Geger Ledakan Bom di Asrama Brimob Polda Sumut 5 April 2006

Oleh Rita Ayuningtyas pada 05 Apr 2019, 07:31 WIB
Diperbarui 05 Apr 2019, 07:31 WIB
Ilustrasi ledakan bom
Perbesar
Ilustrasi ledakan bom (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Duar! Sebuah ledakan keras mengagetkan seluruh orang yang tengah berada di Kompleks Asrama Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Jalan Wahid Hasyim, Kota Medan dan sekitarnya, 5 April 2006.

Setelah ditelusuri, ledakan itu berasal dari laboratorium forensik Gegana yang berada di sebuah garasi di Gedung Densus 88.

Ledakan mencabut lantai ruangan tersebut. Serpihan kaca pecah berserakan di segala sudut. Begitu juga dengan mobil Ford yang terparkir di situ.

Pohon mangga yang tumbuh kokoh di sebelah gedung Densus 88 ikut terkoyak. Daun-daunnya dipaksa berguguran. 

Gudang kosong di sebelah garasi pun rusak parah. Dinding ruangan berukuran 6x6 meter ini ambrol. Begitupula ruang-ruang lain yang terletak di lantai 1 Gedung Densus 88.

Ketika dirunut, Rabu 5 April 2006, 11 personel Gegana tengah berlatih merakit bom. Namun, sekitar pukul 13.30 WIB, bom yang dirakit tersebut meledak.

Petugas pun segera memasang garis polisi atau police line beberapa meter dari lokasi kejadian, sebagai batas aman. Jalan Wahid Hasyim ditutup untuk umum.

Tak lama, dua ambulance tergesa-gesa keluar markas tersebut.

Tim Laboratorium Forensik Polda Sumut lalu bergegas mencari bahan apa saja yang bisa menjadi bukti untuk mengidentifikasi ledakan.

Dua anggota Gegana yang tengah berlatih meninggal seketika yakni Brigadir Polisi Dua (Bripda) Syahrir dan Bripda Sahnan. Dua lainnya mengembuskan napas terakhir beberapa saat kemudian, yakni Bripda Ucok dan Bripda Relius Malau. Dua anggota Gegana lainnya luka berat, dan lima orang luka ringan.

Bambang Hendarso Danuri yang kala itu menjadi Kepala Kepolisian Daerah Sumut mengungkapkan, bom rakitan ini meledak karena human error.

"Ada kemungkinan human error pada personel yang melaksanakan latihan tadi sehingga terjadi ledakan," kata Bambang saat dihubungi Liputan6 Petang SCTV, 5 April 2006.

Dia pun menyatakan bom yang dirakit oleh anggota Gegana itu berdaya ledak rendah (low explosive).

2 dari 3 halaman

Keluarga Histeris

Ledakan Bom Rakitan
Perbesar
Ilustrasi Foto Bom Rakitan (iStockphoto)

Kerasnya bunyi ledakan siang itu, memancing keingintahuan warga, termasuk keluarga korban.

Tak sedikit keluarga korban yang histeris karena tak diizinkan memasuki Markas Komando Brimob. Petugas bahkan memblokade lokasi usai terjadi ledakan.

Seorang ibu yang merupakan keluarga korban juga jatuh pingsan karena tak diizinkan masuk.

Petugas jaga di pintu gerbang mati-matian berusaha menenangkan setiap keluarga korban.

Warga juga berduyun-duyun mendatangi Markas Brimob Polda Sumut untuk sekadar ingin melihat langsung lokasi ledakan.

Salah seorang penduduk mengatakan, getaran akibat ledakan dapat dirasakan hingga radius ratusan meter. Dia mengaku, atap rumahnya ikut bergetar ketika ledakan terjadi.

"Mama yang tergolek di ranjang pun bergoyang," kata seorang perempuan yang rumahnya tak jauh dari markas Brimob Polda Sumut.

Naik Pangkat

Sehari kemudian, Brimob Polri menyerahkan jenazah empat korban ke keluarga untuk dimakamkan. Kepala Kepolisian Republik Indonesia kala itu, Jenderal Pol Sutanto, menghadiahi korban dengan kenaikan pangkat satu tingkat.

"Seluruh korban tewas mendapat kenaikan pangkat satu tingkat. Kenaikan pangkat ini berdasarkan Surat Keputusan Kapolri, dengan dasar pertimbangan karena gugur dalam tugas," kata Wakil Komandan Brimob Mabes Polri yang kala itu dijabat oleh Jhony Waynal Usman.

Selain itu, keluarga korban mendapat santunan dari Polri. Sedangkan seluruh korban luka-luka hari itu dirawat di RS Gleneagles Medan. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓