Nelayan Keluhkan Tangkapan Berkurang Akibat Tumpahan Minyak di Kepulauan Seribu

Oleh Liputan6.com pada 02 Agu 2019, 12:59 WIB
Cuaca Buruk, Nelayan Muara Angke Libur Melaut

Liputan6.com, Jakarta - Nelayan di Dermaga Baru Muara Angke, Jakarta Utara mengeluhkan hasil tangkapan ikan menjadi berkurang, diduga akibat tumpahan minyak mentah milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang. Tumpahan minyak ini memang sudah mulai menyebar hingga Kepulauan Seribu.

"Ikannya banyak mengambang gara-gara airnya berminyak," kata pengurus kapal nelayan Andi, di Dermaga Baru Muara Angke, Jakarta, Jumat (2/8/2019) seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan, kondisi tersebut telah dirasakannya sejak tiga hari yang lalu. Akibatnya, hasil tangkapan ikan menurun hingga 40 persen.

Nelayan-nelayan harian yang biasa berangkat melaut sejak pukul 06.00 WIB itu biasa menangkap ikan di perairan Tanjung Priok hingga Kepulauan Seribu.

Menurut Andi, biasanya, dia dapat menangkap ikan termasuk ikan tembang dan rajungan hingga lima kuintal. Saat ini, dia hanya mampu menangkap ikan sekitar dua kuintal per hari.

Namun, ia menyatakan meskipun limbah minyak mempengaruhi tangkapannya, ia memastikan ikan yang ditangkap masih segar.

"Ikannya segar tapi kayak mabok begitu," ujarnya lagi.

Dia mengakui tumpahan minyak di Kepulauan Seribu membuat konsumennya khawatir, ikan yang ditangkapnya beracun.

Nelayan di Kampung Marunda Kepu, Jakarta Utara juga mengeluhkan hal yang sama.

"Jadi saya melaut, cari ikan, itu ikan sampai tidak ada, sampai tidak dapat saya, sudah beberapa hari karena kena minyak itu," kata seorang nelayan, Banglah, di Kampung Marunda Kepu di Jakarta Utara, Jumat.

Banglah merupakan nelayan yang biasanya melaut di perairan Muara Gembong hingga Kepulauan Seribu.

Sebelumnya, per hari bapak delapan anak itu biasanya dapat menangkap ikan termasuk udang dan rajungan rata-rata 20-30 kilogram.

Saat ini, nelayan berusia 50 tahun itu hanya mampu menangkap ikan sekitar dua kilogram per hari.

Ia memperkirakan berkurangnya tangkapan ikan itu karena lingkungan laut yang sudah berubah.

"Airnya berwarna hitam kayak comberan," katanya.

Tak hanya tumpahan minyak, ia juga kerap menghadapi limbah yang juga mengotori laut.

Meski demikian, ia memutuskan tetap melaut karena untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan menghindari kawasan tersebut.

Sebelumnya, kebocoran minyak dan gas terjadi di pesisir utara Jawa Barat, Jumat 12 Juli 2019 di sekitar anjungan lepas pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), dan saat ini sudah mencapai Kepulauan Seribu, Jakarta.

PT Pertamina (Persero) mengklaim volume tumpahan minyak di pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat saat ini tersisa 10 persen dari volume awal, yakni 3.000 barel per hari (bph).

2 of 3

Pembersihan Dilakukan Pemkab dan Pertamina

Tumpahan minyak yang berhasil dikumpulkan
Tumpahan minyak yang berhasil dikumpulkan (Foto: Humas Kep Seribu)

Tujuh pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu terkena dampak tumpahan minyak dari sumur migas Pertamina. Tumpahan minyak tersebut terjadi sejak Juli 2019 lalu.

Bupati Kepulauan Seribu Husain Murad mengatakan, pihaknya akan terus menyisir dan membersihkan sisa-sisa tumpahan minyak yang mengalir dan menyangkut di pantai atau daratan di Kepulauan Seribu.

"Kita sudah sejak tanggal 22 kemarin sudah lakukan pengumpulan oil spill di daratan atau yang terdampar pantai kita, terutama Untung Jawa," kata Husein saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (2/8/2019).

Pemkab Kepulauan Seribu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Petugas Pertamina membagi tugas pembersihan tumpahan minyak tersebut.

"Kita bersihkan dan kumpulkan terutama dengan PPSU dan dan Dinas LH dan petugas Pertamina sendiri. Sudah diangkut oleh pemerintah sampah kotoran itu," ucap Husein.

"Pihak Pertamina karena karena pakai kapal dia bersihin di laut. Kalau petugas kita, bersihin yang sampai darat," tambah dia.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓