Era Revolusi Industri 4.0, Universitas Perlu Optimalkan Model Inovasi Triple Helix

Oleh Gilar Ramdhani pada 04 Mei 2019, 13:40 WIB
Diperbarui 04 Mei 2019, 14:16 WIB
Era Revolusi Industri 4.0, Universitas Perlu Optimalkan Model Inovasi Triple Helix

Liputan6.com, Jakarta Revolusi industri 4.0 telah memberikan pengaruh yang besar pada lingkungan industri dan dunia kerja. Banyak pekerjaan dan industri yang dulunya favorit di pasar, kini telah berubah. Universitas sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk mencetak sumber daya manusia berkualitas unggul, perlu menyikapi perubahan ini dengan tepat.

Partner & Managing Director Indonesia YCP Solidance, Gervasius Patar Haryowibowo mengatakan Universitas harus dapat membantu mahasiswanya untuk menemukan passion mereka dan juga mengasah soft skill mahasiswa.

"Lulusan S1 harus punya soft skill seperti creativity, leadership, managing team, dan attitude untuk growing," kata Gervasius Patar usai acara Alumni Sharing Session dalam rangka Dies Natalis President University ke-17 bertempat di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta Pusat, Jumat (3/5).

Mengutip data World Economic Forum tentang Future of Jobs Project, Patar menyebutkan bahwa terjadi perubahan kebutuhan skill di dunia kerja. Dalam periode 5 tahun dari 2015 ke 2020, kreativitas menjadi syarat skill yang lebih prioritas di masa depan ketimbang di tahun 2015 lalu.

"Kreativitas menjadi nomor tiga dalam persyaratan dunia kerja. Di 2015 kreativitas masih nomor 10," ujar Patar yang juga merupakan Alumni Fakultas Bisnis Angkatan 2004 President University.

Di sisi lain, Patar mengatakan supaya perbedaan kemampuan yang besar antara lulusan universitas dan vokasi juga harus dikurangi. Dari lulusan universitas, menurut Patar, masih kurang memiliki soft skill. Sementara dari lulusan vokasi kurang menguasai operasional produk dan bisnis.

"Ini gap (Universitas dan Vokasi) yang makin besar dan makin besar, sehingga perlu ada model inovasi triple helix. Dimana perlu adanya kolaborasi antara perusahaan, institusi/pemerintah, dan universitas. Alumni President University yang tersebar dimana-mana juga bisa membantu mengkoneksikan itu," kara Patar.

Menurutnya, universitas perlu berinteraksi langsung dengan pemerintah sebagai pembuat regulasi. Selain membangun hubungan dengan pemerintah, universitas juga perlu berinteraksi dengan pihak-pihak pengelola industri. "Harus ada konektivitas, pemerintah, korporasi memberikan input, universitas juga harus join dan merangkul alumni. Triple helix ini penting," tambah Patar.

Menjawab tantangan revolusi industri 4.0, Ketua Yayasan Pendidikan President University Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji mengatakan pihaknya akan meningkatkan mutu pendidikan, bekerja sama dengan pihak-pihak luar negeri dan dalam negeri, meningkatkan fasilitas kampus, dan juga mengandeng alumni maupun donatur untuk mendukung pelajar menuntut pendidikan di President University melalui beasiswa.

"Kurikulum yang ada di President University mengadaptasi dunia industri. Meningkatkan kapasitas dan infrastruktur President University yang ada di Jababeka. Infrastruktur bukan hanya alat dan ruangan, melainkan dari sumber daya manusianya. Melakukan kerjasama dengan pihak-pihak luar negeri dan dalam negeri yang kompeten," kata Budi Susilo Soepandji.

Rektor President University Prof. Jony Oktavian Haryanto yang juga hadir dalam acara Alumni Sharing tersebut menyampaikan bahwa penting bagi universitas untuk mempersiapkan mahasiswanya menjadi SDM unggul yang siap bersaing di dunia kerja. Selain mencetak sarjana-sarjana yang siap kerja, President University juga akan mendidik mahasiswa untuk menjadi entreprenuer baru.

 

President University Siapkan SDM dan Entrepreneur Unggul Hadapi Revolusi Industri 4.0
Rektor President University, Prof. Dr. Jony Oktavian Haryanto saat acara Dies Natalis ke-17 President University yang bertempat di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta Pusat, Jumat (3/5).

"Kurikulum kami arahkan untuk mahasiswa menjadi entreprenuer-entreprenuer. Setiap mahasiswa semua program studi harus mengambil matakuliah enterpreneurship selama 1 tahun, dimana ujungnya mereka benar-benar bisnis. Dari awal mereka terdorong untuk menjadi enterpreneur," kata Jony Oktavian.

"Fokus utama kami ke depan adalah bagaimana President University itu relevan dengan dunia kerja, menjalin hubungan dekat dengan industri, mencetak mahasiswa yang tidak hanya ahli teori melainkan prakter dan juga mencetak entreprenuer baru," tambah Jony Oktavian.

Alumni sharing session merupakan bagian dari rangkaian acara perayaan Dies Natalis ke-17. Acara ini diadakan untuk merayakan hari jadi President University dan memperkuat hubungan antara alumni, mahasiswa, dosen, dan staf President University. Turut hadir dalam acara ini, S.D. Darmono, D.Univ (Hon), pendiri President University sekaligus PT. Jababeka, Tbk.