Banyuwangi Siapkan Ratusan Juta Untuk Pemenang Lomba Arsitektur

Oleh stella maris pada 29 Mar 2019, 10:48 WIB
Diperbarui 29 Mar 2019, 11:17 WIB
Masjid

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyiapkan hadiah sebesar Rp115 juta. Hadiah itu diberikan untuk pemenang desain bangunan Pusat Informasi Pariwisata Geopark Nasional Banyuwangi (GNB), lokasinya berada di kaki Gunung Ijen. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menegaskan bahwa bagnunan tak hanya berdiri fungsional saja. Tapi arsitektur yang menjadi bagian integral pembangunan di Banyuwangi harus indah, ikonik, dan tek lekang oleh waktu.

"Untuk itu, pusat informasi wisata geopark yang akan dibangun ini dilombakan. Kami ingin lebih banyak arsitek yang ikut mewarnai ruang publik di Banyuwangi," kata Anas.

Selama ini Banyuwangi melibatkan arsitek tersohor untuk mengembangkan berbagai pengembangan, mulai dari bandara, taman, destinasi wisata, hotel, industri, lembaga pendidikan, hingga Puskesmas. Mereka yang terlibat antara lain Andra Matin, Yori Antar, Adi Purnomo, Budi Pradono, hingga Denny Gondo.

"Bangunan yang ikonik bisa menjadi pendorong ekonomi daerah dengan banyaknya orang yang datang berkunjung," imbuh Anas.

Pusat informasi pariwisata GNB ini nantinya difungsikan sebagai pusat informasi tentang keragaman geologi, keragaman hayati, dan budaya di sekitar situs GNB.

Banyuwangi sendiri telah ditetapkan sebagai kawasan Geopark Nasional, dengan tiga situs yang melingkupinya, yakni blue fire Gunung Ijen, Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo. Saat ini dalam proses diajukan untuk masuk jaringan geopark dunia (Global Geopark Network UNESCO).

Lokasi pusat informasi wisata itu berada di tengah area persawahan Desa Kenjo Kecamatan Glagah seluas 8.200 meter persegi. Kenjo merupakan salah satu desa di Banyuwangi yang berada tak jauh dari kaki Gunung Ijen, dan dikenal sebagai penghasil beras premium. Warga desa tersebut dikenal sebagai suku Osing, masyarakat lokal Banyuwangi

Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Penataan Ruang Banyuwangi, Mujiono, menambahkan, kriteria desain yang disayembarakan adalah bangunan yang dihasilkan harus mencerminkan integrasi antara kebutuhan masyarakat dengan kekhasan budaya daerah.

Selain menonjolkan nilai kelokalan, juga harus berorientasi masa depan, serta menerapkan konsep arsitektur hijau.

Sayembara ini dibuka untuk kalangan arsitek, yang memiliki keanggotaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pendaftaran dibuka dari 14 Maret hingga 31 Mei 2019.

"Para peserta bisa mendaftar di website www.iai-arema.com. Pada 22 Juni adalah batas pengumpulan karya, 1-13 Juli penjurian. Lalu 31 Juli pengumuman sekaligus malam apresiasinya dan penyerahan hadiah," jelas Mujiono.

Dalam sayembara ini, Pemkab Banyuwangi menggandeng dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dan IAI wilayah III Malang. Dewan juri sayembara ini Eko Prawoto, Tan Tik Lam, dan Hari Sunarko dari kalangan arsitek. Juga budayawan lokal Samsudin Adlawi. 

 

 

(*)