Indonesia-Singapura Dirikan Sekolah Coding Pertama di Tanah Air

Oleh Gilar Ramdhani pada 13 Mar 2019, 15:06 WIB
Menkominfo Rudiantara dan Dubes RI untuk Singapura Ngurah Swajaya menyaksikan penandatangan 3 MOU kerja sama RI-Singapura di bidang ekonomi digital. ( Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dan Dubes RI untuk Singapura Ngurah Swajaya menyaksikan penandatangan tiga MoU kerja sama RI-Singapura di bidang ekonomi digital, di tengah-tengah penyelenggaraan Regional Investment Forum (RIF) di ICE BSD City, Selasa (12/3/2019).

Ketiga MoU tersebut adalah, MoU untuk mendirikan WeKode Coding School antara PT RISING Innovation Ventures dan SGFintech Pte Ltd, MOU untuk mendirikan co-working space antara PT. WeKode Techno-Preneur Hub dan SGFintech Pte. Ltd, dan MOU untuk penyediaan talenta digital antara PT RISING Innovation Ventures dan Glexindo.

“Kerja sama ini adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu, guna mengatasi kurangnya talenta di bidang ekonomi digital di Indonesia, kami menyambut baik inisitatif PT RISING Innovation Ventures dan SGFintech Pte Ltd untuk mendirikan coding school di Indonesia,” kata Menteri Komuninasi dan Informatika, Rudiantara, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/3/2019).

WeKode akan menjadi sekolah coding RI-Singapura pertama yang rencananya akan didirikan di Indonesia. Jocelyn Luhur, selaku CEO PT RISING Innovation Ventures, menyatakan bahwa minat kaum milenial di bidang coding ini sangat tinggi, begitu juga permintaan pasar bagi coder.

Selain pendirian coding school, WeKode sekali lagi bekerja sama dengan SGFintech Pte Ltd, untuk mendirikan co-working space yang di disain khusus untuk menjadi inkubator-inkubator technopreurs bagi usaha rintisan (startups) Indonesia. Presiden Direktur SGFintech Pte Ltd, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Fintech Singapura, Hock Lai, menyatakan bahwa coding school harus didukung dengan pembangunan co-working space guna terciptanya sebuah ekosistem yang memadai.“Untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi digital, kita harus menciptakan talenta yang handal dan ekosistem yang akan mendukung terciptanya unicorn-unicorn baru di Indonesia”, ucapnya.

Kerja sama antara pelaku usaha tersebut difasilitasi oleh KBRI Singapura, yang pada kesempatan yang sama melakukan misi bisnis ekonomi digital dengan membawa 15 venture capitals asal Singapura ke Indonesia. Dubes RI untuk Singapura, Ngurah Swajaya menekankan pentingnya perkembangan fintech danblockchain serta tersedianya sumber daya manusia yang handal dalam bidang coding untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital di Indonesia yang diperkirakan bernilai US$ 130 milyar tahun 2020.

“Sebagai negara yang memiliki valuasi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan valuasi sekitar US$ 130 milyar tahun 2020, yang diikuti Thailand USD 43 miliar, Indoneaia dinilai perlu untuk memanfaatkan peluang ini,” ucap Dubes Ngurah.

 

(*)