Polri Belum Temukan Dalang Kerusuhan 22 Mei

Oleh Nanda Perdana Putra pada 10 Jun 2019, 16:01 WIB
Diperbarui 10 Jun 2019, 16:01 WIB
Bentrokan di Depan Gedung Bawaslu
Perbesar
Petugas kepolisian menghalau tembakan kembang api saat bentrokan dengan massa aksi 22 Mei di sekitar depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menko Polhukam Wiranto meminta Polri transparan kepada masyarakat terkait hasil penyelidikan kasus kerusuhan 22 Mei 2019. Polri hingga kini masih menggali siapa aktor intelektual alias dalang dari aksi yang memakan sejumlah korban jiwa itu.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra menyampaikan, baik itu sosok dalang, penyuntik dana, hingga investigasi pemeriksaan senjata dan keberadaan peluru tajam pun kini masih dalam proses penyidikan.

"Untuk pendalaman kasus ini, secara anatomi kita sedang mengelompokkan mana yang menjadi aktor intelektual di antaranya, dalam hal ini pemrakarsa, dan siapa yang menjadi pemain lapangan. Itu sedang dipetakan oleh kita," tutur Asep di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/6/2019).

Sejauh ini, lanjut Asep, sudah ada sebanyak 447 orang yang tersangka sebagai tersangka kerusuhan 22 Mei. Sementara 67 di antaranya merupakan anak di bawah umur.

 

2 dari 3 halaman

Tim Investigasi Khusus

Banner Infografis Temuan di Balik Kerusuhan 22 Mei 2019
Perbesar
Banner Infografis Temuan di Balik Kerusuhan 22 Mei 2019. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Mereka pun sebagian sudah dipulangkan ke orangtuanya masing-masing. Ada juga yang masih menjalani pembinaan di Rumah Anak Cipayung, Jakarta Timur.

"Masih didalami ya siapa aktor intelektunya. Sedang dilakukan pendalaman sehingga dari aspek perencanaan, pelaksanaan, sampai eksekusi menjadi bagian proses penyidikan kita," jelas dia.

Kapolri Jendral Tito Karnavian sendiri telah membentuk tim investigasi khusus dalam menangani kasus kerusuhan 22 Mei. Tim tersebut bertugas mencari fakta-fakta terkait urutan kejadian, hingga timbul korban.

Secara prinsip mekanisme, kerja kita tidak sendiri. Kita bekerja sama dengan Ombudsman dan teman-teman Komnas HAM. Kerjasamanya sifatnya adalah pararel, jadi semuanya bekerja. Nanti kita akan mengkonfirmasi hasil dari pada masing-masing. Tentunya semua ini akan dimulai dari aspek penyelidikan terkait kronologisnya," Asep menandaskan.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓