Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Segarkan Ingatan Sejarah Masyarakat

Oleh Cahyu pada 05 Mar 2019, 11:06 WIB
Diperbarui 05 Mar 2019, 11:06 WIB
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid
Perbesar
Sosialisasi 4 Pilar MPR: Mencintai Indonesia, mengenal sejarahnya.

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid, menyampaikan kepada warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, bahwa sebagian materi Sosialisasi Empat Pilar MPR berisi sejarah bangsa Indonesia. Karena itu, mengikuti Sosialisasi Empat Pilar bisa menyegarkan ingatan masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa sekaligus mempertebal rasa cinta terhadap bangsa Indonesia.

Ia mengatakan, MPR sudah melakukan kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat untuk melakukan sosialisasi. Mulai dari masyarakat di lingkungan RT, RW, sekolah, organisasi masyarakat (ormas), hingga organisasi profesi dan kelompok masyarakat yang lain.

"Kita tidak mungkin mencintai Indonesia kalau kita tidak mengenalnya dengan baik. Inilah salah satu fungsi kegiatan sosialisasi, mengenalkan sejarah bangsa kepada masyarakat, agar timbul perasaan cinta yang makin besar kepada bangsa dan negara," ujar Hidayat, saat memberikan sambutan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar hasil kerja sama MPR dengan Yayasan Indonesia Sehat Sejahtera, di aula Masjid An Nizhom, Kompleks Perkantoran Rawa Kerbau, Jl. Rawa Sari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (4/3/2019).

Hidayat melanjutkan, sejak dulu banyak ulama yang ikut berjuang mempertahankan NKRI. Salah satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan terjadi ketika sila pertama Pancasila diprotes oleh perwakilan Indonesia Timur yang mengancam akan keluar dari NKRI jika Piagam Jakarta tidak diubah.

"Mendapat laporan seperti itu, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Tengku Muhammad Hasan segera berembuk. Hasilnya, mereka mau menghapus tujuh kata pada piagam Jakarta, dan menggantinya menjadi bunyi Pancasila seperti yang kita temui sekarang. Semua itu dilakukan demi menjaga keutuhan NKRI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945," ucapnya.

Kisah-kisah seperti itu, kata Hidayat, harus disampaikan dan dimengerti oleh generasi muda agar menimbulkan nasionalisme dan rasa cinta terhadap bangsa dan negara

Berdasarkan sejarahnya, imbuhnya, Sosialisasi Empat Pilar pertama kali dilaksanakan pada 2004. Waktu itu MPR menggunakan istilah sosialisasi keputusan MPR. Pada 2009, istilah itu berubah menjadi sosialisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, istilah tersebut diyudicial reveuw, sehingga sejak 2014 istilah yang dipakai menjadi Sosialisasi Empat Pilar MPR.

 

 

(*)