Listrik Padam, Pengusaha Retail Klaim Merugi hingga Rp 200 Miliar

Oleh Maria Flora pada 07 Agu 2019, 15:39 WIB
Diperbarui 07 Agu 2019, 15:39 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Gelap gulita, beginilah kondisi Stasiun Mass Rapid (MRT) bawah tanah saat listrik padam, Minggu, 4 Agustus kemarin. Moda raya terpadu itu pun mendadak berhenti beroperasi. Para penumpang juga terpaksa dievakuasi.

Bagi MRT, dampak listrik padam di Jakarta menyebabkan moda trasnportasi baru di Ibu Kota ini berpotensi kehilangan 52.800an penumpang di hari itu. Jika dikonversi ke rupiah, kerugian mencapai Rp 507 juta.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Rabu (7/8/2019), padamnya listrik membuat sejumlah toko retail terpaksa tutup.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) mengklaim kerugian yang diderita para anggotanya mencapai Rp 200 miliar.

"Termasuk barang dagangan yang rusak, mencair, belum termasuk biaya genset. Kami memprediksi Rp 200 miliar itu angka yang paling minim," kata Ketua Aprindo Nicholas Mandey.

Tidak hanya MRT dan usaha retail yang merugi akibat listrik padam, kegiatan belajar mengajar para siswa pun terpaksa diliburkan. Namun, Ombudsman perlu memverifikasi laporan dari masyarakat.

Menyingkapi kerugian yang di derita 22 juta pelanggannya, PT PLN berkomitmen untuk menggantinya dan telah menyiapkan dana sebesar Rp 865 miliar. Kompensasi akan diberikan kepada pelanggan di tagihan bulan Agustus yang dibayarkan di bulan September. (Rio Audhitama Sihombing)

Live Streaming

Powered by