Pemerintah Diminta Persiapkan Infrastruktur yang Tahan Gempa

Oleh Yopi Makdori pada 01 Agu 2019, 15:05 WIB
Diperbarui 02 Agu 2019, 11:16 WIB
Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti diagendakan bersaksi di Pengadilan Tipikor

Liputan6.com, Jakarta - Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia (UI) Dorodjatun Kuntjoro-Jakti merekomendasikan kepada pemerintah agar tak hanya memfokuskan diri pada pembangunan infrastruktur. Melainkan juga membuat infrastruktur itu tahan bencana.

"Pemerintah (harus) mencoba untuk mempersiapkan ketahanan kita (terhadap bencana) di seluruh proyek infrastruktur yang sedang kita bangun saat ini," kata Dorodjatun di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (1/8/2019).

Menurutnya, hal itu disebabkan banyak proyek infrastruktur yang sedang berjalan maupun yang sudah ada berada di wilayah rawan bencana. Misalnya saja pembangunan tol, jembatan dan juga infrastruktur listrik baik di Jawa maupun di Sumatera banyak melalui jalur pegunungan dan wilayah rawan bencana.

Ketahanan menghadapi bencana, kata Dorodjatun, perlu diadakan dalam pembangunan infrastruktur supaya proyek yang nilainya miliaran rupiah itu tidak sia-sia karena rusak akibat bencana.

"Saya kira pemeliharaan dari apa yang sudah dibangun ini menjadi sangat penting. Jadi karena itu, infrstruktur dibangun terus harus dipersiapkan untuk menghadapi bencana alam," jelasnya.

Dorodjatun juga menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang amat penting di dunia. Selain sebagian wilayahnya merupakan jalur perdagangan yang setiap harinya tidak kurang dari 5.000 kapal melewati Selat Malaka, Indonesia juga wilayah yang penting untuk menopang kebutuhan bahan tambang dunia.

Oleh kerenanya, jika terjadi bencana yang menggangu infrastruktur di Indonesia, maka bukan tidak mungkin aktivitas perekonomian pun turut terdampak.

2 dari 3 halaman

2 Hal yang Disiapkan untuk Mitigasi

Dorodjatun mengatakan ada dua yang perlu dipersiapkan dalam memitigasi bencana di seluruh wilayah Indonesia.

Pertama ialah menjadikan seluruh perguruan tinggi yang berada di sekitar wilayah berpotensi bencana sebagai pusat kajian kebencanaan di daerah tersebut.

"Yang pertama analisa atas data senter yang dibangun atas kerjasama dengan berbagai universitas di daerah-daerah yang pekat terhadap bencana," katanya.

Kedua, lanjut Dorodjatun, ialah mensiagakan pasukan TNI di sekitar wilayah rawan bencana. Hak itu supaya ketika terjadi bencana TNI bisa sigam membantu.

"Dari TNI saya kira perlu dipersiapkan. Betul-betul kesiagaan dari Zeni TNI diperlukan. Bukan hanya di darat tetapi juga di laut, bandara," tegasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓