Koto Gadang, Gudang Kaum Intelektual

Oleh Liputan6 pada 08 Agu 2002, 03:46 WIB
070802wajahkita.jpg
Liputan6.com, Koto Gadang: Sepintas, Koto Gadang tak jauh beda dengan desa lain di Ranah Minang. Rumah Gadang yang megah di gerbang masuk desa seakan menunjukkan eksistensi yang kuat sebuah nagari atau desa dengan ciri khas Minang yang kental. Belum lagi dari sudut alamnya yang menggambarkan kesan romantis sebuah desa, seperti sering digambarkan dalam promosi-promosi pariwisata. Daerah perbukitan yang hijau dan sejuk dengan hamparan sawah menjadi pembatas dengan nagari tetangganya.

Boleh dibilang, Koto Gadang memang menjadi gambaran sempurna sebuah desa yang indah di Sumatra Barat. Tak cuma itu, Koto Gadang juga sebuah desa bersejarah yang tak bisa dilepaskan dari sejarah orang penting Indonesia. Dari nagari di lereng Gunung Singgalang inilah lahir sejumlah tokoh nasional dan internasional. Mereka turut berperan menciptakan merah hitamnya sejarah kebangkitan sebuah bangsa. Dari nagari ini pula lahir Perdana Menteri pertama Sutan Syahrir. Belum lagi, politisi legendaris yang juga Menteri Luar Negeri pertama H. Agus Salim. Tokoh pejuang hak-hak wanita yang juga wartawan wanita pertama di republik ini, Rohana Kudus, juga lahir di sana. Beberapa orang juga pernah menjadi menteri di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Puluhan di antaranya menjadi pejabat tinggi negara di berbagai bidang. Tercatat sembilan putra Koto Gadang pernah menjadi Duta Besar RI di berbagai belahan dunia.

Koto Gadang juga melahirkan 10 jenderal dalam ketentaraan nasional. Tak terhitung lagi mereka yang menjadi pejabat lokal, pemimpin di berbagai perusahaan terkenal, intelektual, dan seniman. Sebut saja, pelukis Usman Effendi yang turut mendirikan Taman Ismail Marzuki. Puluhan arsitek, ahli hukum, dokter, ahli-ahli kemasyarakatan juga lahir dari desa yang terletak di ujung jalan dari arah Kabupaten Agam ini.

Nagari seluas 268 hektare yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, ini memiliki tradisi intelektualitas yang kuat. Sangat tepat jika kawasan ini disebut sebagai gudang kaum intelektual. Menurut Yasril Gelar Mangkuto Basarin, tokoh masyarakat, warga Minangkabau rata-rata berkeinginan besar. Jika mereka nggak jadi &quotorang&quot, paling rendah menjadi pegawai. "Yang dikejarnya jadi pegawai saja. Dia itu umumnya pegawai. Jadi pegawai itulah yang menjadi tujuan hidupnya," kata Yasril Gelar.

Bersekolah dan mengenal huruf telah mencuat sejak awal abad 20. Di sebuah gedung yang kini telah dirombak menjadi sekolah madrasah, Agus Salim dan Sutan Syahrir menempuh pendidikan. Awalnya, sejarah pendidikan di Koto Gadang mendapat cibiran dari para tokoh pejuang anti-Belanda di Tanah Minang. Maklum, suasana di Ranah Minang pada awal abad 20 masih diliputi dengan kebencian masyarakat terhadap Belanda akibat kekalahan dalam Perang Padri. Dalam suasana seperti itu sikap kooperatif keluarga para tokoh dengan pemerintah Belanda mengundang kontroversi. Namun, ternyata sikap ramah itu tak lain sebuah strategi untuk berjuang dengan cara lain. Tokoh masyarakat Koto Gadang, Ibu Unan menuturkan, kedekatan para tokoh masyarakat Koto Gadang dengan Belanda membuat pemerintah kolonial akhirnya memberi izin pendirian Kinder Julies Vereneging, sebuah sekolah persiapan untuk memasuki sekolah Belanda.

Unan menyebutkan, kurikulum utama sekolah itu yakni mengajarkan bahasa Belanda. Tak lama kemudian sekolah persiapan ini menjadi sebuah sekolah resmi bernama Studenfond, sekolah yang menjadi cikal bakal lahirnya para intelektual dari Koto Gadang. Sejak Studenfond itulah, intelektualitas para pemuda setempat pun berkembang hingga dapat menempuh pendidikan di Belanda, belajar kedokteran di Batavia atau sekolah teknik di Bandung, Jawa Barat.

Sejarah pendidikan di Koto Gadang bukan sekadar dominasi kaum lelaki. Yayasan Amay Setia, misalnya, menjadi bukti sejarah kaum ibu turut berjuang untuk kemajuan desa. Yayasan ini didirikan 1911 oleh Rohana Kudus yang juga kakak kandung Sutan Syahrir. Melalui kepemimpinannya, para ibu berkumpul untuk mengembangkan berbagai kerajinan di desa agar bisa dipasarkan ke daerah luar. Mulai dari tenun sulam dan bordir serta kerajinan perak yang hingga kini masih dikenal luas sebagai produk-produk kerajinan berkualitas tinggi di seantero Ranah Minang. "Atas dukungan yayasan ini pula kerajinan tangan di Koto Gadang ikut berkembang pesat," kata Unan bernostalgia.

Sejarah gemilang di masa silam membuat Koto Gadang sempat menjadi sebuah desa terkenal. Namun, kini sisa-sisa kegemilangan itu seakan tinggal kenangan. Memasuki desa berjuluk "Nagari Seribu Dokter" ini seperti memasuki sebuah desa mati. Betapa tidak, suasana desa terasa sepi dan lengang. Rumah-rumah tua yang megah, namun terlihat tak berpenghuni. Koto Gadang sekarang memang telah ditinggalkan para penduduk asli. Kapasitas intelektual para penghuni yang telah melampaui batas kemampuan daya tampung desa, membuat nagari ini hanya menjadi tempat para pensiunan atau yang ingin menghabiskan akhir pekan di kampung. Rumah-rumah tua yang megah hanya dihuni para penjaga. Sementara sang pemilik rumah, tinggal di kota besar yang dianggap bisa menghargai mereka lebih tinggi. "Dulu saya waktu kecil, orang lain pergi dari sini untuk mencari kehidupan," kata Yasril Gelar.

Namun, masih ada yang tak berubah di sana: kerajinan perak. Di sudut-sudut desa, para pengerajin perak masih tetap setia dengan profesi tradisonalnya. Satu di antaranya Syafril. Lelaki keturunan asli Koto Gadang ini masih bertahan karena kesetiaannya pada profesi yang telah diwariskan para leluhur. Syafril menuturkan, dulu, para pengerajin perak di desa ini membuat kerajinan perak untuk perhiasan dan peralatan rumah tangga. Tapi, karena banyak pelancong yang datang membuat para pengerajin mengembangkan motif-motif kerajinan lebih beraneka ragam.

Sebagai penduduk asli, tradisi intelektual Koto Gadang masih berpengaruh dalam Keluarga Yasril. Dari hasil kerajinan ini juga Yasril berharap anak-anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin. Sang istri pun diminta menyumbangkan tenaga sebagai pengajar di sekolah madrasah desa. Kegemilangan Koto Gadang di masa silam, memang tinggal menjadi sebuah sejarah. Tapi, sejarah itu akan menjadi bekal bagi anak-anak desa untuk menunjukkan keberadaan mereka sebagai manusia yang berkualitas. Kelak, dari desa ini mungkin akan muncul Agus Salim atau Sutan Syahrir baru. Semoga.(DEN/Tim Wajah Kita)