Cara Kemendes PDTT Tingkatkan Peran Perempuan di Lini Masyarakat

Oleh stella maris pada 24 Apr 2019, 16:58 WIB
Diperbarui 24 Apr 2019, 16:58 WIB
Kemendes PDTT
Perbesar
Kasubdit Kesmas Ditjen PDTT Ibrahim Ben Bella Bouty Ibrahim Ben Bella Bouty.

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya dan Yayasan PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga), menggenjot peran perempuan di lini masyarakat. 

Peran perempuan menjadi penting karena berkaitan dengan peningkatan pemberdayaan sumber daya dan ekonomi di desa. Hal tersebut sejalan dengan Permendes PDTT No.16 Tahun 2018 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019, yaitu untuk membiayai program dan kegiatan bidang pemberdayaan masyarakat desa diantaranya peningkatan partisipasi masyarakat, pengembangan kapasitas dan ketahanan masyarakat desa.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Subdirektorat Kesejahteraan Masyarakat dari Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Ditjen PPMD Kemendes PDTT Ibrahim Ben Bella Bouty, dalam acara Wisuda Akademi Paradigta ke-3.

"Diharapkan melalui Wisuda Akademi Paradigta ke-3 dapat memperkuat tata kelola desa sehingga pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dapat terwujud dengan cepat dan transparan. Mari kita gunakan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat desa dan terbangunnya strategi advokasi kebijakan, anggaran desa dan daerah untuk memastikan terpenuhinya pelayanan dasar yang berkualitas di desa," ujarnya di hadapan 336 wisudawan di Aula Kantor Bupati Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (24/4).

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengapresiasi pola pemberdayaan perempuan melalui Akademi Paradigta. Dia mengajak para alumni Paradigta, mentor, dan akademisi untuk fokus pada masalah nyata yang ada di tengah masyarakat.

Bupati mencontohkan tingginya angka stunting belakangan ini yang harus dihadapi. Dia menyebutkan pada 2017 di Kubu Raya terdapat 26,7 persen dari 7.206 kelahiran yang harus dikawal bersama.

"Ini masalah yang luar biasa mengancam generasi. Bukan hanya badan tapi otak tak bisa berkembang, dikhawatirkan melahirkan generasi yang tidak cerdas," ujarnya.

Selain itu, perlunya pengembangan usaha salah satunya dengan memperkuat UMKM, penguatan pangan untuk peningkatan gizi.

"Kalau ibu-ibu sudah jadi alumni, dampaknya bisa diukur jika bisa mengkaderkan kepada yang lainnya. Harapannya, ibu-ibu yang tidak paham dan sulit informasi bisa menambah wawasan dan mudah akses informasi sehingga bisa mengembangkan dirinya. Selain itu, dia berharap, ibu-ibu alumni bersama dengan PEKKA diharapkan bisa menjadi ahli dibidangnya seperti fokus pada posyandu, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain," katanya.

Karmani, salah satu masyarakat penerima manfaat program Akademi Paradigta mengisahkan bahwa perjalanan hidupnya sempat tak berdaya, setelah suaminya meninggal dan harus berjuang sendiri menghidupi kedua anaknya sebagai buruh tani.

Kekurangan fisik sempat membuatnya takut. Namun semuanya ditepis, hingga satu waktu dia memutuskan untuk ikut Akademi Paradigta yang memiliki banyak jalan menjadi orang yang bermanfaat di masyarakat.

"Perempuan yang berkarya adalah yang bermanfaat bagi masyarakat yang memerlukan bantuan," ujarnya.

Akademi Paradigta ini bertujuan untuk membentuk kepemimpinan perempuan di tingkat desa, dan bagaimana peran perempuan bisa ditingkatkan.

Dalam Akademi Paradigta para peserta diberikan pelatihan selama satu tahun dari mulai materi advokasi/paralegal, belajar APBDes, Musdes, kemudian ada tugas akhir dan wisuda.

Dampak atau perubahan diantaranya adanya partisipasi, kontrol masyarakat terhadap anggaran desa, dana PAUD meningkat atas usulan ibu-ibu yang jadi berani bicara, menolong identitas hukum masyarakat, bahkan beberapa ada yang mencalonkan diri jadi BPD, caleg, kades, dan kader desa.

 

 

(*)