Asal Usul Nama 6 Jalan Ikonik di Jakarta

Oleh Liputan6.comDevira Prastiwi pada 22 Jun 2019, 12:04 WIB
Monas

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta merayakan ulang tahun ke-492 pada hari ini, Sabtu (22/6/2019). Hampir berusia setengah abad, Jakarta kini menjelma sebagai kota impian.

Orang-orang di luar kota pun berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Salah satu alasannya agar mempermudah akses yang bisa didapat di Ibu Kota Indonesia ini.

Di balik ingar bingar dan gemerlapnya, Jakarta memiliki beragam cerita dan kisah masa lalu. Terdiri dari lima Kota Administrasi, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu terdapat sejarah yang terkait masa penjajahan.

Setiap kota Administrasi Jakarta, ada beberapa wilayah yang cukup terkenal dan tidak asing lagi. Nama-nama wilayah di Ibu Kota itu bahkan dikenal hingga dunia.

Sebut saja salah satunya Menteng, Jakarta Pusat. Dikenal sebagai salah satu kawasan elite, rupanya pernah menjadi tempat tinggal mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama.

Selain itu ada Senayan. Di wilayah ini terkenal berdirinya gelanggang olah raga yang acap kali dipakai untuk ajang adu tenaga internasional.

Berikut asal usul nama 6 jalan ikonik di Jakarta dihimpun Liputan6.com:

 

2 of 8

1. Menteng

Libur Nasional, Taman Menteng Sepi Pengunjung saat Puasa
Pengunjung beraktivitas di sekitar Taman Menteng, Jakarta, Kamis (1/6). Meskipun pada 1 Juni merupakan libur nasional memperingati hari lahir Pancasila, namun di Taman Menteng lebih sepi dibanding hari libur lainnya. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Konon, Menteng memang sudah menjadi permukiman elite sejak zaman kolonial Belanda. Kawasan Menteng yang berada di selatan Kota Batavia, kadang juga disebut sebagai Untung Jawa. Hal itu lantaran letaknya yang berada di sebelah utara Kampung Melayu.

Sebelum menjadi permukiman elite seperti yang dikenal sekarang ini, Menteng merupakan daerah yang kurang dikenal, bahkan dihuni binatang buas.

Semula, daerah ini merupakan hutan yang ditumbuhi pohon Menteng atau beccaurea racemosa. Pohon buah tersebut akhirnya dikaitkan oleh masyarakat untuk menyebut nama lokasi ini.

Namun, sejak lokasi tersebut dibuka untuk umum dan pengembangan Kota Batavia pada 1810, tempat tersebut mulai ramai.

Kemudian sekitar 1912, Gubernur Jenderal Wilem Herman Daendels menjadikan Menteng sebagai perumahan untuk pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Menteng merupakan perumahan villa pertama di Batavia yang dikembangkan antara 1910 dan 1918. Perancangnya adalah tim arsitek yang dipimpin PAJ Mooijen, arsitek asal Belanda yang merupakan anggota tim pengembang yang dibentuk Pemerintah Kota Batavia.

Dalam perkembangannya, Menteng terbagi menjadi beberapa nama lainnya. Sehingga terdapat kampung kecil di dalamnya seperti Menteng Atas, Menteng Dalam, dan Menteng Pulo.

Selain itu, daerah Guntur juga dikembangkan sebagai Niew-Menteng, dan pada akhirnya bersama kampung Menteng kecil lainnya masuk bagian Jakarta Selatan.

Kawasan Menteng tidak hanya bekas dari tanah partikelir atau tuan tanah dari Menteng, tetapi juga dari partikelir​ Gondangdia. Seperti kepemilikan tanah di Gondangdia pada 1969 dari Tuan A Hanking dan Nyonya A Meijer pada 1884.

Selanjutnya​, oleh Pemerintah Belanda pembelian tanah pribadi tersebut digunakan untuk permukiman elite Weltevreden--sekarang kawasan Gambir hingga Lapangan Banteng. Namun, wilayah Menteng tersebut kini menjadi wilayah Jakarta Pusat.

Rancangan awal Menteng memiliki kemiripan dengan model kota taman dari Ebenezer Howard, seorang arsitektur pembaharu asal Inggris. Bedanya, Menteng tidak dimaksudkan berdiri sendiri, namun terintegrasi dengan kawasan lainnya.

Thomas Karsten, seorang pakar tata lingkungan pada masanya menilai, Menteng memenuhi semua kebutuhan perumahan untuk kehidupan yang layak.

Proyek Menteng dinamakan Nieuw Gondangdia dan menempati lahan seluas 73 hektare. Pada 1890 kawasan ini dimiliki 3.562 pemilik tanah. Batas selatan kawasan ini Banjir Kanal Barat yang selesai dibangun 1919.

Rancangan Mooijen kemudian dimodifikasi FJ Kubatz dengan mengubah tata jalan dan penambahan taman-taman, hingga mencapai bentuk yang tetap antara 1920 dan 1930.

Menteng dibangun mengikuti tata cara Eropa. Namun, arsitekturnya dibuat mengikuti cita rasa lokal agar sesuai dengan iklim tropis.

Rumah-rumah dibangun dengan tiang-tiang yang tinggi, jendela yang besar, taman yang luas, dan sistem ventilasi yang baik, sehingga nyaman ditempati walau tanpa penyejuk ruangan.

Saluran air dan jalan-jalan dibangun, begitu juga sekolah dan bioskop. Sekolah yang dibangun adalah Sekolah Dasar Theresia yang dibuka pada 1927.

Bioskop Menteng dibangun dalam gaya Indo-Eropa pada 1950, tapi kini telah berubah menjadi Plaza Menteng. Selain itu, dibangun pula sarana ibadah seperti Gereja Paulus.

 

3 of 8

2. Matraman

Kondisi underpass Matraman
Kondisi underpass Matraman siang hari ini, Selasa (10/4/2018). (Liputan6.com/ Yunizafira Putri)

Kampung Matraman terletak di Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Kampung ini terletak dari arah Jatinegara menuju Salemba Raya.

Salah satu bangunan yang paling terkenal di wilayah ini adalah toko buku Gramedia. Toko buku itu disebut terlengkap di Jakarta dan terbesar se-Asia Tenggara.

Namun siapa sangka, Kampung Matraman hingga periode 1990-an terkenal angker. Di wilayah ini kerap kali terjadi tawuran berdarah antara warga Palmeriam, yang dihuni kaum Betawi dan pendatang dengan warga Bearland yang merupakan anak kolong atau tangsi tentara.

Penyebabnya terkadang karena masalah sepele. Salah satu contohnya adalah berebut lahan putaran atau Pak Ogah. Itulah yang menyebabkan hingga kini di sepanjang Jalan Matraman Raya tidak ada lagi putaran dan bahkan dipagari besi. Tujuannya tak lain untuk meminimalisir konflik antara dua wilayah yang bertetangga itu.

Lalu, bagaimana asal-usul nama Matraman? Hingga saat ini belum ada keterangan yang memuaskan. Bahkan warga di Matraman rata-rata tidak paham bagaimana asal-usul nama kampung itu.

Berdasarkan penelusuran Liputan6.com dari berbagai literatur, ditemukan beberapa versi sejarah tentang asal-usul Kampung Matraman.

Yang paling kuat, kampung ini diperkirakan menjadi kawasan pertahanan pasukan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung ketika menyerang Kota Batavia melalui darat untuk kedua kalinya, yakni pada 1629.

Rachmat Ruhiat dalam Asal Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut tidak mustahil kalau di kawasan itu dibangun kubu-kubu pasukan Mataram, termasuk pasukan-pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung).

Menurutnya, ketika Mataram menyerang Batavia, Ukur serta Sumedang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram dan memang diberitakan ikut berpartisipasi.

Profesor Dr Djoko Soekirman dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan dengan judul Kebudayaan Indis menyatakan, di Jakarta Matraman merupakan tempat tinggal Tuan Matterman. Namun, ia tidak menyebaut keterangan lebih lanjut sumbernya.

Dugaan lainnya, nama Matraman merupakan warisan pengikut Pangeran Diponegoro sebagaimana ditulis oleh Mohammad Sulhi dalam majalah Intisari bulan Juni 2002 dengan judul Betawi yang Tercecer di Jalan.

Dugaan ini mungkin sekali meleset karena jauh sebelum Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada 1789, Matraman sudah disebut-sebut sebagai milik tuan tanah David Johannes Smith (De Haan, 1910 (I): (64).

Menurut F de Haan, kawasan itu diberikan kepada orang-orang Jawa dari Mataram setelah Mataram berada di bawah pengaruh VOC dan menyusul ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dan VOC pada 28 Februari 1677.

 

4 of 8

3. Senayan

Menikmati Sore di Hutan Kota GBK
Warga menyalurkan hobi fotografi di area Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (20/6/2019). Sore hari banyak warga memanfaat waktu luang dengan berolahraga dan menyalurkan hobi fotografi di area Hutan Kota Gelora Bung Karno. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Senayan, menjadi salah satu wilayah terkenal di Ibu Kota Jakarta. Hal itu lantaran berdirinya gelanggang olah raga yang kini bernama Gelora Bung Karno atau GBK.

GBK di Senayan dibangun pada awal 1960-an atas bantuan pemerintah Uni Soviet pada era Perdana Menteri Nikita Sergeiwitsj Kruschev.

Tak hanya itu, Senayan juga dikenal karena berdirinya Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)/Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Lantas, darimanakah asal nama Senayan? Zaenuddin HM menjelaskan dalam buku karyanya berjudul 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012.

Nama Senayan berasal dari keadaan wilayahnya pada masa lampau. Pada peta yang diterbitkan Topographische Bureau Batavia pada 1902, kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan atau Wangsanayan.

Kata Wangsanayan berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik seseorang yang bernama Wangsanayan. Sebutan Wangsanayan lambat laun berubah. Hal itu dikarenakan masyarakat lebih mudah mengucapkannya dengan kata Senayan.

Wangsanayan kemudian diyakini sebagai seseorang yang berasal dari Bali, berpangkat Letnan, lahir sekitar 1680, dan kemudian tinggal di Batavia.

Jadi, asal muasal nama Senayan sebetulnya dari nama orang tersebut hingga kini menjadi salah satu kawasan yang sangat terkenal di Indonesia.

Namun, belum ditemukan keterangan lebih lanjut dari tokoh tersebut, demikian pula tentang sejarah yang berkaitan dengan kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Senayan itu.

 

5 of 8

4. Ragunan

Libur Panjang, Warga Padati Kawasan Kebun Binatang Ragunan
Warga bersiap memasuki lajur pintu masuk kawasan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Minggu (30/12). Libur panjang jelang pergantian tahun dimanfaatkan warga untuk berlibur di kawasan Kebun Binatang Ragunan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kawasan Ragunan juga menjadi salah satu nama wilayah yang cukup dikenal. Di sini, berdiri kebun binatang yang ketenaran sudah tidak diragukan lagi, yaitu Taman Margasatwa Ragunan.

Terkait berdirinya Kebun Binatang Ragunan, seseorang bernama Denty Piawai Nastitie menuliskan laporan terkait berdirinya kebun binatang yang terkenal dengan murahnya ini.

Denty menulis bahwa Kebun Binatang ini pertama kali didirikan pada 19 September 1864 oleh seorang pelukis ternama Raden Saleh di Cikini Raya Nomor 73 Menteng, Jakarta Pusat di atas lahan seluas 10 hektare miliknya.

Ide pendirian itu diperoleh Raden Saleh sewaktu menempuh pendidikan di London, Inggris. Kebun binatang ini menjadi lahan penelitian, sekaligus inspirasi baginya dalam melukis.

Seiring perkembangan kota Jakarta, Cikini tak cocok lagi menjadi kebun binatang. Karena itu disiapkan lahan seluas 30 hektare di Ragunan, Jakarta Selatan.

Pada 1964, Pemprov DKI Jakarta memindahkan koleksi Kebun Binatang Cikini ke Ragunan. Pada 22 Desember 1966, Kebun Binatang Ragunan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan.

Lalu, darimana asal nama Ragunan? Nama Ragunan berasal dari Pangeran Wiraguna, yaitu gelar yang disandang tuan tanah pertama di kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar atau yang dikenal dengan Sultan Haji.

Atas jasanya kepada Sultan Haji, Cardeel pun diangkat menjadi Pangeran Wiraguna dan berhak atas sejumlah hektare tanah.

Beberapa tahun kemudian, Pangeran Wiraguna merasa Kesultanan Banten sangat sempit, karena banyak yang tidak menyukainya.

Pada 1689, Cardel memutuskan untuk pergi dari Kesultanan Banten dan memutuskan untuk kembali ke negeri asalnya. Namun ternyata dia menetap di Batavia menjadi tuan tanah yang kaya raya.

Tanahnya yang luas kini diberi nama Ragunan, yang mengingatkan kita pada Pangeran Wiraguna. Di kawasan ini pula ia dimakamkan dan makamnya dikeramatkan oleh sebagian orang.

 

6 of 8

5. Harmoni

20161201-Trans-Jakarta-IA1
Suasana saat antrian Bus Trans-Jakarta bersiap untuk mengangkut penumpang di Halte Harmoni, Jakarta, Kamis (1/12). Menurut Budi, saat aksi massa terjadi, Transjakarta akan berupaya melakukan pengalihan jaringan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Tak kalah dari Ragunan, nama Harmoni yang berada di Jakarta Pusat juga cukup populer. Harmoni berlokasi di persimpangan Jalan Majapahit dan letaknya tak jauh dari Istana Negara.

Darimana asal nama Harmoni? Zaenuddin HM menjelaskan dalam bukunya 212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada 2012.

Nama Harmoni rupanya berasal dari nama gedung yang sangat penting ketika Batavia dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, sekitar abad ke-17 dan ke-18.

Gedung itu bernama Sosietiet De Harmonie, yang menjadi tempat berpestanya kaum sosialita Belanda, dilanjutkan saat Inggris berkuasa di Batavia.

Mereka sering berkumpul, beramah-tamah, dan mencari jodoh di gedung besar berarsitektur Belanda itu. Di tempat itu juga sering terjadi keributan akibat pesta dan dansa disertai mabuk minuman keras.

Pemprov DKI Jakarta pada 1985 membongkar gedung bersejarah itu persis ketika gedung yang pernah berjaya tersebut berumur 170 tahun.

Meski bangunan bersejarah Sosietiet De Harmonie sudah tidak ada lagi, tempat dan kawasan itu tetap disebut Harmoni.

 

7 of 8

6. Kemayoran

Monumen Ondel-Ondel
Kendaraan melintas saat Petugas PPK Kemayoran mengecat ulang Monumen Ondel-Ondel di Jalan Benyamin Sueb, Jakarta, Selasa (3/7). Pengecatan tersebut dalam rangka persiapan menyambut Asian Games pada Agustus mendatang. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Jakarta merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang memiliki banyak kampung tua. Nama dari kampung-kampung tua itu pun tak sembarangan, kadang ada sejarah di baliknya. Salah satunya adalah Kemayoran.

Kala itu wilayah Kemayoran meliputi Serdang, Sumur Batu, Utan Panjang, Kebon Kosong, Kepu, Gang Sampi, Pasar Nangka, dan Bungur.

Berbeda dengan kondisinya yang sekarang, Kemayoran tempo dulu adalah sawah-sawah. Seperti dilansir jakarta.go.id, nama daerah yang terletak di Jakarta Pusat ini berasal dari kata mayor, yang merupakan jabatan atau pangkat yang diberikan pemerintah Belanda kepada orang-orang yang dinilai berjasa kepada kompeni.

Saat itu, jabatan mayor tak hanya diberikan kepada orang Belanda, tapi juga diberikan kepada orang-orang China. Mereka diberi tugas untuk menarik pajak dari penduduk yang wajib dibayarkan dari tanggal 1 hingga 10 setiap bulannya. Pajak yang ditarik ada dua macam, yaitu pajak tempat tinggal dan pajak penggarap sawah hasil bumi.

Untuk pajak tempat tinggal tiap bulannya ditarik sebesar satu picis. Sementara untuk pajak penggarap sawah hasil bumi dibagi tiga dengan perincian petani penggarap mendapat 25 persen, tuan tanah 45 persen dan mandor 30 persen.

Meski hanya mendapat 25 persen, para penggarap masih diwajibkan memberikan sebagian penghasilannya itu kepada mandor.

Atas jabatan yang dimilikinya itu, para mayor memiliki kekayaan yang berlimpah ruah dan tanah yang luas. Karena itu, mereka mendapat julukan sebagai tuan tanah.

Ketika Hindia-Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, sekitar tahun 1808 hingga 1811, banyak lahan di Batavia, termasuk Kemayoran, dijual ke orang-orang kaya. Tanah-tanah itu umumnya dibeli oleh kalangan dari golongan Cina, Arab dan Belanda.

Pembelinya di antaranya, Rusendal, H Husein Madani (lndo-Belanda), Abdullah dan De Groof. Hal itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pembangunan yang tengah dilakukan di Batavia, salah satunya adalah pembangunan jalan darat dari Anyer sampai Panarukan.

Selain itu, Belanda saat itu tengah melawan dominasi inggris yang telah merebut sejumlah koloninya. Setelah bandar udara Kemayoran dibangun sekitar 1935, wilayah Kemayoran semakin banyak didatangi oleh para pendatang berasal dari Belanda maupun dari nusantara. Kemayoran kemudian dikenal dengan julukan Belanda Kemayoran karena banyak dihuni oleh orang Indo-Belanda.

Hingga Indonesia merdeka, para bule Belanda itu masih tinggal di kampung tua itu. Namun, persoalan Irian Barat (Papua) yang berujung putusnya hubungan Indonesia-Belanda pada 1957 mengakibatkan sebagian besar dari mereka pulang ke negeri asalnya.

8 of 8

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓