Mendes PDTT: Infrastruktur dari Dana Desa Mampu Tingkatkan Pendapatan Petani

Oleh Cahyu pada 05 Apr 2019, 11:09 WIB
Diperbarui 05 Apr 2019, 11:09 WIB
Kementerian Desa
Perbesar
Eko Putro Sandjojo: Infrastruktur yang dibangun dari dana desa mampu peningkatan produktifitas dan mempermudah akses pertanian. (foto: Kemendes PDTT)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, mengatakan bahwa infrastruktur yang dibangun oleh dana desa berkontribusi membantu meningkatkan pendapatan petani Indonesia. Menurutnya, infrastruktur ini mampu peningkatan produktifitas dan mempermudah akses pertanian, yang berdampak pada penurunan biaya produksi hingga distribusi.

"Karena kalau tidak ada infrastruktur, setiap hari petani akan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Dengan adanya infrastruktur, dapat menurunkan biaya sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak," ujar Eko, saat menjadi keynote speaker di Konferensi Regional dalam rangka Memperkuat Ketahanan Pangan, Gizi, dan Kesejahteraan Petani Asia Tenggara di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Eko melanjutkan, Indonesia sejak 2015 mempunyai program yang memberikan dana langsung ke seluruh desa (dana desa). Menurutnya, pembangunan infrastruktur memang menjadi fokus utama penyaluran dana desa. Tidak sedikit jenis infrastruktur dari dana desa yang membantu peningkatan produksi dan akses pertanian, seperti jalan desa, jembatan, jalan pertanian, saluran irigasi, embung, drainase, dan penahan tanah.

"Pertama yang dibangun adalah untuk infrastruktur. Ada banyak infrastruktur yang dibangun untuk mendukung pertanian," ucap Eko.

Menurutnya, Indonesia juga memiliki program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dengan membuat klaster-klaster ekonomi perdesaan. Prukades melibatkan 19 kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, BUMN, dan swasta.

"Desa miskin karen mereka banyak tidak fokus, memperoduksi banyak komoditi sehingga tidak mencukupi skala ekonomi. Mengatasinya, kami punya Prukades untuk membuat klaster ekonomi," kata Eko.

Ia mengatakan, model pembangunan desa yang diterapkan Indonesia saat ini telah mampu meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat desa, dari Rp572.586 pada 2013 menjadi Rp 804.011 pada 2018.

"Angka stunting juga mengalami penurunan secara signifikan dari 37 Persen pada tahun 2013 menjadi 30 persen pada tahun 2018," ujar Eko.

Konferensi tersebut dihadiri delegasi dari Japan, Republic of Korea, Timor Leste, Cambodia, Vietnam, Indonesia, Philipines, FAO, WFP, dan IFAD.

 

 

(*)