Kepala BNPB: Tidak Panik Kunci Keberhasilan Hadapi Bencana

Oleh Yopi Makdori pada 27 Apr 2019, 06:04 WIB
Diperbarui 27 Apr 2019, 08:17 WIB
Achmad Sudarno/Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan bahwa Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) mengedepankan aksi nyata terhadap kesiagaan bencana.

Hal itu meliputi pemeriksaan keberadaan dan keberfungsian kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan, seperti adanya rambu dan jalur evakuasi yang aman serta titik kumpul, tersedianya alat pemadam api, manajemen keselamatan bangunan-bangunan bertingkat, dan sebagainya.

"Juga melatih evakuasi dengan tenang dan tidak panik merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana," ujar Doni Monardo di upacara HKB di Sesko TNI AU, Lembang, Bandung Barat, Jumat (26/4/2019).

Melalui latihan kesiapsiagaan bencana, BNPB mengharapkan masyarakat dapat mengasah naluri untuk dapat bertahan hidup dan menyelamatkan diri pada saat bencana melanda tempatnya. Nilai itu yang berusaha BNPB usung pada HKB dengan slogan 'Siap Untuk Selamat.' Menurut Doni latihan siap siaga bencana harus dimulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas.

"Pendidikan paling dini wajib dilakukan mulai dari rumah. Untuk itu peran ibu dan perempuan menjadi sangat penting. Menyadari hal tersebut, pada tahun 2019 ini kita memilih tema 'Perempuan Sebagai Guru Kesiapsiagaan dan Rumah Sebagai Sekolahnya'", paparnya.

 

2 dari 2 halaman

Wanita Paling Banyak Jadi Korban

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo dalam arahannya di posko Satgas Siaga Darurat Karhutla Riau
Kepala BNPB Letjen Doni Monardo dalam arahannya di posko Satgas Siaga Darurat Karhutla Riau. (Liputan6.com/M Syukur)

Menurutnya, selain sebagai aktor dalam pendidikan dini seorang anak, perempuan juga dipilih karena memiliki sifat melindungi yang tinggi.

"Aktif dalam kelompok sosial dan komunitas dan juga merupakan sosok pembelajar," kata Doni.

menurut dia, selama ini perempuan termasuk salah satu kelompok yang paling banyak menjadi korban bencana karena kurang pemahamannya akan risiko terhada[ bencana. Selain itu, keinginan mereka yang besar untuk menolong keluarganya namun tidak memiliki kapasitas yang memadai.

Lanjutkan Membaca ↓