Menanti Kejutan Reuni Prabowo dan Megawati

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 24 Jul 2019, 00:05 WIB
Radityo/Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - Sepuluh hari usai bertemu Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu 13 Juli 2019 lalu, Prabowo Subianto direncanakan kembali berjumpa dengan Presiden terpilih tersebut. Agenda itu akan berlangsung pada Rabu (24/9/2019).

Namun dalam rencana perjamuan itu, ada yang berbeda. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri disebut-sebut akan hadir dalam pertemuan tersebut.

"Kalau tidak ada halangan besok, Pak Prabowo, Ibu Mega, dan Kangmas Joko Widodo bertemu," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono dalam pesan singkatnya, Selasa (23/7/2019).

Dia menambahkan, waktu pertemuan ketiganya akan berlangsung pada pukul 12.00 WIB. Terkait tempat, ia mengaku belum dibicarakan. "(Tempatnya) nanti dulu lagi diatur dulu ini," kilahnya.

Banyak hal yang akan dibahas dalam pertemuan itu, termasuk persoalan koalisi. Arief mengungkapkan, masalah jatah kursi pimpinan DPR dan MPR juga masuk dalam agenda pembahasan.

"Terus bagaimana juga mengatur susunan di DPR dan MPR," kata Arief saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Sabtu 20 Juli 2019.

Hubungan Ketua Umum Partai Gerindra dengan Megawati diakuinya memang terjalin dengan baik. Keduanya bahkan sudah seperti keluarga.

"Bu Mega sama Pak Prabowo tuh kayak kakak-adik. Mereka tuh bersahabat, sangat bersahabat," kata Arief.

Menurut Arief, keduanya juga sering bertemu tanpa sepengetahuan awak media. Pertemuan mereka banyak membahas negara dan kondisi perpolitikan di negeri ini.

"Karena mereka kan sangat berteman. Keluarga Soekarno dengan keluarga Soemitro itu setiap tahun mengadakan pertemuan mereka," ucap Arief.

Bahkan, kata Arief, kedekatan Megawati dengan Prabowo lebih erat ketimbang dengan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Beda misalnya Bu Mega dengan SBY. Bu Mega itu lebih menerima Pak Prabowo dibanding Pak SBY. Lebih akrab dengan Pak Prabowo, lebih terbuka dengan Pak Prabowo," ujar Arief.

 

2 of 3

Bukan Hal Aneh

Ketua nonaktif DPP PDIP Puan Maharani mengajak Megawati dan Prabowo-Sandiaga melakukan wefie atau foto bersama.
Ketua nonaktif DPP PDIP Puan Maharani mengajak Megawati dan Prabowo-Sandiaga melakukan wefie atau foto bersama. (Istimewa)

Sementara itu Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membenarkan pertemuan Prabowo dengan Megawati. Menurutnya, hal ini sebagai tradisi silaturahim yang baik untuk dijalankan para pemimpin

Dia menuturkan, tak ada yang aneh dengan pertemuan itu. Karena saat kampanye Pilpres 2019 lalu, hubungan keduanya terjalin dengan baik, saling menghormati dan tidak pernah terlontar hal-hal yang membuatnya berjarak.

"Ibu Mega percaya pada kenegarawanan Pak Prabowo dan sama halnya dengan Pak Jokowi. Kepemimpinan yang memersatukan dan diwarnai dengan dialog antarpemimpin, merupakan hal yang memang seharusnya dilakukan," kata Hasto saat dikonfirmasi, Selasa (23/7/2019).

Adapun tentang waktu pertemuan tersebut, dia mengatakan akan memberikan informasi lebih lanjut jika waktunya tepat.

"Adapun tentang kapan dan di mana pertemuan itu, akan kami informasikan lebih lanjut," ungkap Hasto.

Dia menegaskan, pertemuan ini menyangkut aspek mendasar, persahabatan antarpemimpin. Meski dalam pilihan politik berbeda, keduanya tetap memiliki komitmen untuk berdialog dan meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya.

"Pertemuan itu jangan dimaknakan terlalu jauh dengan pembentukan koalisi. Sebab terkait koalisi pascapilpres, fatsunnya harus dibahas bersama antara Presiden dengan seluruh ketum partai koalisi," tegas Hasto.

Agenda pertemuan Prabowo dengan Megawati itu diapresiasi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dia menilai, pertemuan tersebut adalah sebuah hal positif.

"Saya belum tahu, ya tentu setiap silaturahim pertemuan pasti positif, tidak ada rugi," kata Jusuf Kalla di kantornya, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2019).

pertemuan Jokowi, Prabowo, dan Megawati tidak akan terjadi negosiasi. Namun akan terjadi rekonsiliasi untuk membuat suasana politik menjadi lebih baik.

"Tentu saya kira bukan negosiasi, kalau negosiasi tidak ramai-ramai. Kalau negosiasi, Anda tidak tahu, berarti tidak diumumkan kan. Nah itu rekonsiliasi lah, atau setidak-tidaknya suasana yang baik dalam politik ini," ungkap JK.

Kata rekonsiliasi mencuat sejak pertemuan Jokowi dengan Prabowo usai Pilpres 2019. Keduanya sepakat mengajak untuk meninggalkan diksi kampret dan cebong agar bersatu kembali membangun bangsa.

Dikatakan Wakil Sekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade, rekonsiliasi ini dimaksudkan agar Indonesia kembali guyub dan tensi antarpendukung dapat turun. Saat ini, banyak persoalan bangsa yang harus diselesaikan. Terutama terkait ekonomi yang dinilainya tengah merosot.

"Menatap menyelesaikan PR bangsa yang begitu besar, kemerosotan ekonomi global, listrik yang mahal dan lainnya. Banyak PR saat ini. Untuk itu, saatnya kita kembali bersama-sama unutuk guyub kembali, membangun bangsa kembali setelah kompetisi selesai," ujar Andre saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu 13 Juli 2019.

Dia tidak dapat memastikan apakah Gerindra akan masuk dalam kabinet Jokowi jilid dua dalam membangun Indonesia secara bersama-sama. Menurutnya, hal itu belum diputuskan oleh Prabowo Subianto.

"Belum ada keputusan resmi dari Pak Prabowo dan partai. Yang jelas Pak Prabowo menunjukkan pertemuan kebangsaan itu tidak mengurangi idealisme beliau," ujar dia.

Dalam pernyataan Prabowo, lanjut Andre, disebutkan bahwa pihaknya siap membantu pemerintah demi rakyat Indonesia. Namun juga akan melakukan chek and balance terhadap keputusan yang tidak prorakyat.

"Intinya pertemuan antara negarawan untuk kebangsaan. Bukan untuk deal-deal sama sekali," ujar dia.

Publik pun menanti hasil dari pertemuan Prabowo dengan Megawati tersebut. Akankah muncul kejutan baru yang disepakati bersama atau tidak? Kita tunggu saja.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by