang saat ini terjadi dalam radius 450 meter hingga 950 meter memang memungkinkan untuk diamati dari beberapa Pos Pemantau bila udara cerah tanpa kabut, sehingga bisa menjadi atraksi tersendiri bagi warga masyarakat.

Pusat Vulkanologi dan Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM menetapkan status Gunung Merapi pada level 2 Waspada pada tanggal 21 Mei 2018. Rekomendasi jarak aman yang diberikan adalah 3 kilometer dari puncak.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by