1 Rumah 1 Ruangan Aman untuk Cegah Korban karena Gempa

Oleh Yopi Makdori pada 26 Apr 2019, 08:41 WIB
Diperbarui 27 Apr 2019, 04:15 WIB
Gempa Solok selatan

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, menilai perlunya mitigasi atau tindakan mengurangi dampak bencana di Tanah Air, seperti gempa bumi. Hal ini melihat rawannya potensi bencana di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Frekuensi terjadinya di Indonesia itu paling sering. Sebanyak 45 persen itu gempa bumi dan tsunami," kata Eko saat mengisi sebagai pemateri dalam Diklat Teknis Penanggulangan Bencana bagi Wartawan oleh Badan Nasiona Penanggulangan Bencana (BNPB), Hotel Grand Setiabudi, Bandung, Rabu, 24 April 2019.

Eko mencermati, gempa bumi merupakan bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia. Gempa kerap kali memakan kerusakan paling banyak, baik materil maupun nyawa. Hal itu, menurut Eko, salah satunya karena kurang kuatnya pondasi bangunan di Indonesia.

"Kalau kita meminta mereka untuk membangun bangunan yang tahan gempa, dananya dari mana? Itu mahal," kata Eko.

Ia mengatakan, gempa dengan magnitudo 3 koma menyebabkan banyak bangunan yang rusak. Padahal, menurut dia, gempa dengan kekuatan seperti itu banyak terjadi di Indonesia.

"Gempa dengan kekuatan 3 hingga 3,9 magnitudo itu kejadiannya sekitar 130 ribu kali per tahun di seluruh dunia. Jadi, kalau dengan kekuatan gempa 3 magnitudo saja rumah Anda sudah roboh, berarti ada kemungkinannya besar rumah Anda rusak saat terkena gempa," ujar Eko.

2 dari 3 halaman

Ruangan Aman

Kerugian Akibat Gempa Banten di Sukabumi Lebih dari Rp 7 Miliar
Bupati Sukabumi mengingatkan warga untuk tidak berharap pemda membantu membangun kembali rumah yang rusak karena gempa secara utuh. (Liputan6.com/Mulvi Mohammad)

Maka atas hal itu, Eko melihat perlunya budaya untuk membangun satu rumah satu ruangan aman. Karena hal itu dirasa lebih efisien.

"Masyarakat Indonesia perlu menginvestasikan untuk membangun satu ruangan aman di rumahnya untuk berlindung saat gempa atau bencana lain," ujar Eko.

Eko juga mengusulkan jika membangun satu ruangan dinilai masih terlalu mahal, maka ia mengusulkan untuk memiliki satu meja yang kuat sebagai sarana berlindung orang-orang di rumah tersebut.

"Jika satu ruangan masih terlalu mahal, maka bisa membeli satu meja yang kuat atau memperkuat kaki atau siku meje dengan baja sebagai alat berlindung. Bahkan kalau di Jepang mereka memperkuat tangga," kata Eko.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓