Inventarisasi Emisi Sebagai Kontrol Polusi Udara Jakarta

Oleh Yopi Makdori pada 06 Jul 2019, 16:06 WIB
Jakarta Diselimuti Kabut

Liputan6.com, Jakarta - Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu berharap pemerintah daerah maupun nasional turut menaggulangi bencana polusi udara yang terjadi di Jakarta berdasarkan kajian ilmiah.

Pasalnya selama ini Bondan menilai, pemerintah tidak mempunyai data komprehensif sumbar penyumbang polusi udara di Jakarta.

"Artinya kalau kita bicara penanggulangan sebenarnya harus berdasarkan basis data. Karena kalau bicara udara nih ada datanya nih, namanya emission inventory," katanya saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (6/7/2019).

Emission inventory atau inventarisasi emisi merupakan pencatatan atau pendataan jumlah pencemar udara dari sumber-sumber pencemar udara yang ada dalam suatu wilayah. Adapun sumber pencemar udara yang harus diinventarisasi adalah semua sumber pencemar.

Menurut Bondan, inventarisasi emisi perlu dilakukan setiap tahun guna memetakan dalam sektor apa saja sumbar-sumber polutan tersebut.

Setelah diketahui sumbernya, maka dibuatlah kebijakan mengacu pada data tersebut. Jika hal ini dilakukan, kata Bondan, pemerintah bisa efisien menanggulangi permasalahan udara di Jakarta.

"Emission inventory ini mesti dilakukan berkala setiap tahun minimal. Kita ketahuan nanti sebenarnya transformasi berapa persen sih, industri berapa persen. Kemudian rencana apa yang diambil untuk mengurangi masing-masing sumber polutan itu," katanya.

Bukan hanya itu, inventarisasi emisi tiap tahun juga berguna untuk mengevaluasi capaian kebijakan pemerintah dalam mengendalikan polutan di udara. Karena selama ini tidak ada basis data untuk membandingkan apakah upaya pemerintah untuk menanggulangi bencana udara tersebut tepat sasaran atau tidak.

"Tahun depan dibikin lagi kajiannya, kemudian diukur keberhasilannya apa gitu. Iya dievaluasi," kata Bondan.

Sebelumnya, Asap kendaraan, debu bangunan, kerap menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara. Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia versi penyedia peta polusi udara Airvisual.

 

2 of 3

Peringkat Pertama

Polusi Udara di Jakarta
Kendaraan terjebak kepadatan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (12/3). Berdasar hasil studi Greenpeace dan IQAirVisual, pada 2018 lalu Jakarta merupakan kota dengan polusi udara terburuk di Asia Tenggara. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sebelumnya diberitakan, selama beberapa hari, Ibu Kota berada di peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk. Nilai air quality index (AQI) di Ibu Kota bahkan sempat mencapai 240, dalam kategori sangat tidak sehat.

Nilai AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti pm 2.5, pm 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Namun, stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) milik pemerintah yang tersebar di Ibu Kota menyebutkan, nilai indeks standar polusi udara (ISPU) di Jakarta berada dalam kategori sedang atau tidak berbahaya bagi kesehatan.

Pengukuran indeks kualitas udara ini menggunakan lima jenis parameter yang dipantau selama 24 jam. Asap kendaraan bermotor disebut sebagai penyebab utama polusi udara.

Greenpeace menanggapi perbedaan angka ini dengan mengungkapkan, indikator pengukur kualitas udara Jakarta sudah lama tidak diperbarui.Menikmati udara segar tentu menjadi keinginan semua warga. Mengingat polusi udara bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

3 of 3

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by