Khofifah: Ucapan ke Mahasiswa Papua di Malang Bukan Mewakili Masyarakat Jatim

Oleh Dian Kurniawan pada 19 Agu 2019, 13:42 WIB
Diperbarui 21 Agu 2019, 12:13 WIB
Persiapan Khofifah dan Yenny Wahid Jelang Harlah Muslimat NU

Liputan6.com, Surabaya - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa meminta maaf atas insiden mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang hingga berbuntut panjang dengan adanya kerusuhan di Jayapura dan Manokwari.

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa dia menerima informasi dari sejumlah elemen masyarakat bahwa ada kalimat yang kurang pantas di ucapkan terkait mahasiswa Papua.

"Saya ingin menyampaikan bahwa itu sifatnya personal, itu tidak mewakili suara masyarakat Jawa Timur," tutur Khofifah di Surabaya, Senin (19/8/2019).

"Oleh karena itu saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas nama masyarakat Jawa Timur. Sekali lagi itu tidak mewakili masyarakat Jawa Timur," kata Khofifah.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera membantah adanya isu rasis terhadap mahasiswa Papua.

"Kami jelaskan tidak ada anggota kepolisian yang menyampaikan hal tersebut (rasis). Kalaupun ada OKP (organisasi kepemudaan) kami akan lakukan penyelidikan," ujar Barung.

Mengenai aksi memprotes tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya yang digelar di beberapa kota di Papua dan Papua Barat, polisi berharap masyarakat melihat secara objektif terkait dugaan tindakan rasisme tersebut.

"Kepada masyarakat agar melihat secara objektif apa yang terjadi agar tidak terpancing sosial media, terpancing isu-isu yang tidak benar," kata Barung.

2 of 3

Tidak Ada Penahanan

Barung juga mengatakan, hingga saat ini polisi tidak melakukan penahanan terhadap mahasiswa Papua, tapi hanya mengamankan puluhan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya agar tidak terjadi bentrok dengan organisasi masyarakat.

Pengamanan pun tidak berlangsung lama, karena pada malam harinya para mahasiswa telah dipulangkan.

"Kami tegaskan tidak ada penahanan, tidak ada penangkapan, yang ada kami mengamankan 43 mahasiswa tersebut dikarenakan situasi dimana ada masyarakat dan beberapa OKP, ormas akan masuk. Kalau tidak diamankan, akibatnya justru terjadi bentrok masyarakat dengan mahasiswa," tutur Barung.

3 of 3

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓