KPAI: Sekolah Belum Aman dari Kejahatan Seksual

Oleh Liputan6.com pada 21 Jul 2019, 03:05 WIB
Diperbarui 21 Jul 2019, 03:05 WIB
Diduga Kesurupan, Panitia MOS SMA Taruna Indonesia Palembang Telat Evakuasi Korban

Liputan6.com, Jakarta - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan sekolah belum sepenuhnya aman dari kekerasan seksual karena banyak kasus justru terjadi di sekolah.

"Faktanya, sekolah menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual," ujar Retno dalam diskusi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (20/7/2019).

Pelaku kekerasan seksual pada anak di sekolah mulai dari kepala sekolah hingga guru. Korbannya beragam, mulai kelas satu SD hingga SMA. Contohnya kasus yang terjadi di SD yang ada di Baris, Serang, Banten. Korban dicabuli selama dua tahun dengan ancaman mendapatkan nilai jelek.

Menurut Retno, yang menjadi korban dalam kasus pelecehan seksual di sekolah tidak hanya murid perempuan tetapi juga laki-laki. Ia memberi contoh kasus di sebuah pesantren di Aceh, yang mana terjadi kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 15 santri.

Dia menambahkan kekerasan seksual di sekolahnya biasanya terjadi di ruang kelas, laboratorium, ruang UKS, hingga kebun di belakang sekolah.

"Anak-anak sejak dini harus diajarkan mana bagian tubuh yang tidak boleh dipegang pada orang lain," kata Retno.

2 dari 3 halaman

Anak Harus Berani

Selain itu, kata dia, anak harus berani berbicara apa yang terjadi pada dirinya jika mengalami perbuatan yang tidak senonoh. Selama ini, kekerasan seksual yang terjadi berulang dikarenakan korban enggan untuk berbicara.

"Begitu juga orangtua hendaknya memperhatikan perubahan yang terjadi pada anak. Orangtua jangan melepaskan sepenuhnya pendidikan anak di sekolah," tandas Retno.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓