BSSN Ungkap Tahapan Pemilu yang Paling Rawan Serangan Siber

Oleh Nafiysul Qodar pada 28 Mar 2019, 06:06 WIB
Diperbarui 28 Mar 2019, 07:17 WIB
Djoko Setiadi, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Liputan6.com/Andina Librianty

Liputan6.com, Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memetakan potensi kerawanan pada setiap tahapan Pemilu 2019. Tahapan yang paling rawan mendapat serangan siber adalah saat pemungutan dan penghitungan suara serta penetapan hasil pemilu.

Hal itu disampaikan Kepala BSSN Djoko Setiadi saat memberikan sambutan di hadapan peserta Rakornas Bidang Kewaspadaan Nasional dalam Penyelenggaraan Pemilu Tahun 2019.

"Tahapan pemungutan dan penghitungan suara di TPS mempunyai kerawanan berupa DDoS (Distributed Denial of Service) atau bottle neck atau tergantinya layanan yang diakibatkan banyaknya jumlah permintaan layanan," ujar Djoko di Hotel Grand Paragon, Jakarta Barat, Rabu (27/3/2019).

Sementara potensi kerawanan pada tahapan penetapan hasil Pemilu, antara lain berupa bottle neck, DoS (Denial of Service) attacks, defacement, dan database hacking.

"Ancaman siber yang berpotensi menyerang KPU harus dicegah serta diminimalisasi karena serangan tersebut dapat berdampak pada timbulnya persepsi negatif pada tahap legitimasi hasil Pemilu," tuturnya.

BSSN pun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menangkal serangan siber yang dapat mengganggu jalannya Pemilu 2019. Setidaknya terdapat tiga strategi yang harus dilakukan secara simultan, yakni penguatan keamanan aplikasi pemilu, penguatan infrastruktur TI KPU, serta edukasi dan literasi terhadap pihak yang terlibat langsung pada pemilu dan masyarakat.

Selain itu, ia juga meminta kolaborasi dan kerja sama dari semua pihak untuk menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

"Dengan sinergi dan strategi pengamanan TI KPU ini maka diharapkan pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia dapat berjalan aman, kondusif, sesuai tujuan yang kita harapkan," tutur Djoko.

2 of 2

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓