Ini Titik yang Perlu Diwaspadai Saat Musim Kemarau Menurut BMKG

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Jul 2019, 06:53 WIB
Diperbarui 31 Jul 2019, 07:17 WIB
Penampakan Sungai di Prancis yang Kering Akibat Gelombang Panas

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak Juli lalu. Musim ini akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Sejumlah daerah pun diperkirakan terdampak musim kering tersebut.

Daerah-daerah terdampak kemarau biasanya adalah lahan pertanian.

"Kebanyakan ini sentral produksi padi. Mulai dari Sumatera Selatan, Jawa, Pantura," kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Namun, tak hanya itu. Daerah permukiman warga juga bakal terdampak musim kemarau.

"Meliputi daerah-daerah pertanian dan penduduk, yang kerawanannya air bersih. Jadi air untuk pertanian dan air bersih," ujar Dodo.

 

2 dari 3 halaman

Titik Panas

Pekarangan Warga di KBB Alami Kekeringan
Kondisi tanaman yang mengering bantaran kanal banjir barat (KBB), Jakarta, Kamis (25/7). Musim kemarau panjang yang terjadi di Ibu Kota menyebabkan pekarangan warga di sepanjang KBB mengalami kekeringan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Berdasarkan data BMKG tentang titik panas atau hotspot per 28 Juli 2019, ada 1 titik di Aceh, juga Sulawesi Tenggara. Kemudian di Jawa Tengah, NTB, dan Sumatera Selatan, masing-masing ada 2 titik. Menyusul Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, ada 3 titik.

Kemudian, Kalimantan Utara dan Lampung, 4 titik. Lalu, Kepulauan Bangka Belitung ada 5 titik. Kalimantan Timur dan Riau ada 6 titik. Sedangkan Jambi 7 titik.

Sebagian besar titik api itu ada di Jawa Timur 9 titik, Kalimantan Barat 11 titik, NTT 14 titik. Kalimantan Selatan ada 22 titik dan Kalimantan Tengah 69 titik.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓