HNW: Halal Bihalal Menyatukan Umat Tanpa Sekat

Oleh Gilar Ramdhani pada 30 Jun 2019, 13:40 WIB
HNW: Halal Bil Halal Menyatukan Ummat Tanpa Sekat

 

Liputan6.com, Jakarta Di hadapan anggota Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), ratusan anak dhuafa, serta jamaah Masjid Istiqal, Jakarta pada hari Jumat 28 Juni 2019, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan bahwa halal bihalal yang menjadi tradisi umat Islam di Indonesia tak lepas dari peran KH. Wahab Hasbullah. 

Diceritakan oleh HNW, selepas Indonesia merdeka pada masa itu hubungan antar umat ada sekat, tidak cair. Di satu sisi pada masa itu Belanda ingin menjajah kembali Indonesia. Soekarno ingin umat Islam bersatu tanpa sekat guna menghadapi penjajahan. Persatuan umat Islam bagi Indonesia sangat penting bagi Soekarno. 

 

"Soekarno sangat berkepentingan terhadap persatuan umat Islam untuk menghadapi penjajahan," ujar HNW. Untuk itu Presiden Soekarno meminta ide bagaimana menyatukan ummat Islam. Soekarno pun menemui ulama dan ulama besar Wahab Hasbullah mengusulkan untuk menyatukan ummat Islam perlu dilakukan halal bil halal.

"Akhirnya semua ulama tanpa melihat latar belakang diundang ke Istana untuk halal bihalal," ujar alumni Pondok Pesantren Gontor itu.

Dari sinilah halal bihalal tumbuh dan menjadi tradisi di masyarakat. Tradisi ini dikatakan hanya ada di Indonesia.

"Di negeri Arab tak ada tradisi seperti itu," ujarnya. Menurut HNW, halal bihalal dari kali pertama diadakan hingga saat ini mampu menyatukan umat tanpa memandang latar belakang.

"Dengan halal bihalal, bisa mencairkan hubungan antar umat," ujarnya. "Dengan halal bihalal hubungan antar umat menjadi tanpa sekat," tambahnya.

Hadirnya halal bihalal dikatakan NHW menunjukan betapa besarnya peran ulama dalam persatuan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, HNW lebih lanjut menuturkan Sosialisasi Empat Pilar dilakukan untuk memasyarakatkan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Acara seperti ini dilakukan agar masyarakat bisa saling menghormati dan tidak saling tuduh dan merasa paling benar.

Metode sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara. "Bisa lewat training of trainer selama beberapa hari," ucapnya. Dirinya berharap apa yang dilakukan bersama BKPRMI bisa diteruskan. "Saya melakukan sosialisasi bersama organisasi (BKPRMI) ini sudah dua kali," paparnya.

 

(*)