Tewasnya Briptu Hedar dan Perburuan KKB di Papua

Oleh Lizsa EgehamDelvira HutabaratNanda Perdana Putra pada 15 Agu 2019, 00:03 WIB
Polisi yang disandera hingga tewas di Papua, Briptu Hedar. (Instagram @divisihumaspolri)

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari Polri. Anggotanya, Briptu Hedar ditemukan tewas setelah disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, Papua, Senin 12 Agustus 2019.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, penyanderaan yang terjadi sekitar pukul 11.00 WIT berawal dari Briptu Hedar dan Bripka Alfonso Wakum sedang tugas penyelidikan di wilayah Kabupaten Puncak dengan mengendarai sepeda motor.

"Pada saat di Kampung Usir, Briptu Hedar dipanggil oleh temannya sehingga Bripka Alfonso memberhentikan kendaraannya," tutur Dedi, Senin 12 Agustus 2019.

Menurut Dedi, saat Briptu Hedar menghampiri temannya tersebut tiba-tiba sekelompok orang datang dan langsung menyanderanya. Sementara Bripka Alfonso yang masih berada di motor langsung kembali dan mengadukan peristiwa itu ke Pos Polisi Kago, Kabupaten Puncak.

Setelah menerima laporan tersebut, tim koordinasi dengan TNI untuk pendekatan terhadap para tokoh masyarakat di Puncak untuk membebaskan anggotanya. Dedi meminta kelompok tersebut dapat bersikap bijaksana. Terlebih, hubungan aparat dengan masyarakat wilayah Puncak terbilang baik.

Briptu Hedar pun mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat lebih tinggi atas insiden yang dialaminya itu. Pasukan gabungan TNI Polri juga langsung memburu KKB yang membunuh Briptu Hedar.

Dedi Prasetyo menyampaikan, Briptu Hedar tewas dengan luka tembak di bagian kepala dan leher. 

Jasad Briptu Hedar kemudian dievakuasi ke Puskesmas Ilaga. Jenazahnya dibawa ke Timika, kemudian ke Makassar, Sulawesi Selatan pada Selasa 13 Agustus 2019 untuk dikebumikan di kampung halaman di Kabupaten Barru.

Anggota Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua Briptu Hedar diculik dan dibunuh di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, Papua. (dok Humas Polda Papua)

Sempat Melarikan Diri

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, Briptu Hedar yang tewas di Puncak, Papua, sempat mencoba melarikan diri sebelum akhirnya ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Dari jalan raya menuju tempat penyanderaan kurang lebih sekitar hampir 100 meter. Dapat informasi Briptu Hedar ini melarikan diri. Pada saat melarikan diri, tertembak oleh kelompok KKB tersebut," tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

Menurut Dedi, senjata yang digunakan pelaku penembakan diduga berjenis senapan api laras panjang. "Begitu lari, jarak sekian meter langsung ditembak mengenai kepala belakangnya," jelas dia.

Bintara polisi tersebut ditemukan sudah meninggal dunia di Jalan Pinggil, Kampung Wako, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak sekitar pukul 17.30 WIT.

"Kalau dari distrik tempat TKP diketemukan yang bersangkutan meninggal, sama ibu kotanya daerah Puncak Jaya, jarak tempuh hampir 1 jam lebih," Dedi menandaskan.

Menurut Dedi, Briptu Hedar saat itu sedang melakukan penyelidikan di Kampung Usir, Puncak, Papua, terkait KKB. Wilayah tersebut memang menjadi salah satu basis operasi kelompok separatis itu.

"Nggak ada senjata, dia sedang melakukan penyelidikan tanpa identitas kan. Kan dia undercover, semua identitas, senjata, ditinggalkan. Dia masuk sangat dalam ke wilayah itu dan masyarakat sudah sangat resah dengan keberadaan KKB yang mengintimidasi masyarakat setempat," jelas dia.

Setelah ditelusuri, pelaku adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh Goliat Tabuni.

"Dia kelompoknya G. Daerah itu dikuasai kelompok G, kemudian yang melakukan eksekusi itu YM, yang melakukan penembakan," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

2 of 4

Kenangan Keluarga Briptu Hedar

Jenazah Brigpol Anumerta Hedar tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Selasa (13/8/2019) sekitar pukul 15.00 Wita. (Foto: dok Divisi Humas Polri)
Jenazah Brigpol Anumerta Hedar tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Selasa (13/8/2019) sekitar pukul 15.00 Wita. (Foto: dok Divisi Humas Polri)

Duka mendalam dirasakan keluarga. Seperti yang diungkapkan adik bungsu almarhum, Danu Wijaya. Menurut dia, Briptu Hedar merupakan sosok pengayom.

Terakhir kali, dia bertemu sang kakak pada Idul Fitri 1440 Hijriah. Saat itu, Hedar pulang kampung untuk liburan. Ketika itu, Briptu Hedar mengutarakan keinginannya ke Danu.

"Saya ketemu pas waktu Idul Fitri kemarin dan dia berpesan agar nanti saya tamat SMA pindah ke Papua saja untuk mendaftar anggota Polri," kata Danu seperti dilansir Antara, Selasa (13/8/2019).

Ayah almarhum Brigpol Anumerta Hedar, Kaharuddin, sangat kehilangan akan kepergian anak sulung dari tiga bersaudara itu.

"Setiap bulan dia selalu kirim uang untuk kebutuhan biaya pendidikan kedua saudaranya," kata Kaharuddin di rumah duka di Jalan Perkebunan Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Menurut dia, anaknya yang lahir di Barru pada 1994 itu adalah kepala keluarga. Sang anak juga pribadi yang sabar di matanya.

"Dia itu kayak kepala keluarga yang memperhatikan adik-adiknya yang kuliah dan sekolah di Makassar. Dia juga orangnya tertutup dan penyabar," ujar Kaharuddin.

Dia mengatakan, sejak kecil, Briptu Hedar memang bercita-cita menjadi polisi untuk mengabdi kepada negara. Oleh karena itu, setamat sekolah menengah atas (SMA) pada 2013, dia langsung melamar ke akademi kepolisian.

"Setelah tamat di SMA, dia merantau ke Papua dan mendaftar polisi di sana dan dia lulus masuk polisi tahun 2015," tutur Kaharuddin.

Berdasarkan rekam jejak Polri, Briptu Hedar memiliki sederet prestasi berkaitan dengan pengungkapan kasus kelompok separatis tersebut.

"Briptu Hedar memiliki catatan prestasi yang cukup panjang. Yang bersangkutan sangat aktif dalam satgas pengungkapan kasus yang melibatkan KKB," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

Briptu Hedar dimakamkan di Kampung halamannya di Dusun Siawung, Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada hari Selasa tanggal 13 Agustus 2019 sekitar 500 meter dari rumah duka.

Prosesi pemakaman dilakukan secara meliter yang dipimpin oleh Karo SDM Polda Sulawesi Selatan Kombes Yahanis Ragil dan dihadiri oleh Bupati Barru Suardi Saleh dan disaksikan oleh para keluarga almarhum.

3 of 4

Perburuan KKB

Wapres Jusuf Kalla
Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK turut berduka cita atas meninggalnya Briptu Hedar yang ditemukan tewas di Kampung Usir, Puncak, Papua, Senin 12 Agustus 2019. JK menegaskan, pemerintah harus menyelesaikan masalah di Papua agar kondisi menjadi lebih aman.

"Ya tentu kita merasa berduka cita. Memang di daerah konflik selalu ada korban. Tapi yang penting kita selesaikan masalahnya. Secara umum. Supaya Papua itu lebih aman," kata JK di Kantornya, Jalan Merdeka Utara, Selasa (13/8/2019).

Sebab itu dia menegaskan, untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara menumpas KKB sampai akarnya. Kalau tidak Indonesia akan dinilai rendah.

"Tetapi apabila ada yang menyerang aparat polisi negara. Harus diselesaikan, harus diserang balik. Itu harus. Kalau diterima begitu saja itu salah," ungkap JK.

Dia mengatakan, sikap tegas dan membalas terkait tewasnya Briptu Hedar di wilayah Kampung Usir, Puncak, Papua bukanlah pelanggaran HAM.

"Itu bukan pelanggaran HAM, karena yang melanggar HAM siapa yang duluan. Sering orang, apalagi luar negeri menganggap semua pelanggaran HAM. Bagaimana HAM kalau yang meninggal TNI dan polisi lebih dahulu," ujar JK, Rabu (14/8/2019).

Bukan hanya karena satu korban di Papua, kata JK, TNI dianggap melanggar HAM. Dia menjelaskan Indonesia tergantung prosedural apa yang dibuat yaitu tergantung hukum yang ditegakkan.

Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto menyebut tewasnya Briptu Hedar karena tertembak KKB di Papua, merupakan bagian dari operasi militer.

"Kami sedang mengamankan daerah itu, ada yang ketembak, ada yang luka, itu bagian dari operasi. Bisa setiap hari terjadi," ujar Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Menurut dia, kasus tewasnya Briptu Hedar tidak perlu dipermasalahkan lagi. Wiranto meminta agar masyarakat mendoakan pasukan yang tengah bertugas mengamankan wilayah tersebut.

"Kita doakan suapaya pasukan kita selamat. Kita doakan ada kesadaran bahwa pelaku-pelaku yang disebut KKSB itu," kata dia.

Briptu Hedar ditemukan bersimbah darah dengan luka tembak ditubuhnya. (Liputan6.com/Facebook Haedar/Katharina Janur)

Olah TKP Ditembaki

Sementara itu, saat Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua bersama Satuan Reskrim Polres Puncak Jaya melakukan olah TKP kasus penembakan terhadap Briptu Hedar yang dipimpin Kompol Awaludin, polisi tiba-tiba saja ditembaki Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, olah TKP dilakukan pada Selasa 13 Agustus 2019 sekitar pukul 11.00 WIT.

"Pukul 11.27 WIT, pada saat olah TKP Briptu Hedar, tiba-tiba anggota mendapat tembakan dari arah seberang kali yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sehingga anggota langsung melakukan tembakan balasan serta melakukan pengejaran," kata Dedi dalam keterangannya, Rabu (14/8/2019).

Setelah satu jam anggota mengejar KKB dan sudah dianggap kondusif, olah TKP kembali dilanjutkan sekitar pukul 12.15 WIT.

"Pukul 13.15 WIT olah TKP selesai anggota kembali ke Pos Polisi Ilaga," ujarnya. Tak ada personel TNI-Polri yang terluka dalam serangan itu.

Dedi mengatakan, Polri telah mengidentifikasi KKB yang menyandera dan membunuh Briptu Hedar di Kampung Usir, Kabupaten Puncak, Papua. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan kelompok bersenjata di Papua itu beroperasi dengan membentuk kelompok gabungan di beberapa distrik.

"Sudah (diidentifikasi). Nanti saya kasih denahnya, saya lagi buat denahnya. Kelompok tersebut, jaringannya, kemudian pimpinannya," kata Dedi.

Menurut dia, beberapa kelompok gabungan ini memiliki tanggung jawab pada wilayah masing-masing.

"Di beberapa distrik, beberapa wilayah, dia punya pokgab masing-masing. Pokgab itu yang bertanggung jawab di wilayah itu, dan dia memiliki sub-sub komandan-komandan juga yang ikut beroperasi di wilayah-wilayah tersebut," tutur Dedi.

Oleh karena itu, tak mudah dalam menangkap kelompok ini. Hal tersebut diperparah dengan medan wilayah yang cukup berat.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, medan di Puncak tak seperti di Jakarta. Namun, dia menegaskan, polisi bersama TNI terus memburu kelompok yang membunuh Briptu Hedar tersebut.

4 of 4

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓