Pagi Jelang Idul Adha, Kualitas Udara Jakarta Ada di Level Merah

Oleh Liputan6.com pada 10 Agu 2019, 09:01 WIB
Diperbarui 10 Agu 2019, 09:01 WIB
Mencari Ibu Kota Baru Pengganti Jakarta
Perbesar
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (30/4/2019). Presiden Joko Widodo atau Jokowi kembali melontarkan wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke luar Pulau Jawa. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta - Kualitas udara Jakarta masih berada pada level merah atau tidak sehat berdasarkan situs pemantau kualitas udara internasional AirVisual sekitar pukul 06.00 WIB, Sabtu (10/8/2019) atau satu hari menjelang Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah.

AirVisual mencatat, pada hari ini, Jakarta mempunyai indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) sebesar 168 dengan parameter berupa partikel polutan sangat kecil berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM 2.5).

Konsentrasi PM 2.5 di udara Jakarta saat ini sebanyak 87,5 mikrogram per meter kubik. Padahal menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), batas konsentrasi PM 2.5 hanya 25 mikrogram per meter kubik dalam jangka waktu 24 jam.

Dengan begitu, lansir Antara, Jakarta berada di posisi teratas negara-negara dengan polusi udara terburuk di dunia.

Peringkat tersebut disusul oleh kota Dhaka, Bangladesh dengan angka AQI sebesar 158.

Rawamangun, Jakarta Timur, menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk dengan AQI sebesar 192. Lalu di bawahnya ada Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat, dengan AQI 172 dan Pegadungan, Jakarta Barat, dengan AQI 163.

 

2 dari 2 halaman

Tingkatkan Gangguan Jantung dan Paru-Paru

Mencari Ibu Kota Baru Pengganti Jakarta
Perbesar
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (30/4/2019). Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan, pemerintah saat ini masih terus mengkaji wilayah yang layak untuk menjadi ibu kota baru pengganti Jakarta. (Liputan6.com/JohanTallo)

Dengan angka AQI untuk rerata wilayah, kualitas udara Jakarta bisa meningkatkan gangguan pada jantung dan paru-paru.

Kelompok sensitif mempunyai risiko tinggi terganggu kesehatannya akibat kualitas udara buruk saat ini.

Untuk itu, kelompok sensitif direkomendasikan mengurangi kegiatan luar ruangan. Sementara masyarakat yang berkegiatan di luar rumah dianjurkan untuk mengenakan masker polusi.

Lanjutkan Membaca ↓