Cerita Eyang Paulina yang Menemukan Kebahagiaan Baru di Usia Senja

Oleh Gilar Ramdhani pada 17 Mei 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 17 Mei 2019, 17:18 WIB
Cerita Eyang Paulina yang Menemukan Kebahagiaan Baru di Usia Senja

Liputan6.com, Jakarta Pertama kali bertemu dengan Eyang Paulina, kesan pertama yang terlihat adalah bersemangat. Dalam tubuh yang tidak muda lagi, Eyang Paulina mengikuti seluruh aktivitas yang ada di Senior Living D’Khayangan. Setiap orang yang menjadi bagian D’Khayangan merasa senang dengan perkembangan selama berada di senior living. Di samping itu, setiap orang merasa terinspirasi dengan semangat dan keceriaan dari Eyang Paulina.

Di masa mudanya Eyang Paulina bukan pribadi yang senang berdiam diri. Selepas menyelesaikan pendidikan Sekolah Guru Atas di tahun 1958, Eyang Paulina mulai mengajar. Tidak seperti kebanyakan pengajar, bagi Eyang Paulina materi bukanlah ambisi yang harus jadi keutamaan. Jiwa sosialnya begitu besar sejak masih muda sehingga beliau pun tidak pernah berharap hidup berkelimpahan.

Pada era 70-an, ilmu modeste cukup digandrungi sehingga memiliki potensi usaha yang menjanjikan. Namun bagi Eyang Paulina, mengajar adalah panggilan hati dan kesenangannya adalah membagikan ilmu bagi yang membutuhkan. Beliau pun membuka kursus modeste tanpa memungut biaya sepeser pun. Harapan beliau hanya satu, agar setiap orang bisa menyambung hidup dengan apa yang diajarkan olehnya.

Berlanjut dengan aktivitas Eyang Paulina di bidang kesehatan, beliau menjadi penggagas Komunitas Paguyuban Jamu Gendong ditahun 80-an. Sebagai penggagas, tentunya seseorang wajib memiliki gagasan dan terobosan yang berguna bagi masyarakat. Terlebih masalah kesehatan, gagasan tersebut harus bermanfaat dan memiliki visi untuk menyehatkan masyarakat.

Salah satu gagasan utama Eyang Paulina adalah mengadakan pertemuan rutin dan workshop yang bekerjasama dengan dokter dan Dinas Kesehatan. Terakhir, Eyang Paulina aktif di organisasi Perwari Persatuan Wanita Republik Indonesia) sebagai sekretaris lalu berlanjut menjadi ketua Perwari Klaten di tahun 1999.

Kebahagiaan Yang Utuh Dari Nilai Emosi

Viktor Frankl (1986) dalam bukunya Man’s Search For Meaning mengatakan bahwa emosi yang memiliki nilai dan ditempatkan pada ruang yang tepat dapat melahirkan kebahagiaan yang utuh bagi manusia mendapat pembenaran dari banyak kasus. Dalam fase kehidupan Eyang Paulina, kehilangan seorang suami merupakan hal paling muram dan kelam. Usia yang semakin bertambah dan kesepian karena kehilangan seseorang yang dicintai menimbulkan emosi kesedihan yang mendalam. Beliau merasa tidak bersemangat melanjutkan hidup ditambah lagi anak-anak terkasih beranjak dewasa dan memiliki keluarga kecil sendiri.

Emosi kesedihan melingkupi Eyang Paulina dan Keluarga. Pribadi psikis Eyang Paulina mengalami perkembangan negatif. Beliau perlahan diserang demensia yang pada akhirnya juga melahirkan emosi kesedihan bagi keluarganya.

Ditengah kondisi kesepian, demensia dan kesedihan mendalam, keluarga Eyang tak tinggal diam. Pihak keluarga menempatkan emosi pada ruang yang tepat, tanpa harus membiarkan orang tua tenggelam dalam kondisi yang muram. Ibu Titi, salah satu anak Eyang Paulina, akhirnya memutuskan agar Eyang ditempatkan di Senior Living D’Khayangan. Sebelumnya, Ibu Titi membawa beliau ke rumah sakit agar demensia Eyang berkurang namun perkembangan positif tidak kunjung datang.

Cerita Eyang Paulina yang Menemukan Kebahagiaan Baru di Senior Living D’Khayangan
© Senior Living D’ Khayangan.

Berasal dari referensi rekannya, Ibu Titi merasa tertarik dengan pelayanan dan program yang diterapkan di D’ Khayangan lalu memutuskan agar Eyang Paulina ditempatkan di sana. Pada masa awal kehadiran Eyang di senior living, Ibu Titi merasa senang karena Eyang dilayani dengan baik oleh pihak D’ Khayangan.

Fase selanjutnya, psikis Eyang Paulina berkembang secara positif. Kadar demensia-nya perlahan berkurang ditambah lagi Eyang mulai aktif dalam mengikuti aktivitas lansia D’Khayangan. Emosi kesedihan di masa kehilangan mulai pudar dari kehidupan Eyang karena menemukan kebahagiaan di senior living.  

Selaras dengan itu, harapan mulai bertumbuh lagi di keluarga besar Eyang termasuk Ibu Titi yang dahulunya memiliki emosi kesedihan yang sama saat melihat perkembangan Eyang. Baik Eyang Paulina dan Ibu Titi telah menempatkan emosi kesedihan pada ruang yang tepat, ruang bagi tumbuhnya pengharapan, solusi dan berkeputusan memilih Senior Living D’ Khayangan sebagai tempat untuk menemukan kebahagiaan baru bagi Eyang. Ibu Titi dan Eyang Paulina telah menemukan makna dalam hidup bukan dengan tenggelam dalam kesedihan. Inspirasi dari keduanya adalah mutiara.