Etika Sosial dan Budaya Jadi Pembahasan FGD yang Digelar MPR

Oleh stella maris pada 23 Apr 2019, 09:43 WIB
MPR

Liputan6.com, Jakarta Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar acara focus group discussion (FGD) di Kota Bandar Lampung, Senin (22/4). Acara itu membahas tentang Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dan dihadiri oleh puluhan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten serta Badan Pengkajian MPR, Endro Suswantoro Yahman.

Dalam acara itu, seluruh peserta merepresentasi makalah yang dibuat dengan tema Membangun Etika Sosial dan Budaya. Mereka mengemukakan pandangan apa yang menjadi penyebab kontraksi di masyarakat dan memberi solusi bagaimana menyelesaikannya.

Selepas semua memaparkan makalah, Endro menyatakan tersanjung atas tulisan yang dibuat oleh para akademisi yang semuanya bergelar doktor itu. "Makalah dari para akademisi sangat bagus", tuturnya.

Tema yang dibuat dalam FGD disebut sangat tepat dalam kondisi saat ini. "Saat ini di masyarakat timbul dinamika yang sangat tinggi," tutur anggota MPR dari Fraksi PDIP itu. Diakui di masyarakat timbul kontraksi sosial apalagi menjelang dan selepas Pemilu 2019, namun ada keinginan untuk bersatu kembali. Menghadapi dinamika yang demikian disebut manusia memerlukan etika sosial.

Untuk itu ia merasa senang dengan FGD yang digelar kali ini sebab dengan acara itu masyarakat mendapat kesadaran dan pemahaman baru. Untuk itu acara FGD baginya perlu dilanjutkan. Menurutnya MPR perlu menjaring dan mendengar aspirasi dan suara dari 'langit' perguruan tinggi. "Mereka kaum intelektual yang mampu membangun kesadaran," ucapnya.

Dikatakan kepada para peserta bahwa bangsa ini perlu membangun kesadaran bersama. Bangsa ini disebut berangkat dari kebhinnekaan. Untuk itu perbedaan yang ada perlu disikapi dengan bijak dengan cara membangun kebersamaan. Paling penting menurut alumni UGM itu adalah membangun manusianya. "Contohnya, kalau memperbaiki partai politik, yang dibangun bukan partainya namun orangnya,"ucapnya.

Ketika ditanya soal pemahaman masyarakat terhadap Pancasila, Endro mengakui pemahaman Pancasila di kalangan masyarakat bagus. "Kita perlu belajar ke masyarakat. Bila elit yang tidak benar maka yang jadi korban adalah rakyat," katanya. 

Wan Jamaluddin, akademisi yang mewakili Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten, dalam kesempatan itu mengatakan makalah yang tersaji dalam acara itu sangat beragam, ada yang mengutarakan berdasarkan pandangan kearifan lokal, nilai-nilai religius, serta membumikan Pancasila. Ia berharap semua aspirasi yang ada dipadukan karena semua merepresentasikan gagasan. Bila sudah padu, makalah tadi mampu untuk menjawab isu aktual dan kekinian yang ada di Indonesia.

 

 

(*)