Barang Istimewa dan Wejangan Mbah Maimun Zubair ke Tokoh Nasional

Oleh Rita Ayuningtyas pada 07 Agu 2019, 10:27 WIB
Diperbarui 09 Agu 2019, 02:13 WIB
Jokowi bersama KH Maimun Zubair. (BPMI)

Liputan6.com, Jakarta - "Laa ilaaha illallah," kalimat tahlil mengantar jenazah Mbah Maimun Zubair menuju peristirahatan terakhir di Kompleks Pemakaman Ma'la, di Makkah.

Beberapa jemaah terus menyebut nama Allah sambil menangis ketika melihat jenazah kiai yang akrab disapa Mbah Moen itu.

Ya, ulama besar tersebut dipanggil Sang Khalik, pukul 04.17 waktu setempat, Selasa 6 Agustus 2019. Meninggalnya Mbah Maimun Zubair meninggalkan duka bagi seluruh bangsa Indonesia.

Beberapa tokoh menceritakan kenangannya bersama Mbah Moen, di antaranya mereka yang mendapatkan barang-barang istimewa darinya

Berikut ini tokoh pernah diberi barang istimewa olah Mbah Maimun Zubair dan kenangan tentangnya:

2 of 5

Jokowi dan Sorban Hijau

Presiden Jokowi temui Mbah Moen di Ponpes Al-Anwar Rembang. (Liputan6.com/Lizsa Egeham)
Presiden Jokowi temui Mbah Moen di Ponpes Al-Anwar Rembang. (Liputan6.com/Lizsa Egeham)

Sosoknya yang karismatik dan sederhana membuat sosoknya banyak dicintai oleh banyak pihak. Salah satunya Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Kepergian Mbah Moen tidak saja sebuah kehilangan besar bagi saya dan keluarga besar Pondok Pesantren Al Anwar Rembang, Jawa Tengah, tapi juga umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia," ungkap Jokowi.

Jokowi mengaku memiliki banyak kenangan khusus dengan pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu.

Salah satunya ketika mantan gubernur DKI Jakarta ini salat berjemaah bersama di kediamannya, Ponpes Al-Anwar.

"Dua kali pula saya diajak masuk ke kamar beliau. Terakhir, kami salat Magrib berjamaah di kamar itu. Beliau yang jadi imamnya," ucap Jokowi di akun Instagramnya, Selasa (6/8/2019).

Menurut Jokowi, Mbah Maimun Zubair merupakan seorang kiai karismatik yang selalu menjadi rujukan bagi umat Islam. Sosoknya pun dinilai Jokowi sangat gigih dalam menjaga NKRI.

"Kita tahu bahwa beliau adalah kiai karismatik, kiai yang selalu menjadi rujukan rujukan bagi umat islam, terutama dalam hal fikih, dan beliau juga sangat gigih dalam menyampaikan masalah NKRI harga mati," kata Jokowi.

Jokowi juga mengenang ketika dia dikalungkan sorban hijau oleh Mbah Moen. Kenangan tersebut terlihat dari foto yang diposting di akun Instagramnya.

"Saya masih menyimpan sorbah hijau ini--sorban yang dikalungkan sendiri oleh Kiai Haji Maimun Zubair", ucap Jokowi.

 

 
 
 
View this post on Instagram

Saya masih menyimpan sorban hijau ini -- sorban yang dikalungkan sendiri oleh Kiai Haji Maimun Zubair. Sudah dua kali saya berkunjung ke kediaman beliau di Pondok Pesantren Al-Anwar di Sarang, dua kali pula saya diajak masuk ke kamar beliau. Terakhir, kami salat Magrib berjamaah di kamar itu. Beliau yang jadi imamnya. Dan hari ini, kita mendengar kabar duka, Mbah Moen berpulang ke hadirat Allah SWT di Makkah. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kepergian Mbah Moen tidak saja sebuah kehilangan besar bagi saya dan keluarga besar Pondok Pesantren Al Anwar Rembang, Jawa Tengah, tapi juga umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia. Semasa hidupnya yang panjang, Mbah Moen begitu karismatik, selalu jadi rujukan bagi umat Islam terutama dalam soal-soal fikih. Juga kegigihan almarhum dalam menyampaikan masalah "NKRI harga mati". Atas nama keluarga dan rakyat Indonesia, saya menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga Allah SWT memberinya tempat yang lapang di sisiNya, dan segenap keluarga yang ditinggalkan kiranya diberi kekuatan dan kesabaran. Amin Ya Rabbal Alamin.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

3 of 5

Gus Miftah dan Parfum Mbah Moen

Gus Miftah (Switzy Sabandar)
Gus Miftah (Switzy Sabandar)

Kiai nyetrik asal Yogyakarta, Gus Miftah Maulana Habiburrahman atau kerap dipanggil Gus Miftah mengenang Mbah Moen sebagai sosok yang penting dalam perjalanan karirnya berdakwah. Saat diterpa pro dan kontra karena berdakwah di tempat hiburan malam, Gus Miftah mengungkapkan, Mbah Moen menjadi salah seorang ulama yang mendukungnya terus berdakwah.

Selain itu, Mbah Moen pun sempat memberi beberapa barang kepada Gus Miftah. Barang-barang ini dibawa oleh orang dekat Mbah Moen dan diberikan kepada Gus Miftah.

"Mbah Moen kasih saya surban, sandal dan parfum. Kemarin Lebaran diantar ke pondok melalui orang dekat beliau. Saya Lebaran belum sempat ke sana," ungkap Gus Miftah.

4 of 5

Oleh-Oleh Wejangan

Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen
Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen menerima tamu di Makkah. (Istimewa)

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi mengungkap beberapa nasihat KH Maimun Zubair atau Mbah Moen sebelum wafat di Makkah, Arab Saudi, Selasa (6/8/2019). Nasihat itu diterima Baidowi saat sowan ke Mbah Moen di Makkah beberapa hari lalu.

Pria yang akrab disapa Awiek ini mengatakan, Mbah Moen menyoroti beberapa hal terkait dunia Islam. Katanya, Mbah Moen menilai masyarakat Indonesia sudah semakin taat dalam beribadah.

"Tentang keislaman, beliau menceritakan bahwa kesadaran umat Islam di Indonesia untuk beribadah semakin tinggi. Bahkan beliau menyebut ada kenaikan hingga 70 persen tingkat ketaatan beribadah," kata Awiek dalam keterangan tertulisnya.

"Namun beliau juga mengingatkan bahwa sekarang ini sedikit ulama yang alim dibanding ulama yang karismatik," sambungnya.

Awiek menjelaskan maksud Mbah Moen menyinggung keberadaan ulama di Tanah Air. Menurutnya, saat ini banyak mubaligh bukan karena tingginya keilmuan yang dimiliki, melainkan karena ketenarannya. "Dan ini tantangan bagi generasi kita ke depan," ucapnya.

Awiek menambahkan, Mbah Moen juga menyinggung masalah ekonomi Indonesia. Menurutnya, banyak usaha di Indonesia yang sudah dikuasai asing.

"Pertama rokok kretek, yang asli Indonesia dulunya dimiliki oleh saudagar muslim tapi sekarang sudah dimiliki pengusaha China. Bahkan orang merokok melinting pun sudah nyaris tidak ada lagi," ucapnya.

"Kedua, jamu tradisional juga banyak dimiliki pengusaha China. Ketiga, ragi tape juga usahanya sudah digeluti pengusaha China. Padahal tape itu makanan khas orang Indonesia. Hal itu terjadi karena lemahnya kesadaran wirausaha umat Islam Indonesia," imbuhnya.

 

Reporter: Syifa Hanifah

Sumber: Merdeka

5 of 5

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓