Menag: Tidak Ada Ulama yang Menandingi Mbah Moen

Oleh Nurmayanti pada 06 Agu 2019, 10:54 WIB
Diperbarui 08 Agu 2019, 10:13 WIB
Romi buka Rapimnas II PPP versi muktamar Surabaya

Liputan6.com, Makkah - - Ulama besar Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen wafat di Makkah al Mukaromah. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang tersebut wafat usai menunaikan Salat Subuh.

Menteri Agama Lukman Hakim Syarifuddin mengatakan seluruh umat Islam di Tanah Air bersedih atas kepulangan Mbah Moen. Menurut Lukman, Mbah Moen adalah tokoh yang alim dan memiliki akhlak mulia.

"Alim, akhlaknya mulia, nyaris tidak ada ulama yang menandingi," kata Lukman di Makkah, Selasa (6/8/2019).

Mbah Moen, kata dia, adalah tokoh yang dapat menjadi orangtua, guru dan panutan semua umat muslim di Indonesia.

"Sekali lagi kita kehilangan. Allah menakdirkan sesuatu yang baik kepada beliau," kata dia.

Lukman berharap murid-muridnya dapat menggantikan peran Mbah Moen di tengah masyarakat.

2 of 3

Rujukan Ulama Indonesia

Selama ini, Kiai Maimun merupakan rujukan ulama di Indonesia dalam bidang fikih karena menguasai secara mendalam ilmu fikih dan ushul fikih.

Kiai yang karib disapa Mbah Moen ini juga merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa sekaligus mendalami ilmu di Arab Saudi.

Lahir di Sarang, Rembang, 28 Oktober 1928, kiai sepuh ini mengasuh pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Dia merupakan putra dari Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih. Kiai Zubair merupakan murid dari Syaikh SaĆ­d al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Selama hidupnya, Kiai Maimun memiliki kiprah sebagai penggerak. Ia pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun. Selain itu, Beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Mbah Moen juga diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

3 of 3

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓