Idris Laena: Pancasila Adalah Ideologi Jalan Tengah di Antara Perbedaan Bangsa

Oleh Gilar Ramdhani pada 30 Jun 2019, 17:15 WIB
Idris Laena: Pancasila Adalah Ideologi Jalan Tengah di Antara Perbedaan Bangsa

 

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Fraksi Golkar MPR RI, Idris Laena mengaku takjub dengan kehadiran Pancasila yang telah dirumuskan menjadi dasar negara oleh para founding father

"Selama menjadi anggota Legislatif, satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah ketika kita berbicara tentang Pancasila. Dalam pikiran saya, alangkah hebatnya founding father kita yang telah merumuskan dasar negara. Ideologi yang sekaligus falsafah hidup bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan merumuskan lima kalimat bertuah yang kemudian disebut Lima sila," ujar Idris Laena.

"Bagi sebagian besar orang, mungkin ini dianggap sebagai hal yang biasa saja.T api pernahkah terpikir oleh kita bahwa proses untuk merumuskan kalimat demi kalimat, serta merangkum dalam satu bingkai sakti yang dinamakan Pancasila, bukanlah perkara mudah," tambahnya.

Ketika berkunjung ke perpustakaan Leiden University di Belanda, Idris Laena menceritakan kalau dirinya sempat berdiskusi dengan beberapa Profesor di Belanda. Dan yang mengagetkan adalah ketika mereka mengatakan: “Kami tidak merasa pernah menjajah Indonesia, karena Indonesia baru ada setelah merdeka, yang terjadi sebenarnya adalah bahwa Nederland memiliki Koloni, yang berupa kerajaan-Kerajaan yang ada di Nusantara.”

"Dalam batin saya, luar biasa para pendiri bangsa ini. Karena ternyata mereka mendirikan satu bangsa besar bernama Indonesia dari serpihan-serpihan kerajaan yang ada di Nusantara, yang terdiri dari puluhan ribu pulau, dengan ribuan bahasa dan keanekaragaman budaya dan Agama. Dan hanya dimulai dengan semangat para pemuda yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda," kata Idris Laena.

Seperti diketahui bersama bahwa pada saat itu, 28 Oktober 1928, para pemuda berani bersumpah,”Bertumpah darah yang Satu, Tanah Air Indonesia, Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, dan Menjunjung Bahasa yang satu, Bahasa Indonesia”.

"Padahal secara teritori wilayah yang akan mereka sebut Indonesia itu masih berupa kerajaan-Kerajaan yang ada dihamparan Nusantara. Belum lagi bicara tradisi, budaya dan agama, yang begitu beragam. Bagaimana mungkin bisa disatukan? Mungkin umat Islam merasa mayoritas pada saat itu, tapi secara history umat Hindu sudah ada jauh sebelum Islam berkembang di Indonesia," jelas Idris Laena.

Idris Laena kemudian mengatakan bahwa dirinya baru sadar bahwa ternyata rumusan kalimat demi kalimat yang disebut "Sila" dan kemudian diberi nama Pancasila adalah merupakan kompromi atas semua persoalan diatas. Dan oleh karenanya pantas saja, Bung Karno menyebut dirinya "Penggali Pancasila" untuk menggambarkan bahwa ideologi kita itu digali dari akar persoalan tradisi, budaya dan agama yang ada di Nusantara.

"Sekarang kita patut bangga, bangsa besar bernama Indonesia yang pada saat itu diimpikan oleh pemuda dan para pendiri bangsa ini, benar-benar terwujud. Tentu, yang juga patut kita syukuri dan apresiasi adalah para Raja dan Sultan yang berkuasa atas kerajaan mereka, ternyata dengan legowo bersedia bergabung menjadi bagian dari bangsa ini yang kemudian dibingkai menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tutur Idris Laena.

Yang juga menarik untuk diamati, lanjut Idris Laena, ternyata NKRI bukan terdiri dari kerajaan-Kerajaan yang menggabungkan diri. Justru NKRI terdiri dari Provinsi-Provinsi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

"Karena itu, bisa dibayangkan bagaimana Indonesia tanpa ideologi dan dasar negara bernama Pancasila. Ideologi yang digali untuk menjadi jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan bangsa ini dan diuraikan dalam "Sila" yakni, ”Ketuhanan yang maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

 

(*)