HEADLINE: Rentetan Gempa di Indonesia, Ring of Fire Bergolak?

Oleh Afra AugestiRinaldo pada 30 Jul 2019, 00:09 WIB
Gempa Banten

Liputan6.com, Jakarta - Sarif Hidayat, warga Tajur, Kota Bogor, Jawa Barat baru akan beranjak ke peraduan ketika merasakan kursi yang dia duduki bergoyang. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 21.25 WIB, Minggu 28 Juli 2019.

"Lagi duduk sambil nonton televisi tiba-tiba kursi kok goyang," kata Sarif Hidayat.

Tak hanya Sarif, sejumlah warga Kota Bogor lainnya juga merasakan lindu berkekuatan magnitudo 5,2 yang berpusat di Bayah, Banten. Tak ada yang aneh, karena sepanjang dua pekan terakhir, Liputan6.com mencatat puluhan gempa menggoyang sejumlah kawasan di Indonesia.

Bahkan, 270 gempa bermagnitudo 2-5 tercatat terjadi di berbagai penjuru dunia sepanjang Minggu 28 Juli 2019. Lindu-lindu ini terdeteksi pemantau gempa di United States Geological Survey (USGS). Ada 10 negara yang diguncang gempa tersebut, termasuk Indonesia dengan gempa Bayah, Banten.

Yang membedakan dengan negara lain, di Indonesia rentetan gempa terjadi hampir setiap hari sejak pertengahan Juli 2019. Hal ini memunculkan dugaan bahwa rentetan gempa tersebut merupakan pertanda bakal datangnya gempa dalam skala besar di kemudian hari.

Pakar gempa pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, seringnya gempa tidak bisa dijadikan sinyal atau pertanda bahwa akan terjadi gempa besar dalam waktu dekat.

"Secara umum tidak bisa. Perlu lebih banyak riset yang mendalam untuk setiap sesar aktifnya, supaya bisa ada prediksi atau analisa yang khusus," ungkap Danny kepada Liputan6.com, Senin (29/7/2019).

Kendati demikian, doktor di bidang geologi kegempaan pertama di Indonesia itu memastikan, serentetan gempa di kawasan Timur Indonesia itu terkait dengan sesar yang ada. Demikian pula jika dihubungkan dengan erupsi Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Bromo.

"Ya, jalur sesar aktif banyak sekali tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dan, meski sistem gempa dan gunung api sebenarnya terpisah, bisa saja ada interaksi apabila lokasinya cukup berdekatan," papar Danny.

 

Infografis Rentetan Gempa di Cincin Api Pasifik. (Liputan6.com/Triyasni)

Sementara, pakar mitigasi bencana gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengatakan, rentetan gempa merupakan bukti sekaligus pesan bahwa wilayah tersebut secara tektonik aktif dan bukan tak mungkin menyimpan potensi gempa yang lebih besar.

"Kalau gempanya sangat kecil, seperti magnitudo 5 atau 6, itu tidak signifikan melepaskan energi gempa yang lebih besar. Kecuali kalau rentetan gempa magnitudo 7 atau 8, itu baru signifikan. Kalau skala 5 itu jauh sekali, kita butuh ribuan gempa skala 5 untuk melepaskan energi gempa besar yang belum terjadi," ujar Irwan kepada Liputan6.com, Senin (27/7/2019).

Menurut dia, bukan tidak mungkin justru gempa-gempa kecil tersebut membawa pesan dan sedang bercerita bahwa ada potensi gempa di masa depan yang lebih besar.

"Mereka tidak sedang bercerita bahwa kami keluar yang kecil-kecil dan yang besar tak akan keluar. Justru cerita yang mereka bawa, 'kita ini ada lho' dan mungkin akan menghasilkan gempa yang besar," papar Irwan.

Namun, lanjut peneliti Geodesi dan Kegempaan ITB ini, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa rentetan gempa itu pasti akan menjadi gempa besar di kemudian hari. Dia beralasan, gempa yang terjadi pertama kali tak bisa dikatakan sebagai gempa awal atau pertanda sebelum bergerak menjadi besar.

"Walaupun ada kasus gempa yang diawali oleh gempa kecil kemudian diikuti yang besar, seperti gempa di San Francisco beberapa bulan lalu dan Lombok tahun lalu pada skala 7 yang diawali gempa skala 6. Itu tak bisa digeneralisir," tutur Irwan.

Lantas, apa upaya yang harus dilakukan agar rentetan gempa yang terjadi tidak menjadi kepanikan di masyarakat?

2 of 5

Jangan Panik, Tak Boleh Cuek

Gempa Bali
Pemuka agama memantau kerusakan pada bagian candi yang runtuh akibat gempa di Pura Lokanatha, Denpasar, Bali, Selasa (16/7/2019). Gempa Magnitudo 5,8 yang mengguncang Bali tidak menimbulkan korban jiwa, tapi sejumlah bangunan di beberapa kawasan mengalami kerusakan. (AP/Firdia Lisnawati)

Tak bisa disangkal, kepanikan warga selalu menyertai peristiwa gempa. Sebagai negara yang 'akrab' dengan lindu, hal ini seolah menjadi ironi karena kita tak kunjung bisa beradaptasi dengan fenomena alam yang satu ini.

"Harus ada pendidikan pengetahuan kegempaan dan gunung api yang masif dan intensif, baik formal dan informal, supaya masyarakat dan pemerintah lebih paham, sehingga bisa memitigasi bahayanya. Tapi juga tidak menjadi panik yang tidak perlu," tegas Danny Hilman.

Selain itu, dia juga menyesalkan minimnya riset dan data tentang gempa. Bagi dia, hal ini semakin membuktikan bahwa pemerintah belum menganggap hal ini penting.

"Atau barangkali (pemerintah) belum paham bagaimana untuk men-support mitigasi gempa," pungkas Danny.

Senada, Irwan Meilano mengatakan, kewaspadaan itu sangat penting tanpa kemudian menjadikannya sebagai sumber kepanikan. Sebaliknya, publik juga tak bisa cuek atau tidak peduli.

"Menurut saya, sikap yang terbaik adalah mewaspadai dan menyadari bahwa adalah sebuah keniscayaan kita hidup di kawasan yang punya sesar aktif, dan kewaspasaan itu harus di semua level," ujar Irwan.

Dia melanjutkan, yang diharapkan untuk berperan lebih strategis adalah pemerintah daerah, yang harus aware dengan konsep tata ruang. Dengan cara ini, beban untuk memahami persoalan gempa tidak sepenuhnya berada di masyarakat.

"Pemerintah daerah di era otonomi daerah harus membuat perencanaan tata ruang dengan memasukkan potensi bencana di dalamnya. Menurut saya cara ini akan menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak," ujar Irwan.

Di sisi lain, dia mengapresiasi keberadaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat. Dengan adanya lembaga ini, pemahaman akan bencana gempa bisa tersampaikan, sehingga tak perlu lagi ada kepanikan yang mengiringi setiap lindu.

"Indikatornya sederhana, kalau masyarakat masih panik, berarti ada sesuatu yang tak tersampaikan secara utuh kepada masyarakat. Berarti proses pendidikan kesadaran akan bencana itu belum sampai pada level masyarakat," ujar Irwan.

"Yang jelas, kita tak perlu khawatir yang berlebihan dengan rangkaian gempa ini, tapi jangan mengurangi kewaspadaan. Itu pesan yang ingin saya sampaikan," pungkas Irwan.

3 of 5

2 Pekan Bersama Lindu

Gempa Bumi
Ilustrasi Gempa Bumi (iStockphoto)

Belasan kali gempa menggoyang wilayah Indonesia sepanjang dua pekan terakhir. Namun, tak semuanya dirasakan atau menimbulkan kepanikan di kalangan warga. Berikut catatan Liputan6.com tentang lindu yang menggoyang wilayah Nusantara dua pekan terakhir dengan kekuatan magnitudo di atas 5.

Selasa 16 Juli 2019

Gempa dengan magnitudo 5,8 menggoyang Kota Negara, Kabupaten Jembrana, Bali pada pukul 07.18 WIB. Pusat gempa terletak pada koordinat 9,08 Lintang Selatan dan 114,55 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 80 km arah selatan Kota Negara pada kedalaman 104 km. Hingga pukul 09.00 WIB, terjadi 7 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

Kamis 18 Juli 2019

Gempa terjadi pada pukul 05.59 WIB dan menggoyang kawasan Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Lindu dengan magnitudo 5 tersebut berpusat pada kedalaman 559 kilometer di 99 kilometer timur laut Larantuka.

Sabtu 20 Juli 2019

Gempa dengan magnitudo 5 menggoyang Pulau Seram Bagian Barat, Maluku pada pukul 04.24 WIB. BMKG dalam situsnya menyebutkan, pusat gempa berada di 34 kilometer barat laut Seram Bagian Barat. Sementara titik gempa berada di koordinat 2,76 Lintang Selatan dan 12,13 Bujur Timur dengan kedalaman gempa 10 kilometer.

Senin 22 Juli 2019

Gempa dengan kekuatan magnitudo 5,1 kembali menggoyang Maluku pada pukul 11.08 WIB. BMKG menyebutkan, lokasi gempa berada di 59 kilometer tenggara Seram bagian timur, Maluku, dengan kedalaman 12 kilometer.

Rabu 24 Juli 2019

Gempa juga kembali menggoyang Bali pada pukul 20.17 Wita dengan kekuatan magnitudo 5,3 dengan titik episenter 10.57 Lintang Selatan dan 115.00 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa yang tidak berpotensi tsunami ini berada di posisi 198 kilometer barat daya Nusa Dua dan 212 kilometer barat daya Denpasar.

Minggu 28 Juli 2019

Gempa dengan magnitudo 5,2 menggoyang Bayah, Banten, pukul 21.25 WIB. Dikutip dari laman BMKG, lokasi gempa Bayah berada di 59 km Barat Daya Bayah-Banten, dengan kedalaman mencapai 10 kilometer. Sementara, koordinat titik gempa terjadi di 7.42 Lintang Selatan dan 106.03 Bujur Timur.

Senin 29 Juli 2019

Gempa dengan magnitudo 5 menggoyang wilayah Sumba, NTT pada Senin (29/7/2019) malam pukul 19.42 WIB. Gempa berlokasi di 9.78 Lintang Selatan dan 118.06 Bujur Timur, tepatnya 104 Km Barat Daya Kodi, Sumba Barat Daya dengan kedalaman 10 Km.

 

4 of 5

270 Gempa Bumi dalam 24 Jam

Sementara itu, sebanyak 270 gempa bumi bermagnitudo 2-5 tercatat terjadi di berbagai penjuru dunia pada Minggu, 28 Juli 2019, selama 24 jam. Lindu-lindu ini terdeteksi oleh United States Geological Survey (USGS).

Dari laporan tersebut, yang dipublikasikan dalam volcanodiscovery.com, ada 10 negara yang diguncang gempa dengan kekuatan magnitudo 4 hingga 5. Kesepuluh negara tersebut, adalah; New Ireland Region (Papua Nugini) - 5,2 (03.19 waktu setempat), Selandia Baru - 5,1 (07.27 waktu setempat), Pulau Jawa - 5,0 (14.25 WIB), Pulau Solomon (Pasifik) - 4,9 (08.59 waktu setempat), Jawa bagian selatan (Indonesia) - 4,8 (00.02 WIB), Dekat Pantai Timur Kamchatka - 4,7 (09.53 waktu setempat), Mona Passage (Republik Dominiko) - 4,7 (16.02 waktu setempat), N of La Romana (Republik Dominiko) - 4,7 (16.02 waktu setempat), Pulau Ryuku (Jepang) - 4,7 (17.50 waktu setempat), Philippine Islands Region (Indonesia) - 4,7 (22.49 waktu setempat).

Wilayah-wilayah yang terkena gempa tersebut adalah daerah yang dilalui oleh Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Tak terkecuali Indonesia. 

Cincin Api Pasifik, juga disebut sebagai Sabuk Circum-Pasifik (Circum-Pacific Belt), adalah jalur di sepanjang Samudra Pasifik yang ditandai oleh gunung berapi aktif dan gempa bumi yang sering terjadi.

Panjangnya sekitar 40.000 kilometer (24.900 mil). Ring of Fire berada di batas-batas antara beberapa lempeng tektonik, termasuk Pasifik, Juan de Fuca, Cocos, Indo-Australia, Nazca, Amerika Utara, dan Lempeng Filipina.

Tujuh puluh lima persen gunung berapi di Bumi -- lebih dari 450 -- terletak di sepanjang Ring of Fire. Sedangkan 90 persen gempa bumi terjadi di Cincin Api Pasifik, termasuk peristiwa seismik paling ganas dan dramatis di planet ini.

Seperti dilansir dari Express.co.uk, sebanyak 452 gunung berapi membentang dari ujung selatan Amerika Selatan, di sepanjang pantai Amerika Utara, melintasi Selat Bering, kemudian ke Jepang, Indonesia, dan ke Selandia Baru. Namun, beberapa gunung berapi aktif dan tidak aktif ada di Antartika, "menutup" cincin itu.

Sebagian besar gunung berapi aktif di Cincin Api Pasifik ditemukan di tepi barat, dari Semenanjung Kamchatka di Rusia, melalui pulau-pulau Jepang dan Asia Tenggara, lalu ke Selandia Baru.

Gunung Ruapehu di Selandia Baru adalah salah satu gunung berapi yang paling aktif di Ring of Fire, dengan letusan kecil tahunan dan letusan besar terjadi sekitar setiap 50 tahun. Tingginya 2.797 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung itu adalah bagian dari Arc Volcanic Taupo, di mana lempeng Pasifik yang padat berada di bawah lempeng Australia. 

 

5 of 5

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓