Survei CPCS: PSI Partai Baru Paling Gencar Sosialisasi di Musim Kampanye

Oleh Liputan6.com pada 06 Mar 2019, 06:14 WIB
Diperbarui 08 Mar 2019, 06:13 WIB
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie

Liputan6.com, Jakarta - Momen pemilu pada April 2019 mendatang tidak hanya memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), tetapi juga memilih wakil rakyat. Pemilihan anggota legislatif (Pileg) 2019 seolah terkalahkan oleh keriuhan Pilpres.

Dari temuan survei yang dilakukan oleh Center for Political Communication Studies (CPCS), elektabilitas PDIP dan Gerindra masih mengungguli semua partai politik (parpol). Meskipun turun dari survei sebelumnya pada bulan Januari, PDIP tetap meraih elektabilitas tertinggi sebesar 23,0 persen. Gerindra naik tipis menjadi 16,1 persen.

"Elektabilitas parpol lain cenderung stabil, hanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengalami kenaikan signifikan, mencapai 4,2 persen,” ungkap Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta S.K. dalam press release di Jakarta, Selasa, 5 Maret 2019. 

Menurut Okta, terkereknya elektabilitas PSI didukung oleh sosialisasi yang cukup masif selama musim kampanye. Sebagai parpol baru dengan segmen pasar milenial, PSI, menurut Okta paling banyak menggunakan media sosial sebagai sarana sosialisasi.

Berdasarkan hasil presentase, sosialiasi yang dilakukan PSI yaitu sebesar 34,0 persen, mengunggguli  Gerindra yang mendapat presentase sebesar 32,1 persen.

"Parpol besar lain turut efektif menggunakan media massa berkat pemberitaan yang cukup masif, khususnya terkait dengan Pilpres,” jelas Okta.

Misalnya Gerindra (29,5 persen), PDIP (24,3 persen), dan Demokrat (22,0 persen). Selain itu, pemasangan alat peraga kampanye (APK) tidak terhindarkan menjadi cara paling efektif dilakukan oleh parpol lama.

"Demokrat tercatat paling banyak menggunakan APK sebagai medium sosialisasi (32,2 persen),” papar Okta.

Hal serupa dilakukan oleh hampir semua parpol besar dan menengah. Pemasangan APK juga rata-rata dikombinasikan dengan sosialisasi oleh kader parpol atau relawan dan pertemuan tatap muka yang melibatkan para caleg.

Menurut Okta, PSI cukup efektif menggunakan beragam medium sosialisasi selain media sosial. Meskipun tidak memiliki media massa dan bukan parpol utama pengusung capres-cawapres, PSI kerap tampil dengan isu-isu kontroversial.

"Yang tidak kalah menarik adalah kerja-kerja sosialisasi oleh relawan dan pertemuan tatap muka,” ungkap Okta.

 

 

2 dari 2 halaman

Pengaruh Figur Partai

Faktor lain yang dinilai Okta cukup berpengaruh adalah pertimbangan memilih partai politik. Sosok figur atau tokoh partai masih menjadi acuan tertinggi (28,6 persen), disusul rekam jejak partai (22,3 persen), program atau gagasan yang ditawarkan (13,1 persen), kedekatan personal dengan kader atau pengurus (10,6 persen), dan faktor lainnya (25,5 persen).

"Kemunculan Grace Natalie sebagai ketua umum PSI, dengan pidato dan isu-isu yang memancing perdebatan publik, tidak kalah dengan tokoh-tokoh parpol besar,” kata Okta.

KPU menetapkan jadwal resmi kampanye terbuka melalui iklan dan pertemuan terbuka mulai pertengahan Maret. Okta menyarankan agar parpol-parpol efektif menggunakan kesempatan tersebut jelang Pileg sebulan lagi.

"Penyelenggara pemilu pun diharapkan dapat memberikan ruang yang sama kepada semua parpol dalam hal iklan di media massa,” pungkas Okta.

Survei CPCS dilakukan pada 1-10 Februari 2019, dengan jumlah responden 1200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Metode survei dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:  

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait