Kemenko PMK: Kebakaran Hutan Tak Bisa Diatasi dengan Water Booming

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Jul 2019, 02:03 WIB
20151019-Ilustrasi-Kebakaran-Hutan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus berupaya mengantisipasi kebakaran hutan atas dampak musim kemarau atau kekeringan tahun ini.

Meski demikian, Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Dody Hargo Usodo, mengatakan, sangat sulit jika mengatasi kebakaran hutan hanya dengan water booming.

"Kebakaran itu hanya bisa dihentikan dengan curah hujan. Kalau water booming itu hanya di permukaan. Kalau curah hujan sampai meresap ke dalam," ucap Dody di kantornya, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Menurut dia, gambut di Indonesia memiliki kedalaman yang sangat berbeda dari wilayah lain.

"Gambut di bumi kita ini, kedalamannya sampai 36 meter," ungkap Dody.

Dia mengatakan, jika lahan gambut di Indonesia, dengan tingkat kedalaman tersebut, akan membuat penanganan kebakaran hutan menggunakan water booming, sulit.

"(Misalnya) di permukaan sudah mati, tahu-tahunya di kedalaman 15 meter masih menyala," pungkasnya.

2 of 3

Kekeringan

Sementara, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, peristiwa 2015 tidak akan terjadi pada 2019, sebab tahun ini El Nino sangat lemah.

"2015 ada El Nino. Sekarang lemah. Sehingga tidak sebesar itu potensi ancamannya," ucap Tri di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan juga menjelaskan, peristiwa 2015 menjadi mimpi buruk. Namun setelah itu pihaknya terus melakukan evalusi.

Sebab, koordinasi lintas sektor berjalan dengan baik, sehingga pasca 2015 hampir tidak ada peristiwa serupa lagi.

"Sejak itu jumlah kebakaran hutan makin menurun. Cuaca fluktuasi tapi kesiapan lebih dikencangkan. Ini titik balik 2015," pungkasnya.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓