Kisah Jelajah Hidup Ani Yudhoyono

Oleh Liputan6.com pada 18 Feb 2019, 16:08 WIB
SBY dan Ani Yudhoyono

Liputan6.com, Jakarta - Sebelum menjadi Ibu Negara, Ani Yudhoyono merupakan istri tentara saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih aktif di TNI Angkatan Darat (AD). Sejak mendampingi SBY sebagai prajurit, Ani semakin terbiasa dengan kehidupannya. Ia senantiasa mendukung setiap kegiatan sang suami.

Dalam menjalankan kehidupan rumah tangga, mereka berbagi tugas, terutama dalam mendidik anak. SBY berperan mengajari soal keilmuan, sedangkan Ani mendidik dan membentuk perilaku anak-anaknya.

Seperti dikutip dari buku 'Kepak Sayap Putri Prajurit', karya Alberthiene Endah, Senin (18/2/2019), Ani Yudhoyono merasa menjadi istri tentara telah memberinya kesempatan untuk menjadi perempuan berdaya. Sebab akan selalu ada hal dan tantangan baru yang kian bertambah seiring dengan tugas suami yang meningkat.

SBY merupakan orang termuda di antara rekannya saat mengikuti Kursus Komandan Batalyon. Setelah lulus, SBY ditugaskan sebagai komandan Batalyon. Tak disangka ternyata ia ditetapkan untuk memimpin Yonif 744, Batalyon Pemukul Kodam Udayana yang ditugaskan di Timor Timur.

Setelah mendapat tugas, Ani Yudhoyono sekeluarga segera pindah ke Timor Timur. Perjalanan ke Timor Timur tertunda, sebab SBY harus menghadap Kepala Staff Kodam Udayana, Brigjen Wismoyo Arismunandar terlebih dahulu di Denpasar.

Pertemuan yang seharusnya berlangsung satu hari itu akhirnya diperpanjang. Wismono meragukan SBY sebagai Komandan Batalyon, ia ingin melihat seberapa besar kemampuan SBY. Sehingga SBY diminta tinggal dulu di Bali untuk menjadi pelatih para bintara di Kodam Udayana.

Setelah gelisah menunggu keputusan atasan di Bali, akhirnya SBY dan keluarga segera terbang ke Dili. Sesampainya di bandara, Ani yang sudah bersiap memberikan senyum terbaik, tiba-tiba terhenti.

Ani melihat seseorang menyerahkan sejumlah perangkat prajurit pada suami. Senjata, ransel dengan segenap isinya dan helm baja. SBY pun segera mengenakan perangkat itu kemudian pamitan kepada Ani.

Dengan beban seberat 25 kilogram dipundaknya, SBY diharuskan berlari sejauh 15 Kilometer menuju markas batalyon di Taibesi, Dili, menghadap Komandan Korem.

"Sambil terus menggandeng Agus dan Ibas, kupalingkan wajahku agar dua anakku tidak melihat ibu mereka menangis. Ini benar-benar kecamuk batin yang cukup berat bagiku," ujar Ani.

Sambil menguatkan hatinya, Ani kemudian diantar menuju mess tempat tinggalnya. Selama sekitar dua setengah tahun di Dili, Ani harus kembali menyesuaikan situasi di sana.

Seorang istri prajurit yang tengah ditinggal suami bertugas di tengah hutan itu terkejut dengan situasi di Timor Timur. Harga bahan pangan saat itu sangat mahal. Ditambah lagi dengan kesulitan air bersih.

Di sana memang ada PAM, tapi airnya coklat dan mengandung butiran tanah. Sehingga mengharuskannya untuk menampung air hujan. Kualitas air hujan di sana bahkan lebih baik. Ani menampung air itu digunakan untuk minum.

Secara psikis anak-anak akan merasa terganggu saat menenggak minuman. Tetapi Ani mengakalinya dengan menambahkan gula, daun suji, dan daun pandan saat merebusnya. sebingga air berwarna kehijauan, wangi dan lebih enak.

Selama sekitar dua setengah tahun tinggal di Timor-timur dengan segala kisahnya, Ani Yudhoyono sekeluarga akhirnya kembali ke Jakarta.

 

MRT Segera Terintegrasi dengan Transjakarta
2 of 3

Wafatnya Sang Ayah

Buku Ani Yudhoyono, Kepak Sayap Putri Prajurit. (Liputan6.com/Raden Trimutia Hatta)
Buku Ani Yudhoyono, Kepak Sayap Putri Prajurit. (Liputan6.com/Raden Trimutia Hatta)

Sepulangnya Ani ke Jakarta, ia kembali tinggal di Cijantung. Sementara itu SBY melanjutkan sekolah di Seskoad. Kesempatan bersekolah di sana mengharuskan SBY tinggal di Bandung tanpa istri dan anak.

Ani tidak keberatan meski tinggal terpisah dari sang suami. Sebab di Cijantung, ia bersama anak-anaknya masih bisa mengunjungi orangtua.

Sang ayah, Letnan Jenderal (Purn) TNI Sarwo Edhie Wibowo yang kala itu telah menyelesaikan tugas sebagai duta besar RI untuk Korea Selatan, kembali ditugaskan menjadi Irjen Departemen Luar negeri. Sekitar satu tahun menjabat, ayahnya kembali ditunjuk untuk menjadi Kepala Badan Pembinaan pelatihan dan Pendidikan Pedoman Pengamalan dan penghayatan Pancasila (BP7).

Di tahun 80-an, kehidupan keluarga Ani berangsur tenang. Termasuk saudara-saudarinya yang semakin matang menjalani kehidupan masing-masing.

Sementara itu selama tiga dekade, sang ibu tetap betah tinggal di Cijantung. Meski berkesempatan tinggal di tempat yang lebih baik tetapi, orangtua Ani enggan pergi dari sana. Sebab Cijantung bukan sekadar lokasi tempat tinggal, tapi poros energi.

Memasuki 1989 kondisi kesehatan ayahnya menurun. Waktu itu sepulang menghadiri acara di Lembang, ayahnya merasa kesakitan hingga tersandar lemas di jok mobil. Sarwo Edhie dilarikan ke ICU MMC, dan ternyata terkena stroke cukup parah.

Keluarga Ani kian bergiliran menjaga ayahnya di RS. Sempat dibawa ke Washington DC, Amerika Serikat, namun kondisinya tak menunjukan tanda membaik. Akhirnya sang ayah kembali dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

Ani memang terbiasa ditinggal sang ayah ataupun suaminya untuk bertugas, namun hari itu menjadi berbeda. Dini hari pada 9 November 1989, Ani telah ditinggal sang ayah selama-lamanya. Sarwo Edhie Wibowo menghembuskan nafas terakhir. Keesokan harinya, tepat saat hari pahlawan tanggal 10 November, berlangsung prosesi pemakaman dengan lancar.

Sepulangnya sang ayah kepada Yang Kuasa, Ani mendapat hikmah dari semua yang telah ia jalani semasa hidup. Terutama pelajaran dari sang ayah yang hingga kini masih tersimpan dalam dirinya.

"Setiap dari kita akan berpulang menyatu dengan tanah. Dan saat itu datang, nilai-nilai yang ditinggalkan manusia sepanjang hidupnyalah yang akan mengharumkan pengistirahatannya terakhir," ungkap Ani Yudhoyono.

 

Reporter: Dewi Larasati

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait