Duka Sukaesih, Istri Ketua KPPS Matraman yang Meninggal Saat Bertugas

Oleh Liputan6.com pada 25 Apr 2019, 08:57 WIB
Yusron Fahmi/Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta - Pemilu 2019 menyisakan duka mendalam bagi Sukaesih. Perempuan 58 tahun ini harus rela berpisah untuk selamanya dengan sang suami, Rudi Mulia Prabowo (56), Ketua KPPS di TPS 009, Kelurahan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur.

Diduga Rudi meninggal karena kelelahan saat mengerjakan tugasnya. Apalagi sebagai Ketua KPPS, dia harus memikul tanggung jawab yang besar. Kurang tidur dan menahan lapar demi terpenuhinya tugas yang ditanggung.

"Dia juga sudah keliatan lelah banget. Waktu penghitungan dia sempat minta tolong gantian sama panitianya, terus dipersilakan duduk istirahat. Kalau sudah enakan dia kerja lagi," ujar Sukaesih di kediamannya, Jalan Kayu Manis V Lama, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Menurut sang istri, honor yang diperoleh Rudi sebagai Ketua KPPS sebesar Rp 550.000.

"Ya dulu kan masih lumayan sih. Kalo sekarang mah yang kemarin dia cerita dapet 550.000 potong pajak 30.000 jadi dapet 520.000," bebernya.

Meski begitu, berapa pun besaran yang diperoleh tentu tidak sepadan jika sampai membuat keluarga kehilangan orang tersayang. Sukaesih dan keluarga sangat menyayangkan hal itu.

"Itu anak saya bilang, saya ngga nerima kok kayanya kerja berat gitu upahnya (honor) cuma segitu. Jadi nyawa papa saya cuma dibayar segitu dong. Bukannya menjual nyawa, tapi kita bandingin dengan kerjanya dia," katanya.

Sebagai seorang istri, Sukaesih merasa terkejut dengan kepulangan Rudi. Ketua KPPS yang juga pensiunan satpam itu dinyatakan meninggal oleh dokter pada hari Senin 20 April 2019 pukul 13.20 WIB.

Sebelum berpulang, Rudi masih sempat berbincang dengan istrinya. Namun pada Senin siang, saat bangun tidur Rudi sempat muntah sebanyak dua kali. Kemudian setelah itu ia dinyatakan meninggal.

"Dia tidur hari Seninnya. Jam satu muntah tuh, terus saya tanya kenapa, muntah lagi, terus langsung di sana sudah ngga ada," katanya.

Setelah muntah, Rudi sempat dibawa ke rumah sakit dengan harapan masih bisa mendapatkan pertolongan. Namun nahas, dirinya tidak tertolong dan dokter menyatakan bahwa Rudi sudah meninggal.

"Pas sampai sana cuma diteken gini, dokternya bilang 'bu tadi ibu bawa ke sini bapak udah ngga ada'. Ya Allah saya lemes banget. kok mendadak banget, orang tadi masih ketawa-tawa kok, masih bercanda,"

Sesampainya di rumah sakit, jenazah Rudi memang tidak diperiksa mendalam, sebab dinyatakan sudah meninggal. Namun berdasarkan kondisi lengannya yang membiru, diduga Rudi kelelahan hingga terkena serangan jantung.

"Cuma wktu dia meninggal tangannya biru, ada yang bilang sih katanya ini serangan jantung ya," kata Sukaesih.

 

2 of 3

Pantau Penghitungan hingga Kamar Kecil

Yusron Fahmi/Liputan6.com
Rudi Mulia Prabowo (56), Ketua KPPS di TPS 009, Kelurahan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur. (Dewi Larasati)

Sehari sebelum pemungutan suara, Rudi sudah mulai menjalankan tugasnya. Dia sibuk mencari tenda yang hendak dibangun di TPS 009 hingga membuatnya dengan terpal dan bambu.

"Kan 3 hari, sebelumnya dia sudah mulai sibuk nyari-nyari tenda. Nah kebetulan nggak dapet tendanya, jadi dia bikin tenda sendiri beli bambu," ujar Sukaesih.

Tak hanya itu, Rudi juga harus rapat dengan panitia KPPS untuk pembagian tugas. Serta melakukan bimbingan teknis di kelurahan.

Pada hari pemungutan suara 17 April 2019, Rudi harus mengurus logistik dan penyelenggaraan Pemilu. Meski sempat terlihat kelelahan, namun Rudi tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai Ketua KPPS untuk mengikuti rekapitulasi suara sampai keesokan hari pukul 02.00.

"Itu kan kebetulan DPT suami saya di TPS 009 itu paling banyak, ada 286. Jadi dia jadi mungkin lelah juga. Terus kipas angin di sana waktu itu ada 4. Mungkin itu dari situ dia bilang kepala keliyengan," tutur Sukaesih.

Bahkan saat penghitungan suara, Rudi harus buang air kecil sambil meminjam handphone milik orang lain untuk melakukan video call, demi menghindari adanya kecurangan saat dia tidak di lokasi TPS.

Selama ini Rudi memang dikenal sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Saat penghitungan suara sempat terjadi kekeliruan hingga membuat Rudi hendak membongkar kembali surat suara yang telah dihitung untuk memastikan tidak adanya kecurangan.

"Udah gitu dia ada selisih 1, tapi ternyata bukan selisih, terus sampai dia bongkar lagi kotak suara. Terus untung panwaslunya baik, diingetin tadi ada kelewat," kata Sukaesih.

Setelah selesai rekapitulasi suara, Esok paginya Rudi masih harus mengantarkan hasil surat suara ke Kecamatan Matraman. Bahkan dirinya didapati tertidur di kantor Kecamatan.

"Tanggal 18 pagi jam 10.00 dia sempet ketiduran di Kecamatan waktu mengantar kotak TPS itu. Terus Bu RT bilang, bapaknya ketiduran di kecamatan," katanya.

3 of 3

Pemilu 2019 Beda

Sukaesih menyatakan, sebelum Pemilu 2019 Rudi pernah terlibat sebagai panitia penyelenggara Pilpres 2014 dan Pilgub Jakarta. Begitu pula dengan Sukaesih yang juga pernah terlibat sebagai panitia Pileg dan Pilgub. Namun pelaksanaan Pemilu kali ini dinilai jauh berbeda daripada hajatan demokrasi sebelumnya.

"Emang ini ketiga kalinya. Cuma bapak dulu ngga jadi ketua, tapi panitia. Dulu kan panitia juga ngga lama, cuma sampe sore udah selesai. Dia pikir ini juga kaya gitu," ujarnya.

Beban kerja pemilu kali ini dirasa lebih berat karena pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan. Apalagi Pemilu kali ini diikuti banyak partai politik dan pilihan calon legislatif.

"Kalau dulu kan nggak, jadi satu. Kalau sekarang kan digabung dan itu banyak partainya. Berat, karena semuanya jadi satu gitu pilpres sama pileg, banyak juga angkanya, kertas lebar, banyak. jadi jauh lebih enak yang dulu," kata Sukaesih.

Pemilu kali ini dinilai Sukaesih menguras tenaga karena proses penghitungan suaranya meliputi capres dan caleg. Lama waktu yang dibutuhkan juga lebih dari satu hari, berbeda dengan pemilu yang pernah ia tangani.

Sukaesih berharap agar penyelenggaraan pemilu kedepannya lebih dipikirkan lagi dengan matang. Selain itu menurutnya akan lebih baik jika dilaksanakan terpisah antara Pilpres dan Pileg agar tidak menimbulkan jatuhnya korban seperti Pemilu 2019 ini.

"Lebih dipikirkan lagi untuk kedepannya gimana caranya. Ya itu saya bilang lebih baik dipisah jangan terlalu melelahan warga. jadi banyak korbannya ya rakyat bawah lah. biar ngga terlalu melelahkan dan nggak banyak korban," pungkasnya.

 

Reporter: Dewi Larasati

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓