9 Tahun Lalu, Hinaan Pekerja Asing Picu Kerusuhan Buruh di Batam

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 22 Apr 2019, 07:32 WIB
20160929-Demo-Buruh-Jakarta-FF

Liputan6.com, Jakarta - Suasana PT Drydock World Graha di Tanjungmuncang, Batam, Kepulauan Riau mendadak mencekam pada Kamis 22 April 2010 silam.

Dalam cacatan Sejarah Hari Ini (Sahrini) Liputan6.com, ribuan pekerjaperusahaan tersebut mengamuk dan membakar kantor mereka. Kerusuhan ini pecah sekitar pukul 07.00 WIB. 

Pagi itu, sejumlah petinggi masing-masing departemen perusahaan itu baru saja menggelar rapat. Satu di antaranya, bagian kelistrikan proyek L205.

Mereka menggelar rapat di salah satu ruangan gedung manajemen. Di ruangan tersebut hadir para supervisor, baik yang berkewarganegaraan Indonesia maupun pekerja asing (WNA).

Saat rapat berlangsung, tiba-tiba seorang supervisor berkewarganegaraan India, mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut, 'All Indonesian stupid' (semua orang Indonesia bodoh). Umpatan itu membuat supervisor berkewarganegaraan Indonesia yang hadir di ruangan itu naik pitam dan nyaris adu jotos. Tapi berhasil diredam.

Seusai rapat, WN India itu ternyata juga memaki para pekerja WNI yang tengah mengerjakan kapal L205. Dia mengatakan '99 persen Indonesian Stupid'.

Hinaan itupun dengan cepat menyebar ke sekitar 10.000 pekerja Drydock yang masuk pagi itu. Mereka pun bergerak mencari pekerja asal India. Mereka meminta agar pekerja asing asal India hengkang dari Batam.

Kemarahan pekerja kian tak terkendali. Mobil sejumlah petinggi Drydock yang terparkir di depan gedung manajemen dan gedung owner jadi sasaran. Mereka merusak hingga membakar beberapa di antaranya. Total 5 dari 38 mobil habis dibakar.

Sembilan orang pekerja perusahaan galang kapal itu luka parah. Enam orang di antaranya pekerja asal India dan dua lainnya WNI.

2 of 4

WN India Tersangka

Ilustrasi tersangka
Ilustrasi (Liputan6.com)

Kapoltabes Barelang saat itu, Kombes Leonidas Braksan, berjanji akan mengusut tuntas masalah tersebut. Pekerja asal India berinisial G yang dianggap menjadi pemicu, langsung ditetapkan sebagai tersangka.

"Kami telah menetapkan seorang WN India sebagai tersangka. Inisialnya G. Dia diduga melakukan penghinaan terhadap sesama pekerja yang memicu kericuhan itu," ungkap Leonidas.

Leonidas mengatakan, G dikenakan pasal penghinaan karena menyampaikan perkataan menghina kepada sesama sehingga menimbulkan kemarahan pada sesama pekerja.

Leonidas juga meminta rekan kerja G yang mendengar langsung kata-kata hinaan yang disampaikan untuk memberikan kesaksian di Mapoltabes Barelang.

"Bagi para karyawan yang mendengar langsung perkataan penghinaan yang diucapkan tersangka agar datang ke Poltabes," ucap Leonidas.

Leonidas memastikan bahwa situasi keamanan di kawasan PT Drydocks, telah aman terkendali. Namun aparat keamanan masih melakukan pengamanan di kawasan shipyard tersebut hingga saat ini.

"Situasinya telah kondusif. Batam kini terkendali pasca peristiwa itu," tuturnya.

Leonidas juga menegaskan, dalam kericuhan itu, tidak terdapat korban tewas. Tapi ada 9 orang yang terluka. Tiga di antaranya telah diizinkan pulang ke rumah dan lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit.

"Saya pastikan tak ada korban yang meninggal hingga saat ini," pungkas Leonidas.

Sementara G yang menjadi pemicu kerusuhan akhirnya dipecat. "Orang yang bertikai di dalam, seorang warga negara India, orang yang terkait diberhentikan," kata Wali Kota Batam Ria Saptarika di Batam.

Selain G, beberapa pekerja yang dikhawatirkan dapat memicu suasana negatif juga dilarang masuk kerja. Namun, Ria tidak menyebut jumlah dan warga negara pekerja. Ia mengatakan kerusuhan Drydocks menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota Batam, keamanan dan Badan Pengusahaan Kawasan.

 

3 of 4

Pulang ke Negara Asal

Warga Palu antre naik pesawat Hercules TNI usai gempa dan tsunami.
Warga Palu antre naik pesawat Hercules TNI usai gempa dan tsunami. (Frans Padak Demon)

Akibat peristiwa itu, sebanyak 42 ekspatriat dari berbagai negara di antaranya Belanda, Myanmar, Singapura dan Malaysia diamankan di Mapoltabes Barelang karena mereka tidak bisa kembali ke tempat tinggalnya, di mess PT Drydocks. Beberapa di antara mereka ada yang meminta pulang ke Singapura.

Mereka mengaku pasrah terhadap peristiwa perusakan dan pembakaran perusahaan shiping tersebut. Sebagian besar memilih ingin segera pulang ke negaranya karena khawatir menjadi korban anarkisme sesama pekerja di perusahaan tersebut.

Ada pula yang mengaku masih menunggu kebijakan dari kedutaan negaranya yang ada di Indonesia untuk menentukan langkah mereka selanjutnya, setelah peristiwa tersebut.

"Tergantung embassy saya. Kalau disuruh pulang terpaksa dituruti," ujar Win Naing, salah satu warga Myanmar di Mapoltabes Barelang.

Hal senada juga disampaikan Salaban, WN Malaysia yang menjadi commision enggineering perusahaan itu. Ia mengaku akan segera pulang ke negara asalnya. Sebab ia khawatir dengan keselamatan jiwanya. 

Ashok Kumar, seorang WN India juga memilih pulang ke negaranya karena takut dengan kondisi perusahaan. Padahal, selama bekerja ia tak pernah mendengar atau mengalami perselisihan antara sesama pekerja.

"Kami semuanya sahabat. Ini baru pertama kali terjadi selama saya bekerja di PT Drydocks," ujar Ashok.

 

4 of 4

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓